drh. Chaidir, MM | Perikemanusiaan Perikebinatangan | ADA tiga jenis binatang yang sering disebut-sebut dan dianalogkan dengan kelakuan buruk manusia.  Sifat-sifat binatang  tersebut  adalah sifat rakus seperti babi, licik seperti monyet dan buas seperti buaya. Tiga jenis binatang tersebut jangan ditiru sifatnya, begitu acapkali dinasihatkan orang tua-
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Perikemanusiaan Perikebinatangan

Oleh : drh.chaidir, MM

ADA tiga jenis binatang yang sering disebut-sebut dan dianalogkan dengan kelakuan buruk manusia. Sifat-sifat binatang tersebut adalah sifat rakus seperti babi, licik seperti monyet dan buas seperti buaya. Tiga jenis binatang tersebut jangan ditiru sifatnya, begitu acapkali dinasihatkan orang tua-tua. Atau dengan kata lain, bila kelakuan kita tak ubahnya seperti binatang-binatang tersebut, maka apalah bedanya kita dengan mereka. Padahal manusia itu adalah homo sapiens atau makhluk si pemikir. Manusia berakal. Binatang tidak berakal, mereka hanya memiliki instink.

Babi adalah binatang yang dianggap rakus, kotor dan jorok. Kerakusannya tidak tertandingi oleh hewan lain. Jangankan kotoran manusia, kotorannya sendiri juga dimakan. Babi juga suka memakan bangkai teman-temannya. Babi sangat suka berada di tempat yang basah dan kotor. Untuk memuaskan sifat rakusnya, bila tidak ada lagi yang dimakan, ia muntahkan isi perutnya, lalu dimakan kembali. Babi kadang mengencingi pakannya terlebih dahulu sebelum dimakan. Dasar Babi.

Menurut penelitian, DNA babi mirip dengan manusia (nah lo, rasain...). DNA (deoxyribonucleic acid), adalah asam deoksiribonukleat, biomolekul yang umumnya terletak di dalam inti sel setiap makhluk hidup. DNA adalah seperti gambaran cetak biru setiap sel makhluk hidup, untuk mengidentifikasi beda yang satu dengan lainnya. Tidak ada cetak biru yang sama antara satu dengan lainnya, tetapi bisa mirip. Nah, kalau kalau hasil penelitian itu sahih, DNA babi mirip dengan DNA manusia, bahaya kan? Berarti sifat buruk babi bisa menular ke manusia. Wuuiih…

Tapi babi tak mirip manusia (kerakusannya yang mungkin bisa mirip, tinggal stadium kerakusannya saja yang beda). Binatang yang bentuk dan rupanya mirip dengan manusia adalah monyet. Sehingga ada yang bergurau menyebut, monyet itu adalah manusia yang berbulu atau manusia itu adalah monyet yang tak berbulu. Ini jelas sebuah premis sembarangan, pelecehan dan ngawur (tapi setelah dipikir-pikir ada benarnya juga…he..he..he). Dalam hal sifat licik dan sifat suka menipu, misalnya, kedua makhluk yang serupa tapi tak sama ini, juga tak lagi begitu jelas siapa yang meniru siapa. Manusia meniru kelicikan monyet ataukah monyet yang meniru kelicikan manusia. Dalam hal kecerdasan untuk melakukan tipu-menipu juga demikian, monyet meniru manusiakah atau manusia meniru monyet. Sama seperti manusia, monyet juga mampu memecahkan masalah yang ruwet-ruwet dengan gampang dan membuat masalah gampang menjadi ruwet. Mirip dengan manusia, monyet juga sering terkena "superiority complex", alias terlalu mengagungkan diri sendiri. Monyet bisa menjadi makhluk yang egois, angkuh, dan sombong. Serupa dengan manusia… Ahaiiii….

Yang namanya buaya, jelas tak mirip dengan manusia. Tapi kebuasan kedua makhluk ini sering dianalogkan. Bahkan pria hidung belang (asli manusia), tapi disebut buaya darat. Ungkapan ejekan, mana ada buaya yang menolak bangkai, juga sering dihujatkan kepada manusia. Artinya, manusia juga bisa buas seperti buaya. Bahkan sebuah teka-teki gokil, menasbihkan analogi buaya dan manusia: "Apa sebab laki-laki tidak kena penyakit anjing gila?" Jawabannya: karena laki-laki adalah buaya. Alamaaaak…..

Tanggal 15 Oktober 2013 ini, umat Islam merayakan Hari raya Idul Adha. Dan disunnahkan menyembelih hewan kurban. Salah satu nilai yang terkandung adalah membuang sifat-sifat kebinatangan dalam diri manusia, tetapi bukan menghilangkan nilai perikebinatangan. Sebab perikebinatangan analoginya adalah perikemanusiaan. Perikemanusiaan yang adil dan beradab mempunyai makna menimbang sama berat, menyalahkan yang salah dan membenarkan yang benar. Mengembalikan hak kepada yang empunya, dan tidak berlaku zalim atau aniaya. Perikebinatangan? Binatang memang tidak berakal budi seperti manusia, tapi binatang juga punya hak untuk diperlakukan tidak zalim dan tidak aniaya.

fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 523 kali
sejak tanggal 14-10-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat