drh. Chaidir, MM | Musang dan  Serigala | SETAHUN  terakhir  ini, musang dan serigala sering menjadi isu hangat di jejaring media sosial seperti Facebook dan Twitter, juga BBM, terutama semenjak beberapa petinggi  dan politisi negeri terperangkap dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK dan tak mampu melepaskan diri. Sebagian lainnya ditetapk
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Musang dan Serigala

Oleh : drh.chaidir, MM

SETAHUN terakhir ini, musang dan serigala sering menjadi isu hangat di jejaring media sosial seperti Facebook dan Twitter, juga BBM, terutama semenjak beberapa petinggi dan politisi negeri terperangkap dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK dan tak mampu melepaskan diri. Sebagian lainnya ditetapkan pula sebagai tersangka, calon tersangka, atau bakal calon tersangka. Beberapa diantaranya termasuk pula kategori tersangka tak disangka-sangka.

Kedua makhluk - musang dan serigala - tersebut merasa heran, kenapa kesalahan selalu ditimpakan kepada mereka, dengan kata lain kenapa selalu mereka yang dijadikan kambing hitam? Adakah dosa keturunan yang mereka lakukan sengaja atau tidak disengaja, langsung atau tidak langsung, dengan rupa atau dalih apapun, sehingga mereka harus disebut kambing hitam? Hujatan terdengar talu bertalu, mereka yang tertangkap tangan itu adalah musang berbulu ayam. Ada juga yang menyebut mereka sebagai serigala berbulu domba. Artinya, mereka yang tertangkap OTT oleh KPK tersebut adalah musang yang melakukan penyamaran berbulu ayam, atau mereka itu adalah serigala yang bertopeng kepala domba. Akibat penyamaran tersebut musang dengan mudah menangkap ayam sebagai mangsanya dan serigala pula yang kelihatan bodoh dan penurut (karena berbulu domba) dengan mudah menangkap domba.

Ayam tak menyangka diantara teman-temannya ternyata ada predator. Domba juga tidak mengira diantara kerumunan mereka yang semuanya terlihat seperti domba ternyata juga ada predator yang setiap saat siap menerkam. Ayam dan domba tertipu. Mereka dikelabui oleh musuh dalam selimut. Bagi ayam dan domba, mereka agaknya bisa menyelamatkan diri bila berhadapan dengan musang berbulu musang atau serigala berkepala serigala. Mereka tentu bisa kabur karena musuh jelas kelihatan, tetapi menghadapi penyamaran?

"Aku tak ada urusan dengan Rubi, aku mau jadi serigala saja. Rubi bukan bangsa kami." Teriak sang serigala ketika banyak pihak yang menyebut Rubi Rubiandini sebagai serigala yang berbulu domba.

"Aku juga tak ada masalah pribadi dengan Akil. Sekali musang tetap musang, Sama sekali kami tak pernah menyamar berbulu ayam." Musang tak kalah semangat. "Sekarang kami disebut pula sebagai kambing hitam."

Tapi nasi sudah terlanjur jadi bubur. Entah siapa orang pertama yang menciptakan kiasan diskriminatif itu. Pencitraan musang saja sudah memberikan gambaran yang kurang bagus, dan tidak nyaman karena sering memangsa ayam penduduk di malam hari, ketika sang pemilik sedang terlelap dalam mimpinya. Apatah lagi kemudian direkayasa pula ada musang berbulu ayam.

Manusia punya imajinasi. Alangkah berbahayanya bagi sang ayam jika makhluk aneh, musang berbulu ayam itu memang sungguh-sungguh ada. Pencitraan yang tidak menyenangkan juga disandangkan pada serigala. Satwa ini menakutkan karena sangat buas mengejar mangsanya. Bayangkanlah bila serigala dengan wajah seperti tak berdosa dan berpura-pura baik berada di tengah kerumunan domba, satwa yang berdaging empuk dan tidak memiliki sistem pengamanan diri. Serigala bisa dengan licik setiap saat menggerogoti dari dalam kerumunan domba sesuka hatinya.

Protes musang dan serigala yang merasa dirugikan dengan peribahasa yang sudah lama ada, tak akan ada pihak yang mendengarkan atau mau menerimanya. Lagipula, mau mengadu kemana? Masalah tersebut tidak pula bisa dilaporkan kepada MK untuk uji materi. Sebab, di samping keberatan musang dan serigala tersebut bukan sebuah pelanggaran konstitusi, MK pula sedang diguncang badai. Meleset.


fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 1751 kali
sejak tanggal 08-10-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat