drh. Chaidir, MM | Kerbau dan Burung Jalak | TAK terbantahkan, persaudaraan adalah salah satu nilai asasi Idul Fitri. Saling berjabat tangan, saling meminta maaf satu sama lain atas kesalahan yang telah diperbuat, sengaja atau tidak disengaja. Maklumlah manusia tak pernah luput dari salah dan khilaf. Tak ada gading yang tak retak, tak ada kayu
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Kerbau dan Burung Jalak

Oleh : drh.chaidir, MM

TAK terbantahkan, persaudaraan adalah salah satu nilai asasi Idul Fitri. Saling berjabat tangan, saling meminta maaf satu sama lain atas kesalahan yang telah diperbuat, sengaja atau tidak disengaja. Maklumlah manusia tak pernah luput dari salah dan khilaf. Tak ada gading yang tak retak, tak ada kayu yang tak berbongkol. Salah satu kesempurnaan manusia terletak pada ketidaksempurnaannya yang sering alpa dalam menjaga hati, lidah dan tindak-tanduknya.

Tapi persaudaraan, mudah diucapkan, tak mudah untuk dilaksanakan. Jangankan persaudaraan dalam arti luas hubungan baik antar sesama umat, hubungan silaturrahim sesama saudara kandung pun adakalanya putus karena nafsu angkara murka yang bersimaharajalela. Pembunuhan pertama dalam sejarah umat yang dilakukan oleh anak Nabi Adam AS, Qabil terhadap adik kandungnya Habil adalah contoh yang tak terbantahkan sampai dunia kiamat. Ribuan tahun setelah tragedi tersebut, abad berganti abad, cacat bawaan manusia itu tak bisa sembuh dan agaknya tak akan tersembuhkan. Berbagai kasus pembunuhan saudara kandung terlalu menyedihkan untuk diurai satu persatu.

Namun ada kisah legendaris tentang semangat persaudaraan seperti antara anak orang kaya Francesco dari Assisi Italia dengan para pengemis, atau kisah nyata persaudaraan sejati Conner dan Cayden Long. Sang adik, Cayden yang terlahir cacat tak bisa berjalan dan bicara, dengan tulus ikhlas dan kesetiaan luar biasa dibawa oleh sang abang Conner kemana-mana, digendong dalam berbagai perlombaan dan memenangkannya. Conner adalah sosok kakak yang menyayangi adiknya. Ia tak merasa malu pada cacat adiknya. Ikatan persaudaraan ini mengagumkan banyak orang di dunia dan menjadikan mereka cover Sports Illustrated Kids SpotrsKids 2012 (sumber www.vemale.com).

Kisah persahabatan antara anjing yang diberi nama momo oleh pemiliknya di Jepang dan burung kecil yang diberi nama suzume adalah sebuah kisah persaudaraan yang patut diteladani. Momo mendadak menemukan seekor burung kecil yang sedang terluka di pekarangan tuannya. Pemilik anjing semula waswas momo akan mencederai suzume. Ternyata tidak. Momo justru merawat suzume dengan cara menjilati suzume. Setelah burung tersebut sembuh, mereka menjadi bersahabat.

Semangat persaudaraan dalam arti luas sesungguhnya adalah semangat saling tolong menolong, saling menguntungkan, dan saling membutuhkan. Semangat ini justru banyak dipertontonkan oleh binatang yang berlainan jenis kepada manusia. Pola interaksi tersebut dikenal sebagai simbiosis mutualisme. Salah satu contoh adalah hubungan antara kerbau dengan burung jalak. Kerbau di sawah-sawah atau yang sedang merumput di lapangan, biasanya dihinggapi oleh burung jalak. Si jalak mematuk-matuk kulit si kerbau. Sang kerbau sama sekali tidak terganggu, sebab burung jalak mematuki kutu-kutu, larva dan parasit lain yang menempel pada kulitnya. Dengan demikian, keduanya diuntungkan. Kerbau bersih dari parasit, jalak dapat makanan.

Buaya dan Burung Plover juga demikian. Buaya merupakan predator ganas, namun tidak kepada burung plover. Walau mulutnya menganga dan burung tersebut hinggap, buaya tidak akan memakannya melainkan membiarkan burung tersebut memakan kotoran-kotoran pada giginya yang berfungsi untuk mencegah infeksi. Burung plover juga diuntungkan karena mendapat makanan.

Tanda-tanda alam, ketentuan-ketentuan alam, perilaku binatang, semuanya bisa diambil pelajaran oleh manusia yang berakal budi. A.A. Navis, seorang pujangga yang berasal dari ranah Minang, benar ketika mengingatkan kita, alam terkembang jadi guru. Maka bergurulah dan bersahabatlah dengan alam. Acungkan tangan meminta maaf kepada alam, supaya alam memaafkan segala kesalahan kita yang sering berlaku zolim, mumpung suasana Idul Fitri. Maaf lahir batin.

fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 2073 kali
sejak tanggal 13-08-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat