drh. Chaidir, MM | Cinta Mimi dan Mintuno | PEMBACA pengagum kisah cinta abadi sepanjang masa pasti ingat kisah cinta terlarang Romeo dan Juliet karya pujangga William Shakespeare. Dua anak manusia berlainan jenis dari suku yang bermusuhan itu saling jatuh cinta dan tak terpisahkan sampai maut merenggut nyawa keduanya. Atau kisah cinta pengua
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Cinta Mimi dan Mintuno

Oleh : drh.chaidir, MM

PEMBACA pengagum kisah cinta abadi sepanjang masa pasti ingat kisah cinta terlarang Romeo dan Juliet karya pujangga William Shakespeare. Dua anak manusia berlainan jenis dari suku yang bermusuhan itu saling jatuh cinta dan tak terpisahkan sampai maut merenggut nyawa keduanya. Atau kisah cinta penguasa Mesir, Cleopatra yang saling jatuh cinta dengan penguasa Romawi Mark Antony pada pandangan pertama. Siapa pun tahu Mesir dan Romawi adalah dua imperium yang bermusuhan seperti minyak dan air. Kisah cinta Cleopatra-Antony ini juga merupakan karya William Shakespeare.

Atau kisah cinta yang menyedot emosi penonton antara Ryan O'Neal dan Ali MacGraw dalam film legendaris Love Story karya Erich Segal pada era 1970an. Atau kisah cinta lain yang mengharukan antara Patrik Swayze dan Demi Moore dalam film Ghost pada awal era 1990an yang disutradari oleh Jerry Zucker. Atau percintaan menggetarkan Kate Winslet dan Leonardo diCaprio dalam film Titanic arahan sutradara James Cameron pada tahun 1997.

Tak adil kalau tak menyebut kisah asamara Rama dan Shinta dalam kisah pewayangan kita. Rama dan Shinta yang jatuh cinta pada pandangan pertama, dan akhirnya menjadi pasangan suami-istri, tak pernah sepi dari cobaan ketika raksasa Rahwana dengan segala macam tipu muslihat mencoba menculik Shinta. Tentu masih segar dalam ingatan kita kisah nyata cinta Habibie dan Ainun yang filmnya membuat penonton berurai air mata. Tak sangka di era modern ini masih ada kisah cinta seperti dalam dongeng.

Tapi, lupakan sejenak semua kisah cinta manusia itu. Dunia binatang juga memiliki kisah romantik yang tak terdandingi oleh manusia, sepiawai apapun pujangga William Shakespeare meramu kisah asmara sehingga tak jelas lagi batasan fiksi dan non-fiksi. Seekor nyamuk jantan yang mendekap kekasihnya, nyamuk betina terbang sambil memadu asmara belum apa-apa dibanding kisah cinta Mimi dan Mintuno. Sebab nyamuk jantan dan betina berdekapan tidak lama. Mimi dan mintuno hanyalah binatang laut yang tak begitu berarti. Namun mereka memiliki sesuatu untuk dipertontonkan kepada pasangan manusia, makhluk si pemikir, yang memiliki akal budi itu. Keistimewaannya, mimi dan mintuno selalu berdekapan hampir di sepanjang hidupnya, kemana pun mereka pergi, kapan pun dan dalam kondisi bagaimana pun. Bila mereka dipisah, keduanya tak tahan menanggung hidup dan akan segera mati. Prinsipnya barangkali, lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup berputih mata. Mereka tak rela berpisah dari pasangannya; hanya dia dan dialah satu-satunya.

Mimi dan mintuno alias belangkas, alias kepiting ladam, adalah beberapa jenis hewan beruas (artropoda) yang hidup di perairan dangkal di tepi pantai di wilayah paya-paya dan kawasan mangrove. Satwa ini banyak terdapat di semenanjung Asia Tenggara. Bentuknya memang seperti ladam kuda berekor (www.wikipedia.org). Konon, kedua binatang laut ini aman dikonsumsi manusia bila dimasak secara bersama-sama. Tapi mimi dan mintuno akan beracun bila dimasak secara terpisah. Artinya, setelah mati pun mereka tak rela berpisah. Dengan latar rekam jejak tersebut, minyak yang berasal dari mimi dan mintuno konon memiliki mitos dengan khasiat bermacam-macam antara lain untuk menjaga kemesraan hubungan suami istri.

Perilaku mimi dan mintuno ini ternyata sudah lama diamati manusia. Dalam adat perkawinan budaya Jawa misalnya, sering dijumpai doa yang terucap "Dadio pasangan koyo mimi lan mintuno" (jadilah pasangat seperti mimi dan mintuno). Atau, "Mugi sageto kados mimi lan mintuno." (semoga bisa menjadi seperti mimi dan mintuno). Maksudnya kira-kira, semoga pasangan penganten menjadi pasangan cinta sejati, setia sehidup semati. Selamat Hari raya Aidil Fitri, maaf lahir batin.

fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 1327 kali
sejak tanggal 06-08-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat