drh. Chaidir, MM | Hakim Gagak | SEEKOR burung gagak jantan berjaket hitam bermata merah, marah alang kepalang ketika mengetahui bangsa mereka selalu dikaitkan dengan tahayul.  Siapa yang memulai propaganda fitnah ini? Teriaknya lantang menantang. 

Pasti bukan burung kuau, ujar seekor gagak tua dengan tenang. Karena, burung kuau
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Hakim Gagak

Oleh : drh.chaidir, MM

SEEKOR burung gagak jantan berjaket hitam bermata merah, marah alang kepalang ketika mengetahui bangsa mereka selalu dikaitkan dengan tahayul. Siapa yang memulai propaganda fitnah ini? Teriaknya lantang menantang.

Pasti bukan burung kuau, ujar seekor gagak tua dengan tenang. Karena, burung kuau berhutang budi pada bangsa kita. Mereka bahkan merasa bersalah karena gagal melukis bulu kita seindah bulu mereka yang kita lukis. Bahkan tinta hitamnya secara tak sengaja tumpah pula membasahi bulu kita sampai hitam semua. Gagak tua seperti bergumam pada dirinya sendiri.

Ya aku tahu. Walaupun warna kita hitam kelam, tapi bangsa kita bangsa yang terhormat. Gagak pemberang masih berkaok-kaok.

Gagak memang diperlakukan tak adil oleh sejarah, selalu saja mereka dikaitkan dengan cerita-cerita yang menyeramkan. Kalau gagak hinggap di bubungan rumah bakal ada penghuni rumah yang meninggal. Begitu tahayulnya. Kalau gagak berkaok-kaok di malam hari, pertanda ada berita buruk. Padahal gagak adalah seekor burung biasa, bisanya memang hanya terbang dan bersuara. Mereka bebas hinggap dimana dan bersuara sesuka hatinya dimana saja dan kapan saja.

Entah darimana asalnya hingga gagak selalu dikaitkan dengan sesuatu yang kurang baik. Gagak adalah salah satu jenis hewan yang disebut dalam kitab suci AlQuran. Gagak justru dikisahkan dalam sejarah sebagai hewan yang mampu berlaku adil layaknya seorang hakim dan mampu memberi contoh kepada umat manusia. Tersebut seekor hakim gagak yang adil menghukum gagak yang bersalah. Mahkamah gagak mengadili seekor gagak yang merampas pasangan dan sarang gagak lain, gagak jahat tersebut juga menilap makanan anak gagak yang bersusah payah dicarikan oleh induknya. Mahkamah gagak langsung digelar di tanah kosong dan disaksikan oleh gagak-gagak lain. Mereka berkaok-kaok pertanda marah. Gagak yang bersalah kemudian dijatuhi hukuman mati menurut hukum gagak. Gagak terpidana mati langsung dieksekusi. Dan setelah dihukum mati gagak yang telah jadi bangkai dikuburkan oleh hakim gagak beserta kawanan burung gagak. Hakim gagak kemudian berkata, Kami telah membunuhnya demi keadilan, walau begitu kami tahu bahwa jasadnya berhak untuk dimuliakan.

Kisah ini terkait dengan kisah Qabil dan Habil putra Adam. Sebagaimana diriwayatkan, burung gagaklah yang menjadi saksi satu-satunya atas kejahatan pembunuhan pertama di muka bumi yang dilakukan anak manusia. Qabil tega menghabisi nyawa Habil adiknya karena persoalan asmara. Qabil kembar dengan adik perempuannya yang bernama Iqlima, sementara Habil yang dilahirkan Siti Hawa kemudian kembar pula dengan adik perempuannya yang bernama Lubuda. Telah ditentukan oleh sejarah umat manusia, Qabil harus menikah dengan Lubuda, sementara Habil harus menikah dengan Iqlima. Qabil tak rela, karena Iqlima lebih cantik dari Lubuda. Qabil menempuh jalan pintas menghabisi adik kandungnya.

Qabil kemudian bingung, tak tahu mau diapakan jenazah adiknya, sampai kemudian dia melihat sekumpulan gagak menggali tanah dengan paruhnya dan kemudian meletakkan jasad temannya yang telah dihukum mati di dalam kubur tersebut. Kubur itu kemudian ditimbun oleh sang gagak. Maka Qabil pun tanpa pikir panjang mencontoh burung gagak, menguburkan jasad Habil.

Hakim Gagak memandang kepada anak Adam, menatap dalam-dalam mata Qabil. Hakim Gagak hendak mengatakan, Kami telah membunuh kawan kami dengan suatu pengadilan, adapun engkau.......? Tapi kata-kata itu tertelan di kerongkongan Hakim Gagak, dia segera terbang menjauh meninggalkan Qabil meraung. Nasi sudah jadi bubur.

fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 454 kali
sejak tanggal 23-07-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat