drh. Chaidir, MM | Kucing Dalam Karung | DESAS-DESUS itu cepat sekali menyebar, membiak seperti amuba. Dalam tempo singkat menjadi perbincangan hangat dimana-mana. Beberapa kelompok langsung terlibat dalam pembicaraan serius. Apa sesungguhnya yang terjadi. Andai berita itu benar, berarti ada sesuatu yang tidak beres. Permasalahannya harus
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Kucing Dalam Karung

Oleh : drh.chaidir, MM

DESAS-DESUS itu cepat sekali menyebar, membiak seperti amuba. Dalam tempo singkat menjadi perbincangan hangat dimana-mana. Beberapa kelompok langsung terlibat dalam pembicaraan serius. Apa sesungguhnya yang terjadi. Andai berita itu benar, berarti ada sesuatu yang tidak beres. Permasalahannya harus diidentifikasi, penyebab masalahnya harus digali. Dan harus dicarikan solusi supaya tidak menimbulkan keresahan yang lebih luas. Jangan biarkan sampai korban berjatuhan baru ambil tindakan.

Adakah kaitannya dengan dinamit yang hilang itu? Tidak. Tidak ada hubungannya. Juga tidak ada hubungannya dengan penggeledahan Bank Indonesia itu. Tapi ini masalah serius. Tidak boleh main-main, isu ini harus ditanggapi oleh para petinggi, dan tetua harus mau turun gunung memikirkannya karena menyangkut kelangsungan hidup sebuah bangsa, anak cucu mereka sendiri. Maka tanpa basa-basi, sang pembawa kabar buruk itu pun dihadirkan dalam sebuah rapat dengar pendapat dan diinterogasi dalam sebuah ruangan tertutup oleh sekelompok elit kepala suku.

Aku berani sumpah diceburkan ke sungai. Si hitam, anak muda itu, ngotot dengan pengakuannya.
Aku pura-pura tidur di bawah meja tuanku. Lanjutnya.

Tuanku bicara dengan seseorang dalam nada terdengar agak marah dan geram. Tensi tuanku kelihatannya naik, 'berarti kita disuruh beli kucing dalam karung, berarti masyarakat dipaksa beli kucing dalam karung.' Telingaku masih awas untuk mendengar dengan baik, ucapan tuanku itu, artikulasi suku katanya jelas. Berarti ada kucing dalam karung.
Cukup! Cukup jelas. Ada teman-teman kita yang sudah dikarungin. Ini gawat. Seekor kucing putih peserta rapat langsung membuat diagnosa sepihak. Yang menjadi pertanyaan kita, sudah berapa banyakkah teman-teman kita yang bernasib malang itu? Mengapa ada teman-teman kita yang dikarungi, apa salah dan dosa mereka? Berarti bangsa kita diperjualbelikan dalam karung. Untuk apa, oleh siapa? Mau dibawa kemana? Ujarnya berapi-api.

Begini teman-teman, hati boleh panas, tetapi kepala kita harus tetap dingin. Kucing tua pimpinan rapat, menatap satu persatu peserta rapat. Belum tentu teman-teman kita yang dikarungi itu bernasib buruk. Tuan-tuan kita itu mungkin ingin tahu saja, kucing yang mereka mau pilih itu berwarna apa, hitamkah, putihkah, kuningkah, belang tigakah, kucing siamkah, kucing angorakah? Mungkin tuan-tuan kita itu ingin tahu juga, teman-teman kita itu peranakankah, aslikah, dan sebagainya. Jangan berburuk sangka.

Kucing tua melanjutkan. Tuan-tuan kita itu sekarang sedang gundah gulana, sedang galau. Terlalu banyak tikus yang menggerogoti lumbung padi mereka. Tuan kita dibuat pusing tujuh keliling oleh kelakuan tikus-tikus yang kelihatannya sudah main hantam kromo. Tuan-tuan kita membutuhkan bantuan kita bangsa kucing. Sudah sejak dunia terkembang, bangsa kita ditakdirkan menjadi predator bagi tikus-tikus dimanapun mereka berada. Peran kita tak akan tergantikan. Yang jadi masalah adalah bila kalian tak lagi bernafsu untuk menerkam tikus karena perut kalian gendut kekenyangan akibat terlalu banyak makan makanan instan yang dijual di toko-toko hewan kesayangan. Kalian pengantuk, hari-hari kerjanya mendengkur, bahkan dalam rapat ini pun ada beberapa kucing yang tertidur pulas. Kalian tak lagi peka terhadap tikus. Kalau keadaannya seperti itu, kita akan kehilangan eksistensi sebagai bangsa kucing yang punya tanggungjawab sejarah membasmi tikus-tikus yang menggerogoti lumbung padi tuan-tuan kita.

Kucing kepala suku berfilsafat. Ingat kalian apa yang dikatakan oleh pemimpin China Deng Xiaoping? Deng tak peduli kita-kita ini bewarna hitam atau putih, yang penting kita bisa menangkap tikus.

Rapat itu bubar. Tak perlu khawatir kucing dikarungi. Kucing mana pun yang terpilih, mereka akan ingat nasihat Deng Xiaoping yang dielaborasi oleh sang kepala suku. Mereka harus bisa menangkat tikus-tikus yang menggerogoti lumbung padi tuannya.

fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 428 kali
sejak tanggal 02-07-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat