drh. Chaidir, MM | Muka Beruk | HEBOH tak terhindarkan terutama di kalangan anak-anak muda. Geng motorkah? Bukan. Penyebabnya adalah krisis kenaikan harga BBM. Krisis kenaikan harga BBM membawa dampak yang luas, terutama setelah para pengamat menyebut pro-kontra kenaikan harga BBM itu sebagai politik cari muka partai politik. Yang
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Muka Beruk

Oleh : drh.chaidir, MM

HEBOH tak terhindarkan terutama di kalangan anak-anak muda. Geng motorkah? Bukan. Penyebabnya adalah krisis kenaikan harga BBM. Krisis kenaikan harga BBM membawa dampak yang luas, terutama setelah para pengamat menyebut pro-kontra kenaikan harga BBM itu sebagai politik cari muka partai politik. Yang pro atau yang kontra sama saja, setali tiga uang. Semua melakukan politik akrobatik supaya terlihat seksi di mata rakyat. Beberapa pengamat menyindir, hati-hatilah cari muka, nanti yang dapat muka beruk.

Anak-anak muda yang naik pitam itu tak mau tahu dengan kenaikan harga BBM, tak ada urusan, mau seratus ribu rupiah per liter silahkan. Tapi istilah muka beruk itu, pelecehan, bahkan telah mengundang ketersinggungan berjemaah di kalangan bangsa beruk. Mereka umumnya bereaksi keras, terutama anak-anak mudanya.

Memang kenapa dengan muka kami? tantang anak-anak muda beruk, ganas. Walau kami bangsa beruk tapi muka kami tidak buruk seperti muka kalian, timpal yang lain bersahut-sahutan. Muka kami berbulu terlihat macho, daripada muka kalian klimis. Kami tak pernah menggunakan pisau cukur untuk memangkas rambut di muka dan tubuh kami. Sementara kalian, sebulan saja tak cukur, kumis, jambang, janggut semua panjang tak karu-karuan.

Berarti muka kita lebih orisinil kan? Kelompok tua coba berempati terhadap gejolak anak-anak mudanya. Bangsa kita lebih hebat, karena tak perlu operasi plastik, suntik pipi, suntik hidung, suntik dagu, suntik payudara, ya kan, anak muda? Jadi kalian tenang-tenang sajalah, tak perlu merasa kebakaran janggut, nanti bangsa yang sok hebat itu akan bertempur sesama mereka, kita tinggal nonton saja.

Dan jangan lupa anak muda, untuk kalian ketahui, dalam ilmu yang dikembangkan manusia itu, Paleoantropologi namanya, yaitu ilmu yang mempelajari asal usul manusia dan evolusi manusia dengan meneliti fosil-fosil, kita ini bangsa beruk merupakan nenek moyang manusia yang masih primitif. Beruk tua berteori. Kalau kalian tak percaya, tanya saja kepada makhluk yang bermuka klimis itu.

Tapi anak-anak muda, kita juga harus intropeksi, eh maksudku introspeksi. Karena kelakuan kita juga, nama beruk mendapat stigma yang kurang sedap. Perangai bangsa kita, tamak, rakus, kemaruk, tak puas-puas, walaupun di dalam mulut kita masih ada makanan tetap saja kalian mau ngambil lagi makanan yang ada, iya kan? Semua makanan kalian jejalkan ke dalam mulut sampai pipi kalian gembung. Sudahlah jangan mencari-cari pembenaran, jangan marah-marah. Sekarang, nama kita bangsa beruk menjadi semacam kiasan untuk manusia yang mirip perangainya dengan kita. Beruk tua bertausiah panjang lebar.

Beruk tua pun bercerita memberikan kebanggaan pada anak-anak mudanya. Kalau bertanding cepat memanjat pohon setinggi apapun, dan melompat tangkas dari dahan ke dahan, bangsa manusia tak akan pernah bisa mengalahkan beruk. Bahwa beruk sebenarnya bisa bersahabat dengan manusia. Beruk bisa dididik menjadi pemanjat pohon kelapa untuk memetik buah kelapa. Bahwa beruk yang oleh orang Inggris dikenal dengan nama Southern pig-tailed macaque (karena memiliki ekor pendek seperti babi), dan memiliki nama latin Macaca nemestrina, berbeda dengan kera dan hewan primata berekor panjang lain seperti lutung, simpanse, siamang, dan sebagainya. Beruk suka mandi di sungai, yang lain tidak. Jadi yang lain karena tak suka mandi, badannya bau monyet, kalau beruk cuma bau beruk...ha..ha..ha..

Dan ini serius, dari hasil penelitian bangsa manusia, salah satu kearifan bangsa beruk, terutama yang sudah bersosialisasi dengan manusia seperti di tempat-tempat hutan rekreasi, kalau orang memberi makanan dengan tangan kanan, maka beruk akan menerima dengan tangan kanan. Kalau orang memberi dengan tangan kiri, beruk akan menerimanya dengan tangan kiri. Koq bisa? Tanya saja pada beruk.

fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 582 kali
sejak tanggal 25-06-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat