drh. Chaidir, MM | Balada Serangga | RASA senasib sepenanggungan kini sedang tumbuh subur di kalangan bangsa-bangsa yang berbeda ini. Aksi-aksi solidaritas semakin marak. Mereka tak lagi terlalu memandang perbedaan di antara sesama. Walaupun mereka sebenarnya berbeda-beda. Jargonnya, semua untuk satu, satu untuk semua. Musyawarah besar
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Balada Serangga

Oleh : drh.chaidir, MM

RASA senasib sepenanggungan kini sedang tumbuh subur di kalangan bangsa-bangsa yang berbeda ini. Aksi-aksi solidaritas semakin marak. Mereka tak lagi terlalu memandang perbedaan di antara sesama. Walaupun mereka sebenarnya berbeda-beda. Jargonnya, semua untuk satu, satu untuk semua. Musyawarah besar internasional lintas bangsa digagas untuk menyamakan persepsi, sikap dan tindakan penyelamatan.

Gawat. Ini sungguh-sungguh gawat. Ada masalah besar yang mengancam kelangsungan hidup berbangsa. Ini tidak main-main. It's now or never. Sekarang atau akan hilang dari muka bumi. Ada musuh bersama, common enemy. Maka, kelompok yang lemah merasa perlu merapat ke kelompok yang kuat, sementara kelompok yang besar dan kuat merasa terpanggil untuk merangkul dan melindungi kelompok yang kecil dan lemah. Kelompok minoritas-mayoritas tak lagi dipersoalkan. Lupakan juga kelompok aliran. Ini menyangkut hajat hidup bersama bangsa-bangsa mereka sedunia, di seluruh penjuru angin.

Salah satu rancangan keputusan Musyawarah Besar yang sudah dipersiapkan oleh Panitia Pengarah adalah pembentukan koalisi bersama. Koalisi harga mati. Mereka berteriak sahut-bersahut. Tidak ada yang merasa perlu mencuri pencitraan, merasa sok jadi pahlawan, apalagi menohok kawan seiring. Perbedaan-perbedaan, apa pun bentuknya, harus dilupakan. Hanya dengan menjalin ikatan kebersamaan, meningkatkan apa yang mereka sebut sebagai societal cohesiveness, mempererat jalinan kekeluargaan, mereka akan menghadapi musuh bersama yang sudah di depan mata. Dengan bersatu teguh saja mereka belum tentu bisa menyelamatkan bangsanya, apalagi bila bercerai-berai.

Gerangan apa yang terjadi? Apakah akan terjadi tsunami besar, atau gempa bumi besar, atau dunia akan segera kiamat? Bukan. Samasekali bukan. Bukan ramalan bencana itu yang jadi penyebab. Ada sesuatu yang lebih mengerikan. Ada makhluk lain yang akan memangsa mereka, menelan mereka bulat-bulat, sebagian dikunyah-kunyah, sebagian dijadikan sosis, yang lainnya disop, atau dipanggang. Biang kerok kegegeran sosial yang sangat hebat itu adalah Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (Food and Agricultural- FAO) yang berpusat di Roma, Italia, dalam sebuah pertemuan di Roma menyebut, bahwa serangga akan menjadi makanan populer di masa depan. Dalam salah satu laporannya, FAO mengatakan, serangga mengandung banyak protein dan rendah lemak. Dengan makan serangga kita dapat membantu melawan pemanasan global, polusi, kelaparan. Usaha rakyat/usaha kecil juga akan terbantu. Sekitar dua milyar orang akan makan serangga sebagai makanan sehari-hari. Serangga apa saja yang dianjurkan oleh FAO? Dalam laporan tersebut disebutkan lebih dari 1.900 species serangga yang dapat dimakan. FAO menyarankan agar masyarakat mencoba semut merah, belalang, ulat, lebah, dan beberapa serangga lain (Harian Kompas 15/5/2013 halaman 10).

Itulah masalahnya. Manusia jumlahnya semakin banyak. Bahkan dalam tempo sepuluh tahun ke depan jumlah penduduk India akan melampaui jumlah penduduk China (mungkin gara-gara artis-artis film Bollywood yang seksi-seksi itu kali ya...he..he..he..). Itu berarti, dua negeri itu saja sudah lebih dari dua milyar, dua pertiga dari penduduk dunia secara keseluruhan. Mau makan apa? Maka wajar kalau FAO membuat terobosan. Serangga menjadi solusi untuk mengatasi masalah pangan dan kekurangan gizi.

Laporan FAO itulah yang menyebabkan kegalauan tingkat dewa di kalangan bangsa-bangsa serangga. Serangga memang jumlahnya sangat banyak dan terdapat di seluruh dunia. Hewan beruas dan berkaki enam (hexapoda) ini mudah berkembang biak dan memiliki tingkat adaptasi yang sangat tinggi. Serangga terbukti sukses melakukan kolonisasi dimana-mana. Dewasa ini sudah ditemukan lebih dari 800.000 spesies serangga (insekta). Tercatat 5.000 spesies bangsa capung (Odonata), 20.000 spesies bangsa belalang (Orthoptera), 170.000 spesies bangsa kupu-kupu dan ngengat (Lepidoptera), 120.000 bangsa lalat dan kerabatnya (Diptera), 82.000 spesies bangsa kepik (Hemiptera), 360.000 spesies bangsa kumbang (Coleoptera), dan 110.000 spesies bangsa semut dan lebah (Hymenoptera).

Cepat atau lambat, semua jenis serangga itu akan dimangsa oleh predator baru yang bernama manusia. Toloooong...

fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 424 kali
sejak tanggal 18-06-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat