drh. Chaidir, MM | Politik Kucing Air | KUCING tak suka air yang menyebabkan badan mereka basah. Maka, kalau ada anak yang malas mandi, disindir oleh orangtuanya seperti kucing. Kenapa kucing tak suka air? Karena bulunya panjang, sementara kucing itu hewan pembersih. Menurut kucing (kalau nggak percaya tanya saja sendiri), kalau mereka ke
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Politik Kucing Air

Oleh : drh.chaidir, MM

KUCING tak suka air yang menyebabkan badan mereka basah. Maka, kalau ada anak yang malas mandi, disindir oleh orangtuanya seperti kucing. Kenapa kucing tak suka air? Karena bulunya panjang, sementara kucing itu hewan pembersih. Menurut kucing (kalau nggak percaya tanya saja sendiri), kalau mereka kecemplung sungai atau kolam, badannya yang berbulu panjang itu akan basah kuyup dan itu membuat mereka merasa tidak nyaman.

Semenjak kucing berbaur dengan kehidupan manusia beribu-ribu tahun silam, ketika bangsa Mesir Kuno sekitar 3.500 SM telah menggunakan kucing untuk mengusir tikus atau hewan pengerat lain dari lumbung hasil panen mereka, kucing sudah dikenal sebagai hewan yang tidak suka berurusan dengan air. Kucing lebih suka disuruh minta api daripada disuruh minta air. Kalau kucing disuruh minta api, maka alamatlah kucing tak pulang-pulang. Apa yang dilakukannya? Sang kucing ternyata akan duduk berleha-leha menikmati hangatnya berada di sekitar perapian. Sang kucing akan terlena, lupa akan tugasnya, bahkan mereka akan tidur mendengkur dekat perapian. Oleh karenanya jangan pernah suruh kucing minta api, seperti dibidalkan orang-orang tua kita.

Kucing tak suka air, tapi mereka sangat gemar makan ikan. Disinilah malangnya kucing, sebab ikan hidup di air (ya iyalah, mana ada ikan yang hidup di darat; ikan ada di darat kalau sudah jadi ikan bakar, sop ikan, atau ikan gulau asam pedas). Kucing tak akan berenang atau menyelam untuk berburu ikan, walaupun mereka lapar setengah mati. Tak ada kamusnya mereka harus menyelam. Mereka lebih baik mati kelaparan daripada harus berenang mengejar ikan. Opsi yang paling disukai tentulah menyantap ikan yang sudah berada didarat, baik yang masih mentah maupun yang sudah dimasak, tak ada persoalan. Tak peduli didapat dengan cara legal atau illegal, misalnya curi-curi. Opsi lain, kucing akan menangkap ikan di kolam kalau air kolam sudah dangkal dan ikan di kolam sudah menggelepar-gelepar. Oleh karena itu kucing rela duduk berjam-jam mengintai di pinggir kolam melihat ikan yang mondar mandir di kolam, sambil berharap air kolam segera surut karena kolamnya bocor. Kalau air kolam tak surut-surut, kucing memilih mundur teratur, tapi esok hari dia akan kembali mengintai.

Lantas bagaimana dengan istilah kucing air? Kucing air yang sesungguhnya adalah hewan yang bernama berang-berang. Berang-berang (Lutrinae sp) adalah sejenis hewan mamalia semi-akuatik, bentuknya mirip seperti musang. Berang-berang disebut kucing air karena kehidupannya memang akrab dengan air. Satwa ini tidak takut air seperti kucing rumah atau kucing dapur piaraan, justru kucing air ini habitatnya di tebing-tebing sungai, di waduk atau di danau-danau. Berang-berang ahli berenang dan menyelam untuk menangkap ikan kegemarannya di sungai atau di kolam.

Sedangkan kucing air dalam bentuk sebuah metafora, bukan kucing yang suaranya meong-meong itu, tapi kucing berkaki dua yang bisa berpikir, berbicara, berdebat, berdiskusi, menyetir mobil, menjadi anggota DPR, menjadi bupati atau gubernur, dan sebagainya. Kucing air dalam bentuk kiasan adalah orang yang dikonotasikan tidak berkepribadian baik. Kucing air adalah orang yang culas, curang, dan hipokrit. Semua dihalalkan. Prinsip hidup bagi sang kucing air, barang haram saja tinggal sedikit apalagi yang halal, maka mumpung masih ada, sikat saja.

Maka dalam agenda politik yang sangat padat akhir-akhir ini seperti pemilihan anggota DPR, DPRD atau Dewan Perwakilan Daerah, atau pemilihan bupati, walikota atau gubernur, ada yang mengingatkan, hati-hati memilih kucing dalam karung. Jangan sampai terpilih politikus kucing air. Sebab, dalam era politik kucing air sekarang, susah membedakan kucing dalam karung, semua mengaku hebat, semua mengaku yang terbaik. Laporan-laporan perbuatan kriminal atau perbuatan tidak senonoh sang kucing dalam karung yang sudah menjadi rahasia umum tak pernah sungguh-sungguh ditindaklanjuti. Padahal alat Negara kita memiliki jaringan intelijen yang sebenarnya dimaksudkan untuk melindungi rakyat dari praktik-praktik politik sang kucing air itu. Atau ada yang main mata? Meong..meong..meong...

fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 1237 kali
sejak tanggal 11-06-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat