drh. Chaidir, MM | Gajah, Semut dan Manusia | GAJAH berkelahi sama gajah pemenangnya pastilah gajah juga. Ya iyalah, tetapi aneh, yang mati ternyata bukan gajah. Sekurang-kurangnya begitulah bunyi peribahasa. Gajah berkelahi sama gajah pelanduk mati di tengah-tengah. Peribahasa itu bermakna, jika terjadi pertengkaran antara orang-orang besar at
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Gajah, Semut dan Manusia

Oleh : drh.chaidir, MM

GAJAH berkelahi sama gajah pemenangnya pastilah gajah juga. Ya iyalah, tetapi aneh, yang mati ternyata bukan gajah. Sekurang-kurangnya begitulah bunyi peribahasa. Gajah berkelahi sama gajah pelanduk mati di tengah-tengah. Peribahasa itu bermakna, jika terjadi pertengkaran antara orang-orang besar atau kekuatan-kekuatan besar, maka orang-orang kecil yang celaka. Sang pelanduk bukan sengaja dibunuh, dia hanya terhimpit atau terinjak secara tak sengaja oleh gajah yang sibuk berkelahi sehingga tak mempedulikan ada hewan kecil yang celaka. Lain yang makan nangka lain yang kena getahnya.

Gajah tidak takut pada satwa lain, ini disebabkan karena ukuran badan mereka sangat besar. Gajah termasuk satwa purba berbadan besar yang masih tersisa di muka bumi. Tapi jangan dikira gajah tak ada lawan. Gajah boleh tambun berbadan besar, tapi gajah ternyata kalah bila berhadapan dengan semut, makhluk yang ukurannya hanya seujung kuku. Kekalahan gajah melawan semut sudah bendang ke langit. Kekalahan gajah vs semut itu disimbolkan oleh manusia ketika melakukan suten- undian melalui adu jari. Dalam suten, gajah disimbolkan dengan jempol sedangkan semut disimbolkan dengan jari kelingking. Apabila dalam suten jempol bertemu kelingking, maka pemenangnya adalah jari kelingking.

Sebagai perbandingan, orang, disimbolkan dengan jari telunjuk (mungkin karena suka memerintah, tunjuk sana tunjuk sini ya...). Kalau dalam suten, jari telunjuk bertemu dengan jempol maka yang menang adalah jempol. Artinya, gajah bila berhadapan dengan manusia (tanpa menggunakan bedil atau senjata lain), pemenangnya adalah gajah. Sebaliknya telunjuk, bila bertemu dengan jari kelingking, pemenangnya adalah telunjuk. Sama-sama tangan kosong, orang bisa mengalahkan semut. Sama-sama tangan kosong, semut mengalahkan gajah. Sebuah ekosistem, agaknya. Haiiyyaa...

Kelemahan gajah ini telah diketahui sejagad raya. Bayangkan, dengan berat semut yang hanya 5 mg, atau lebih-kurang setara dengan sebutir beras, koloni semut dapat mengusir binatang seberat 5 ton! Cerita heroik semut ini banyak memberi inspirasi kepada kehidupan manusia. Contohlah semut, ujar manusia, dengan tubuh yang sangat kecil, secara bersama-sama bisa mengangkat benda yang jauh lebih berat dan lebih besar, bahkan mampu mengusir gajah. Ikatan kebersamaan (cohesiveness) dipertontonkan oleh bangsa semut tanpa basa-basi, tanpa banyak cakap. Sebaliknya pada bangsa manusia, kebersamaan itu hanya sebatas penghias bibir, pada kenyataannya sangat sulit diwujudkan.

Dari dialektika gajah vs semut, banyak hal menarik. Andai kita bisa mengerahkan pasukan semut secara kolosal untuk menjaga kebun sawit atau perkampungan penduduk, maka gajah tidak perlu ditembak, dijerat atau diracun, mereka akan lari menghindar daripada berurusan dengan semut. Kedengarannya seperti main-main, tetapi lihatlah fakta yang diungkapkan oleh Dr Todd Palmer, Kepala Pusat Riset Ekosistem, profesor di Universitas Florida, sebagaimana ditulis Iksan Sutanto, bahwa beberapa pohon di gurun Afrika, selamat dari santapan gajah hanya karena di pohon tersebut banyak sarang semut.

Di Savana Afrika Afrika, tulis Palmer, pohon akasia merupakan salah satu sumber makanan gajah. Gajah, sang penguasa savana, bisa menghabiskan satu pohon hanya dalam sekejap. Tetapi koloni semut yang bersarang di pohon tersebut berhasil menakuti gajah. Gajah punya pengalaman buruk berhadapan dengan koloni semut tersebut. Semut dengan mudah memasuki belalai gajah, padahal belalai itu merupakan organ yang sangat sensisitif. Kerumunan semut yang memasuki belalai gajah akan menjadi masalah besar bagi gajah. Sebab sampai saat ini gajah belum memenukan satu cara pun untuk mengusir semut dari belalainya.

Berawal dari temuan itu, Palmer menyimpulkan koloni semut telah membantu mencegah penggundulan hutan dan melindungi tanaman langka di Afrika. Ternyata bukan manusia tetapi semutlah sang penyelamat pohon. Itu di Afrika. Di Indonesia? Bukan gajah yang menghabisi pepohonan, tapi manusialah yang menebanginya. Manusia memang tak takut pada semut. Acipawah...

fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 1423 kali
sejak tanggal 22-05-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat