drh. Chaidir, MM | CALEG JAMBU MONYET | MENJADI Calon Anggota Legislatif atau yang dewasa ini popular dengan panggilan Caleg, harus siap menjadi politikus. Tergantung pada levelnya. Caleg DPR-RI berarti harus siap menjadi politikus nasional, karena ruang lingkup tugasnya berskala nasional. Caleg DPRD berarti harus siap menjadi politikus y
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

CALEG JAMBU MONYET

Oleh : drh.chaidir, MM

MENJADI Calon Anggota Legislatif atau yang dewasa ini popular dengan panggilan Caleg, harus siap menjadi politikus. Tergantung pada levelnya. Caleg DPR-RI berarti harus siap menjadi politikus nasional, karena ruang lingkup tugasnya berskala nasional. Caleg DPRD berarti harus siap menjadi politikus yang bermain pada level politik lokal.

Tetapi sesungguhnya secara substansial, tidaklah dikotomis demikian. Sebab seorang politikus yang berkecimpung dalam politik lokal sekalipun, dia harus paham secara umum seluk beluk ketatanegaraan. Sehingga apapun permasalahan yang dibicarakan di tingkat lokal tak boleh kehilangan konteks bahwa daerah adalah bagian integral dari Negara kesatuan kita. Daerah adalah daerahnya pusat, pusat adalah pusatnya daerah.

Siapa politikus? Politikus adalah ahli politik; ahli kenegaraan; orang yang berkecimpung di bidang politik. Apa politik? Politik berarti seni mengatur dan mengurus negara dan ilmu kenegaraan. Politik mencakup kebijaksanaan/tindakan yang bermaksud mengambil bagian dalam urusan kenegaraan/pemerintahan termasuk menyangkut penetapan bentuk, tugas dan lingkup urusan negara. Dalam arti luas politik diartikan sebagai cara atau kebijaksanaan (policy) untuk mencapai tujuan tertentu.

Hoogerwerf mendefinisikan politik sebagai pertarungan kekuasaan. Sementara Hans J. Morgentahu mendefinisikan politik sebagai usaha mencari kekuasaan (struggle for power) dan David Easton pula mengartikan politik sebagai semua aktivitas yang mempengaruhi kebijakan dan cara kebijakan itu dilaksanakan. Yang paling menyeramkan adalah pendapat Harold Laswell. Ahli politik ini menyebut,

Politik itu menyangkut, who gets what, when and how. Siapa mendapatkan apa, kapan dan bagaimana?

Definisi Laswell ini agaknya paling digemari dan menjadi favorit umumnya politikus kita dewasa ini. Tidak peduli di lembaga politik tingkat nasional atau lembaga politik tingkat local seperti DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota, umumnya mengamini Laswell, bahwa politik itu adalah siapa mendapatkan apa, kapan dan bagaimana. Tidak lebih dan tidak kurang. Amboi... Maka, sudah menjadi rahasia umum setiap kali pembahasan RUU atau Raperda di DPRD, setiap kali pula terhadi tarik ulur. Oleh karena itulah agaknya, walaupun politikus di DPR dan di DPRD sering dicaci dan dibenci, sementara lembaganya dianggap lembaga korup. Tetapi, lihatlah, ketika musim caleg tiba sekali lima tahun, posisi sebagai politikus di DPR dan DPRD tetap menjadi rebutan, bahkan saling cakar satu sama lain, saling fitnah, saling jegal, bahkan sesame saudara sekalipun.

Agenda caleg hanya satu: harus duduk sebagai anggota DPR dan DPRD. Caleg duduk, bukan caleg terduduk. Bagaimana caranya? Dengan segala macamn cara. Barangkali hanya sedikit yang memikirkan bahwa belantara yang akan mereka masuki adalah belantara yang penuh binatang buas dan segala macam binatang berbisa.

Barangkali karena belantara itu penuh dengan binatang buas dan berbisa maka sang politikus pun berasosiasi dengan behavior satwa-satwa yang ada dalam rimba belantara tersebut. Bukankah ada peribahasa mengatakan, masuk kandang kambing mengembik, masuk kandang kerbau menguak. Maka umumnya politikus kita ikut-ikutan meniru sifat penghuni belantara tersebut. Mereka pun mendapat julukan. Politikus kancil, berarti sang politikus perawakannya kecil tapi lincah dan banyak akal. Politikus burung beo, adalah politikus yang sehari-hari suka membeo. Politikus bajing, kerjanya melompat dari satu dahan ke dahan yang lain. Politikus belut, adalah politikus yang licinnya nauzubillah. Politikus kelelawar, sukanya keluyuran di malam hari. Politikus ular, melata diam-diam tapi berbahaya.

Yang paling aneh adalah politikus jambu monyet. Politikus lain bijinya di dalam, politikus jambu monyet sendiri bijinya di luar. Nasib.

fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 431 kali
sejak tanggal 15-05-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat