drh. Chaidir, MM | Rindu Hud-hud  | SIA-SIA saja Anda mencari hud-hud di sini sekarang, sampai tua pun tak akan bersua. Habitatnya tidak di negeri khattulistiwa, di kepulauan nusantara, tidak juga di seputar gugusan kepulauan Riau, negeri Laut Sakti Rantau Bertuah atau di semenanjung Malaysia. Mereka hidup berkeliaran di jazirah Arab,
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Rindu Hud-hud

Oleh : drh.chaidir, MM

SIA-SIA saja Anda mencari hud-hud di sini sekarang, sampai tua pun tak akan bersua. Habitatnya tidak di negeri khattulistiwa, di kepulauan nusantara, tidak juga di seputar gugusan kepulauan Riau, negeri Laut Sakti Rantau Bertuah atau di semenanjung Malaysia. Mereka hidup berkeliaran di jazirah Arab, Afrika Utara dan Eropa. Entah bagaimana ceritanya dan apa landasannya, Pemerintah Israel pada tahun 2008 menetapkan burung hud-hud ini sebagai burung nasional mereka.

Tapi, walaupunseandainya kita bertemu dengan burung hud-hud itu sekarang. Kita tak akan lagi bisa mendengar cerita tentang kearifan seperti yang sering ditausiahkan oleh burung hud-hud. Penyebabnya ada dua: pertama, seperti diriwayatkan, hanya Nabi Sulaiman yang mampu berkomunikasi langsung dengan burung tersebut dan juga dengan hewan lainnya; kedua, burung hud-hud yang ada sekarang, entah keturunan generasi keberapa, tak lagi memiliki kearifan seperti moyangnya. Atau sekurang-kurangnya, tak pernah ada penelitian kenapa degradasi fatal itu terjadi. Ata barangkali, burung hud-hud dari gerenari ke generasi sebenarnya masih tetap mewarisi kearifan itu, tapi tak ada lagi manusia hebat yang mampu mengajaknya berkomunikasi. Manusia sekarang hanya bisa berkicau melalui jejaring sosial twitter.

Hud-hud (Latin: upupa epops) memang sejenis burung pelatuk. Orang Arab menyebutnya hud-hud, sementara orang Inggris menyebutnya hoopoe. Penamaan hoopoe itu mungkin karena disesuaikan dengan suaranya yang melengking seperti bunyi hoops..hoops.. (dalam logat Inggris) atau terdengar seperti hud..hud.. (dalam logat Arab). Suara itu terdengar jelas dan berulang-ulang. Burung hud-hud yang memiliki warna bulu yang indah serta jambul unik. Selain memiliki kicauan yang menarik, burung ini juga mempunyai keunikan dan keistimewaan terutama dalam mempertahankan dirinya dari serangan musuh atau binatang predator. Ketika mereka merasa terancam, burung ini akan menyemprotkan kotorannya ke mata binatang yang mencoba menyerangnya. Jika jurus ini tidak berhasil, atau tidak mengenai sasaran, maka hud-hud akan menyelimuti tubuhnya dengan bau yang sangat busuk melalui suatu proses refleks fisiologis.

Namun walaupun secara fisik hanya sejenis burung pelatuk, hud-hud bukan burung pelatuk sembarang pelatuk, hud-hud punya cerita yang tergores dengan tinta emas. Burung hud-hud sebagaimana dikisahkan dalam kitab suci Alquran dan Injil, adalah burung pembantu dekat Nabi Sulaiman. Burung ini yang memiliki kecerdasan dan integritas yang sangat tinggi, dan kesetiaan yang sangat teruji kepada Nabi Sulaiman. Menurut kisahnya, burung hud-hudlah yang menemukan puteri Balqis, ratu dari kaum Saba dengan kerajaannya yang besar di Yaman. Ratu Balqis yang cantik jelita itu memiliki istana yang sangat megah dan mewah. Singgasananya bertatahkan emas dan ratna mutu-manikam. Sayang, menurut hud-hud, Ratu Balqis dan kaumnya termasuk kaum tersesat karena menyembah matahari. Apa yang dilihatnya, oleh burung hud-hud diceritakan semuanya kepada Nabi Sulaiman.

Didahului saling kirim pesan, burung hud-hud kemudian berhasil mempertemukan pemimpin dua kaum yang berbeda iman tersebut, Ratu Balqis dengan Nabi Sulaiman melalui cara yang sangat terhormat. Kagum terhadap keimanan Nabi Sulaiman, Ratu Balqis beserta kaumnya meninggalkan kepercayaannya menyembah matahari, dan beriman mengikuti Nabi Sulaiman. Ratu Balqis kemudian dikisahkan menjadi istri Nabi Sulaiman.

Burung hud-hud telah memainkan perannya sebagai mediator, mempertemukan kubu-kubu demi menegakkan kebenaran. Keberhasilannya terletak pada kejujurannya. Andai burung hud-hud seperti pembantu dekat Nabi Sulaiman itu masih ada sampai hari ini, tentu banyak kubu-kubu yang dapat dipertemukan dengan penuh keterhormatan.


fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 487 kali
sejak tanggal 08-05-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat