drh. Chaidir, MM | Macan Ompong | MACAN atau harimau sama saja. Hewan buas yang dilindungi ini populasinya sudah hampir punah. Harimau Jawa (Panthera tigris sondaicus) bahkan sudah dinyatakan punah. Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) sudah dinyatakan langka. Nasib malang harimau ini disebabkan karena habitatnya diserbu dan
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Macan Ompong

Oleh : drh.chaidir, MM

MACAN atau harimau sama saja. Hewan buas yang dilindungi ini populasinya sudah hampir punah. Harimau Jawa (Panthera tigris sondaicus) bahkan sudah dinyatakan punah. Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) sudah dinyatakan langka. Nasib malang harimau ini disebabkan karena habitatnya diserbu dan dirusak oleh manusia. Hutan yang juga menjadi habitat bagi satwa lainnya, seperti babi hutan, rusa, kijang, pelanduk, ayam hutan, kuau, dan sebagainya yang secara eko-sistem terjaga dalam suatu keseimbangan dengan harimau sebagai predator, sudah jauh berkurang.

Manusia membabat hutan alam sejadi-jadinya. Jangankan harimau, orang bunian penghuni rimba belantara itu pun lari lintang pukang mendengar deru bulldozer dan mesin-mesin chin-saw yang digunakan manusia. Kayunya dijual (legal atau illegal logging sama saja), hutannya diganti dengan perkebunan. Tanaman pengganti hutan berupa tanaman kelapa sawit atau hutan akasia sebagai tanaman industry adalah tanaman monokultur yang sudah kehilangan fungsi vegetasinya.

Akibatnya, harimau terpaksa turun gunung mencari makanan di perkampungan penduduk, menangkap sapi, kerbau, mengejar kambing, ayam penduduk, bahkan sudah banyak kejadian, penduduk pun diterkam harimau. Merasa terganggu, maka harimau pun diburu oleh manusia, ditembaki, dijerat, diracun, dan sebagainya. Sebagian ditangkap hidup-hidup diserahkan ke kebun binatang, sebagian lainnya dikuliti. Konflik manusia dan harimau tak lagi terhindarkan dan banyak makan korban.

Harimau sering diberi julukan raja hutan. Raja hutan berkuasa di hutan. Hutan adalah wilayah kekuasaan atau daerah taklukannya. Seperti penjajah Belanda, harimau tak rela wilayah kekuasaannya berkurang, karena itu berarti berkurang pula hewan-hewan lain yang menjadi mangsanya. Siapapun yang berada dalam wilayah hutan tak bisa menuntut bila kemudian sang raja hutan memberi hukuman.

Seperti halnya manusia yang memiliki kekuasaan (power), harimau juga punya kekuasaan. Bedanya, kekuasaan manusia adalah berupa kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain sesuai kehendak pemegang kekuasaan, atau kemampuan untuk mengendalikan tingkah laku orang lain. Kekuasaan harimau adalah kekuasaan absolut. Semua yang berada dalam wilayah kekuasaannya berada di bawah taklukannya. Tetapi adakalanya kekuasaan manusia juga dapat bersifat negatif bila seseorang yang memiliki kekuasaan memiliki pula sifat atau watak arogan dan egois. Penguasa yang arogan dan egois ini menjalankan kekuasaannya dengan cara paksaan atau tekanan baik secara fisik maupun mental. Biasanya pemegang kekuasaan yang bersifat negatif ini adalah mereka yang tidak memiliki kecerdasan intelektual dan emosional yang memadai. Daya rusak kekuasaannya jauh lebih parah karena kekuasaannya ditegakkan dengan segala macam cara, intrik, adu-domba, fitnah, dan sebagainya, semua dihalalkan.

Harimau memiliki simbol otoritas kekuasaan berupa taring, yang sekaligus juga berfungsi sebagai alat kekuasaan. Harimau juga memiliki alat kekuasaan lain yaitu suara auman, cakar dan belang. Siapapun yang sedang berada dalam wilayah kekuasaan harimau akan menggigil ketakutan mendengar suara auman harimau. Padahal auman itu hanya psywar, perang urat syaraf untuk menakut-nakuti lawan. Sama dengan belang yang berfungsi sebagai window-dressing, hanya untuk mempertontonkan bahwa mereka adalah harimau yang memiliki belang legendaris. Tapa taring dan cakar, harimau tak akan ditakuti. Taring bagi harimau adalah senjata andalan, kekuasaan warisan yang bersifat given.

Simbol kekuasaan seperti taring tersebut, sering digunakan pula oleh manusia secara sewenang-wenang untuk melambangkan kekuasaannya. Seseorang penguasa yang unjuk kekuasaan sering disebut memperlihatkan taringnya. Namun bila harimau menggunakan kekuasaannya hitam putih, mereka gunakan secara naluriah, instink, manusia menggunakan taringnya dengan akal sehat, itulah bedanya. Tapi bila manusia menggunakan taringnya sesuka hati tanpa akal sehat dan etika sopan santun, tanpa kecerdasan intelektual dan emosional, maka manusia tak lebih baik daripada harimau. Harimau bila tak lagi memiliki taring tak lagi ditakuti, mereka disebut macan ompong.


fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 554 kali
sejak tanggal 01-05-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat