drh. Chaidir, MM | Berpikat Balam | BIDAL berpikat balam dengan balam, barangkali tidak terlalu umum digunakan. Jangan-jangan banyak di antara kita yang belum pernah mendengar peribahasa tersebut. Tetapi perumpamaan ini sesungguhnya menarik dan sebenarnyalah sering kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Manusia diberi akal budi,
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berpikat Balam

Oleh : drh.chaidir, MM

BIDAL berpikat balam dengan balam, barangkali tidak terlalu umum digunakan. Jangan-jangan banyak di antara kita yang belum pernah mendengar peribahasa tersebut. Tetapi perumpamaan ini sesungguhnya menarik dan sebenarnyalah sering kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Manusia diberi akal budi, dan dengan akal budinya banyak belajar dari karakter satwa yang hanya dibekali insting.

Burung balam terkenal karena suaranya yang merdu. Suara merdu itu menjadi berkah sekaligus musibah bagi burung balam. Disebut berkah karena burung balam memiliki suara yang enak didengar, tidak seperti suara burung hantu di tengah malam yang membuat bulu kuduk berdiri. Namun suara merdu sekaligus musibah bagi burung balam karena hidupnya sering terancam diburu predator yang bernama manusia yang ingin memilikinya. Sudah menjadi kelakuan buruk dan penyakit menahun manusia turun temurun, selalu saja memiliki keinginan untuk menangkap dan memelihara burung ini dengan segala macam cara. Demi memuaskan rasa ingin memilikinya, manusia rela memenjarakan burung tersebut dalam sebuah sangkar yang hanya berukuran beberapa sentimeter persegi. Suara burung balam dalam sangkar nyaman didengar manusia, tetapi sama sekali tak nyaman bagi sang balam karena hidup mereka terkungkung.

Tapi burung balam tak mudah ditangkap hidup-hidup. Burung balam bukan jenis burung yang bisa jinak-jinak merpati seperti burung merpati sehingga mudah masuk perangkap. Burung balam hidup liar di alam bebas. Sang pemburu bisa saja menggunakan kekerasan, seperti menembak dengan senapan angin, dengan sumpit, ketapel, jaring, atau jerat, atau bisa juga dengan getah. Tetapi cara-cara seperti itu tentu saja membahayakan nyawa sang burung, padahal sang pemburu inginnya menangkap sang burung hidup-hidup.

Dengan akalnya, berangkat dari pengalaman dan pengamatan beratus-ratus tahun, entah siapa yang melakukan observasi, entah sejak kapan, entah siapa yang membiayai penelitiannya, manusia akhirnya mengetahui juga sisi-sisi kelemahan burung balam. Sifat burung balam yang suka berteman antar sesama (jauh sebelum jejaring sosial seperti facebook, twitter, BBM ditemukan), diakali oleh manusia untuk menangkap burung balam hidup-hidup tanpa kekerasan. Burung balam ternyata bisa dipikat dengan burung balam juga. Biasanya burung balam pemikat ditempatkan dalam sangkar yang dirancang-bangun secara khusus, sehingga bila burung balam liar datang menjenguk kawannya yang berada dalam sangkar tersebut, pintu sangkar akan tertutup secara otomatis, burung balam liar pun terperangkap. Teknologi sangkar burung balam pemikat ini tidak menggunakan teknologi canggih, seperti sensor khusus atau sinar laser. Tidak usah orang dewasa, anak-anak saja di kampung paham cara membuat sangkar pemikat tersebut. Bila burung balam masuk ke sangkar pemikat, sang burung pasti hinggap di tempat yang sudah disiapkan (pasti, tak ada pilihan lain), dan bila hinggap, sebuah tuas akan terlepas dan pintu sangkar akan jatuh menutupi sangkar.

Namun secantik apapun sangkar pemikatnya, burung balam tak akan tertarik untuk masuk bila burung yang di dalam sangkar pemikat bukan burung balam juga. Sesama burung balam ada komunikasi khusus yang tidak dipahami oleh makhluk sejenis lainnya. Maka, kemudian manusia menyimpulkan, memikat balam haruslah dengan balam juga. Pengalaman kehidupan itu diabadikan dalam sebuah peribahasa: "Berpikat balam dengan balam."

Modus operandi berpikat balam akhirnya sering diakui sebagai sebuah kearifan. Belajar dari perumpamaan itu makhluk manusia mencoba mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mendapatkan jodoh misalnya seringkali perlu jasa makcomblang. Untuk mendapatkan laba, seseorang harus melakukan investasi. Investasi uang menghasilkan uang, investasi sosial menghasilkan pengaruh.

Tetapi sayangnya, kearifan berpikat balam juga dipraktikkan secara negatif. Untuk mendapatkan anggaran nasional, harus ada anggaran siluman sebagai penjemput.Untuk mendapatkan proyek yang bernilai milyaran rupiah terlebih dulu harus menabur upeti. Kalau yang ditabur angin, maka yang didapatkan juga angin, seringkali dalam skala besar alias badai. Ini semua karena ulah balam.

fabel - Koran Riau 16 April 2013
Tulisan ini sudah di baca 3139 kali
sejak tanggal 17-04-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat