drh. Chaidir, MM | Katak Di Bawah Tempurung | TANYALAH katak di bawah tempurung, kata manusia, pasti jawabannya sok pintar. Pertama, dia pikir,ilmuwan Copernicus itu bohong ketika mengatakan bukan matahari yang mengelilingi bumi tapi bumi yang mengelilingi matahari, sebab kenyataannya tak ada matahari. Bumi ini gelap. Kedua sang katak merasa, b
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Katak Di Bawah Tempurung

Oleh : drh.chaidir, MM

TANYALAH katak di bawah tempurung, kata manusia, pasti jawabannya sok pintar. Pertama, dia pikir,ilmuwan Copernicus itu bohong ketika mengatakan bukan matahari yang mengelilingi bumi tapi bumi yang mengelilingi matahari, sebab kenyataannya tak ada matahari. Bumi ini gelap. Kedua sang katak merasa, bulatan tempurung yang berada di atas kepalanya adalah langit, siapa bilang langit berlapis tujuh? Ketiga, katak percaya, dunia ini hanya selebar daun kelor. Siapa bilang dunia ini luas terbentang. Keempat, katak merasa dia adalah boss, tak ada makhluk lain di bawah tempurung yang lebih hebat daripada dirinya. Dunia milik dia sendiri.

Katak di bawah tempurung tidak paham kalau ada dunia di luar dunianya yang sempit dan kelam itu, sehingga ketika sang katak bodoh yang berada di bawah tempurung itu dihadapkan pada dunia luar, dia bingung, gagap dan tak siap. Bahkan merasa kalah sebelum bertanding. Tapi itu kata manusia, pandai-pandainya manusia, khayalan manusia, rekayasa si manusia makhluk sang pemikir.

Sesungguhnya, tidak ada yang tahu persis apa yang diperbuat sang katak ketika berada di bawah tempurung. Makhluk manusialah yang memiliki imajinasi seperti itu, pandai mengarang-ngarang sehingga membuat sebuah perumpamaan untuk menyindir menusia itu sendiri, bila ada manusia yang berkarakter arogan, bodoh tapi sok pintar, sombong, tak tahu kalau dia sesungguhnya tidak tahu, merasa dirinya sendiri yang hebat, merasa yang paling kaya, berpikiran picik, berwawasan sempit, kurang pergaulan, tak mau menerima kelebihan orang lain, tak bisa dan tak mau membaca, orang seperti ini disebut seperti katak di bawah tempurung.

Padahal bagi sang katak (nah yang ini adalah logika manusia), berada di bawah tempurung barangkali menjadi sebuah neraka kehidupan, tak ada apa-apa di sana, tak ada nyamuk atau serangga yang bisa disantap. Sang katak pasti kelaparan dan kepanasan, bahkan megap-megap karena kekurangan oksigen. Dia pasti marah dan bodoh kenapa dirinya terperangkap di bawah tempurung. Dia tak bisa melihat dunia luar, berenang dan bernyanyi di kolam, dan tak bisa membuat lompatan-lompatan kegemarannya, sesuatu yang menjadi keunggulan komparatif sang katak. Sedikit saja dia mencoba melompat, kepalanya terbentur langit-langit tempurung kelapa.

Andai sang katak protes dan minta situasinya di balik, seperti manusia di bawah tempurung, apa pula gerangan yang terjadi? Justru sang manusia akan merasa terkungkung, merasa sangat terkekang, frustrasi, dan kehilangan harga diri. Hidup seakan tak ada lagi artinya sama sekali. Semua kehormatan dan kebanggaan hilang. Uang dan kekayaan (halal atau hasil korupsi) tak ada lagi artinya. Harta benda tak lagi bisa dipergunakan untuk membuat hidup lebih mudah, lebih nyaman dan lebih berarti. Bagi manusia, sebagai makhluk sosial, hidupnya baru terasa ada makna bila ada orang lain. Dan hidup manusia akan lebih bermakna bila bisa memberikan sesuatu yang berguna bagi orang lain.

Adakah manusia seperti perumpamaan "katak di bawah tempurung," yang dibuat oleh manusia itu sendiri? Tentu saja ada. Manusia memiliki ego dan ego itu adakalanya terlalu berlebihan baik disadari maupun tidak, sehingga tertutup mata hatinya untuk bisa melihat kebenaran dan berlaku wajar menggunakan akal budinya. Manusia yang egonya berlebihan disebut egoistis. Manusia seperti ini selalu mau menang sendiri, merasa diri yang paling pintar dan tak pernah mau menerima nasihat orang lain. Manusia egoistis selalu membuat pembenaran terhadap kekeliruan yang dilakukannya.

Bila perumpamaan seperti katak di bawah tempurung itu dikenakan pada manusia biasa, daya rusaknya tak akan seberapa. Tapi bila itu menjadi perilaku seorang pemimpin atau penguasa atau seorang politisi, maka daya rusaknya menjadi sistemik. Dia pasti akan menyalahgunakan kekuasaannya karena tak pernah mau mendengarkan kritik dan nasihat orang lain. Tanda-tanda ke arah itu terlihat bila seseorang sangat ngotot dan jor-joran merebut kekuasaan. Maka hati-hatilah memilih pemimpin.

Mudah-mudahan, kita semua terhindar dari orang yang tertutup baik mata hatinya maupun pikirannya. Mudah-mudahan hidup kita tidak Bagai Katak Dalam Tempurung.

fabel - Koran Riau 9 April 2013
Tulisan ini sudah di baca 1147 kali
sejak tanggal 10-04-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat