drh. Chaidir, MM | Anak Ayam Kehilangan Induk | APA yang terjadi bila anak ayam kehilangan induk? Kocar-kacir. Bingung, tidak tahu harus melakukan apa, ribut menciap kesana kemari, dan bercerai berai. Itulah gambarannya. Induk adalah tumpuan segala tumpouan dan harapan bagi anak ayam, mengaiskan makanan, memberi kehangatan dengan selimut kepak sa
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Anak Ayam Kehilangan Induk

Oleh : drh.chaidir, MM

APA yang terjadi bila anak ayam kehilangan induk? Kocar-kacir. Bingung, tidak tahu harus melakukan apa, ribut menciap kesana kemari, dan bercerai berai. Itulah gambarannya. Induk adalah tumpuan segala tumpouan dan harapan bagi anak ayam, mengaiskan makanan, memberi kehangatan dengan selimut kepak sang induk, dan menjaga anak ayam dari serangan predator. Induk ayam sekaligus pemimpin bagi anak ayam. Induk ayam rela mati demi membela anak-anaknya.

Gambaran seperti anak ayam kehilangan induk juga dengan mudah terlihat pada sekelompok orang atau organisasi yang ditinggalkan pemimpinnya. Galau dan gundah gulana. Demikian pentingnya keberadaan pemimpin, sehingga ada yang berpendapat secara ekstrim (dan agak ngawur), keberadaan pemimpin yang zalim masih lebih baik ketimbang masyarakat tanpa pemimpin. Penyair Yunani Kuno Euripides (406 SM) menyebut, "Sepuluh serdadu yang dipimpin dengan bijak dapat mengalahkan seratus serdadu musuh yang tidak punya pemimpin."

Pendiri Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono agaknya yakin betul, seperti anak ayam kehilangan induk itulah kondisi Partai Demokrat sebulan terakhir setelah Ketua Umumnya, Anas Urbaningrum, terpaksa mundur karena tersangkut masalah hukum kasus megaproyek Hambalang. Berbagai isu demikian cepat berkembang. Kasak-kusuk semakin menjadi-jadi. Polarisasi setiap sebentar berubah-ubah. Keadaan semakin tidak kondusif dan tidak rasional ketika menjelang Kongres Luar Biasa Partai Demokrat di Bali, seorang Ketua DPC Partai Demokrat Cilacap nekat mencalonkan diri sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Seakan memperoleh mainan baru, kalangan media pun ikut-ikutan tak rasional dengan ikut mengompori pencalonan tersebut.

Sebagai tokoh yang membidani lahirnya Partai Demokrat, dan kemudian Partai Demokrat pula yang mengusung SBY ketika terpilih sebagai Presiden RI dalam pemilihan pertama yang dilakukan secara langsung sepanjang sejarah RI, wajar bila SBY merasa berhutang moril untuk menyelamatkan Partai Demokrat. Apatah lagi Partai Demokrat dipercaya oleh rakyat Indonesia sebagai partai pemenang Pemilu legislatif 2009, dan SBY kembali dipercaya untuk memimpin bangsa Indonesia. Tentulah menjadi catatan hitam dalam karir politiknya bila Partai Demokrat dibiarkan bercerai-berai.

"Ini KLB yg tidak dikehendaki dan tidak direncanakan," ujar SBY dalam pidato politiknya setelah terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. "KLB ini terpaksa diselenggarakan karena Pak Anas Urbaningrum mundur dan proses Caleg tak bisa ditandatangani kecuali oleh Ketua Umum." SBY kemudian melanjutkan, bahwa setelah dibicarakan dengan sangat serius oleh Majelis Tinggi Partai Demokrat, tidak ada opsi lain kecuali SBY harus pimpin Partai Demokrat untuk sementara sampai keadaan pulih dan normal. "Biarlah saya tidak aman, tetapi partai aman, biarlah saya dikritik dan diserang daripada Partai Demokrat tambah susah."

Sebagai salah seorang pemikir di tubuh TNI jauh sebelum ada tanda-tanda akan jadi Presiden RI, SBY sudah sangat memahami, bahwa sebuah partai modern itu adalah partai yang bergantung pada landasan perjuangannya, pada paradigmanya, bukan pada figur sentris. SBY tentu sadar betul aksioma tersebut sehingga berulangkali terpaksa mengatakan, posisinya sebagai Ketua Umum Partai Demokrat hanya bersifat sementara. "Paling lama dua tahun, bahkan bila memungkinkan hanya sampai setelah pemilu legislative berakhir." Tegas SBY.

Takutkah SBY terhadap kritik yang pasti datang bertalu-talu setelah menerima jabatan Ketua Umum Partai Demokrat? Risiko menjadi "sasaran tembak" itu mungkin sudah diperhitungkan, termasuk dari kalangan internal yang punya mimpi lain. SBY sudah berketetapan hati tak akan membiarkan partainya seperti anak ayam kehilangan induk.

Pantun berikut, agaknya layak dikirim untuk SBY.
Anak awan mandi di awan
Mandi di kuala Indragiri
Diantara kawan ada lawan
Hati-hati menjaga diri.

fabel - Koran Riau 2 April 2013
Tulisan ini sudah di baca 999 kali
sejak tanggal 03-04-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat