drh. Chaidir, MM | Tungau di Seberang Laut | BUKAN main kagumnya tungau pada makhluk yang bernama manusia. Bagaimana mungkin manusia memiliki indera penglihatan yang demikian canggih, sehingga bisa melihat tungau dan kawan-kawannya yang berada nun di seberang lautan. Bukankah tungau adalah makhluk parasit yang memiliki ukuran sehalus butiran d
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Tungau di Seberang Laut

Oleh : drh.chaidir, MM

BUKAN main kagumnya tungau pada makhluk yang bernama manusia. Bagaimana mungkin manusia memiliki indera penglihatan yang demikian canggih, sehingga bisa melihat tungau dan kawan-kawannya yang berada nun di seberang lautan. Bukankah tungau adalah makhluk parasit yang memiliki ukuran sehalus butiran debu?

Tapi tungau juga terkejut alang kepalang ketika dihadapkan pada sebuah realita, indera penglihatan manusia yang canggih itu ternyata tak mangkus untuk melihat seekor gajah yang berada di pelupuk mata. Padahal gajah adalah satwa berkaki empat berukuran raksasa.

Tidak tahan memendam rasa ingin tahu, seekor tungau bertanya pada manusia.

"Man, matamu koq bagus bisa melihat kami di seberang lautan?" Tanya tungau.
"Tung, bangsaku itu pada umumnya rabun dekat, yang dekat kabur yang jauh terang benderang."
"Tapi mosok gajah di pelupuk mata tak kelihatan." Tungau kurang puas.
"Tung, coba kau pikir, kalau gajah sudah di pelupuk matamu, itu artinya kau sudah dilanyau gajah, maka kau tak lagi bisa melihat apa-apa. Kau sudah innalillah, begitu."
"Oooh.."

Kasihan melihat tungau penasaran, sang manusia memperjelas duduk masalahnya, bahwa itu sebenarnya hanyalah sebuah kiasan. Manalah mungkin gajah di depan pelupuk mata tidak kelihatan.

Orang tua-tua kita zaman dulu paling pandai membuat perumpamaan. "Tungau di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak kelihatan." Perumpamaan ini dengan tepat menggambarkan betapa kesalahan orang lain dapat mudah terlihat tapi kesalahan diri sendiri tidak terlihat.

"Tungau" kelompok lain bisa kita hitung dengan mudah bahkan bila perlu sampai Sembilan nolnya, tapi yang namanya "gajah" kelompok sendiri selalu luput. Artinya, kesalahan orang lain atau kelomppok lain, partai lain, atau kesalahan pemerintah, bisa dengan mudah dihitung, tapi kesalahan kita sendiri, kelompok kita, partai kita, kesalahan masyarakat yang tidak patuh terhadap peraturan, yang hanya ingat hak tapi lupa kewajiban, amat sulit menghitungnya. Kesalahan kelompok kita bahkan bisa dicari-cari pembenarannya. Jadi jangan heran bila sebuah kesalahan bisa disulap menjadi tampak sebagai sesuatu yang benar.

Melihat "tungau" di seberang lautan, tidak usah ada pembelajaran. Semua orang bisa melakukannya. Bukankah sekarang banyak ditemukan maling teriak maling? Banyak yang mengaku reformis tapi sebenarnya predator reformasi. Banyak yang mengaku prodemokrasi, tapi tindak tanduknya otoriter. Banyak oknum berjubah, tapi di sebalik jubahnya tersimpan akal bulus. Mudah ditemukan di tengah masyarakat kita bagaimana seseorang membungkus kepentingan-kepentingan pribadi atau kelompoknya dalam jaket organisasi, bahkan tidak segan-segan berlindung di balik kepentingan rakyat, mengatasnamakan rakyat. Di depan publik dialah yang paling lantang memperjuangkan kepentingan rakyat, dialah yang paling komit terhadap pembinaan umat beragama, tetapi sesungguhnya ada hidden agenda (agenda tersembunyi).

Realitas seperti itu, jamak kita temui di tengah masayarakat kita dewasa ini. Tapi bukan berarti tidak ada gunanya. Sebuah kritik walaupun disampaikan emosional dan tanpa data yang memadai, bukan berarti salah semua. Sebaliknya apa yang kita lakukan dan menurut kita benar, belum tentu benar semuanya. Tanpa kritik demokrasi akan mati. Pemerintahan good governance yang kita idam-idamkan hanya akan tinggal mimpi. Sebab pemerintahan dalam tatakelola yang baik memerlukan umpan balik. Tapi kritik dalam sebuah masyarakat yang berbudaya tetaplah memiliki sebuah demarkasi. Ada koridor dimana kritik boleh bermain. Keluar dari halaman itu secara liar, maka kritik hanya beda-beda tipis dengan fitnah. Koridor itu adalah sebuah kejujuran.

Perumpamaan gajah dan tungau tidak terlalu berlebihan untuk kondisi masyarakat kita sekarang. Hampir semua kemasan kebijakan adalah untuk membungkus kepentingan. Tapi sebagai bagian dari entitas masyarakat yang berbudaya, kita tidak mau tenggelam secara terus menerus dalam kekelaman. Mari kita menertawakan diri sendiri dalam kepicikan, kedunguan, kerakusan kita, dan seterusnya. Ikhtiar pertama, pakailah kacamata rabun dekat.

fabel - Koran Riau 26 Maret
Tulisan ini sudah di baca 1545 kali
sejak tanggal 27-03-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat