drh. Chaidir, MM | Nasib Telur Ayam | SYAHDAN, pada suatu hari induk itik bertemu dengan induk ayam. Seperti biasa, mereka pun bergosip ria, saling bercerita tentang KIS (Kisah Seputar Selebritis), gaduh di Kabar-kabari, check and recheck, insert, Halo Selebritis, Hot Shot, Silet, dan seterusnya. Tak ada satu pun tontonan itu yang merek
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Nasib Telur Ayam

Oleh : drh.chaidir, MM

SYAHDAN, pada suatu hari induk itik bertemu dengan induk ayam. Seperti biasa, mereka pun bergosip ria, saling bercerita tentang KIS (Kisah Seputar Selebritis), gaduh di Kabar-kabari, check and recheck, insert, Halo Selebritis, Hot Shot, Silet, dan seterusnya. Tak ada satu pun tontonan itu yang mereka lewatkan. Akhirnya, ujung-ujungnya sampai juga pada masalah pribadi yang mereka hadapi.

"Ngomong-ngomong Yam, berapa harga telurmu sekarang di pasar?" Tanya induk itik menjurus.
"Seribu dua ratus rupiah per butir, emang kenapa Tik?" jawab induk ayam.
"Kamu sih, itu karena telurmu kecil, kalau aku dua ribu. Mbok diperbesar seperti telurku." Induk itik menggoda.
"Nggak mau ah, gara-gara mengejar delapan ratus rupiah robek pula nanti knalpotku."
"Biarlah telurku sebesar ini saja, yang penting aman dan nyaman. Tapi yang paling penting lagi sebenarnya, kita harus banyak-banyak bertelur, kalau perlu dua atau tiga kali, kalau bisa bahkan lima kali sehari kita bertelur." Induk ayam mencoba hiperbolik.

"Maksud lho?"
"Ya ampun Itiiiik, kau ini ketinggalan kereta, nggak ngikuti facebook, twitter, BBM, nggak juga baca koran. Ini gara-gara sapi Australia yang bodoh itu. Mau-maunya mereka dikelabui oleh mafia impor daging sapi. Sekarang kasusnya terbongkar, rasain tuh sapi. Repotnya bagi kita, harga daging sapi jadi mahal. Artinya, orang-orang akan beralih ke daging ayam atau itik, ngerti? Peluang kita untuk disembelih lebih cepat , semakin terbuka. Ngeri kan? Apalagi sekarang restoran bebek goreng sedang menjamur dimana-mana, hati-hati kamu."

"Koq kamu marah banget sama sapi, ada masalah apa kamu?" Induk itik tetap cool tidak terpancing.
"Ya iyalah aku marah, sapi-sapi itu nggak tahu diuntung, seenaknya saja, ayam yang bertelur setiap hari, eh, sapi yang dapat nama. Coba kamu pikir, darimana asal-muasalnya, apa latar belakang sejarahnya, koq telur ayam disebut telur mata sapi. Orang tinggal pesan menu telur mata sapi, pasti yang dimasak telur ayam. Iya kan? Nggak pernah minta telur mata sapi yang dihidangkan telur sapi. Memang mata sapi ada telurnya? Jangankan matanya, knalpotnya yang besar itu saja tidak pernah menghasilkan telur." Induk ayam nyerocos. "Apa kita harus berunjuk rasa, bakar-bakaran markas?" Lanjutnya tersulut emosi.

"Betul. Sapi-sapi itu sudah keterlaluan, mereka sudah melanggar undang-undang hak cipta dan undang-undang hak paten, hak milik intelektual. Mereka juga nggak bayar royalty kan sama kamu, Yam?" Induk itik mengompori.

"Mereka memang nggak ada basa-basinya. Boro-boro, susu saudaranya sendiri saja, susu lembu, kau tahu kan Tik, oleh sapi diklaim sebagai susu sapi. Maka, yang terkenal susu sapi. Orang-orang menyebut, lembu punya susu sapi dapat nama." Induk ayam sewot. Dendam kesumatnya sudah sampai ke ubun-ubun, mukanya merah padam. Konon karena itulah pial ayam itu sampai sekarang berwarna kemerah-merahan.
"Kamu beri solusi donk?" Desak induk ayam.

Dengan tenang induk itik berbisik, "tapi ini rahasia, Yam, jangan bilang siapa-siapa, juga kepada mafia sapi itu, kita siapkan saja beberapa tetes nila, maka susu sapi itu akan rusak berbelanga-belanga." Ondeh mandeh, gawat.

fabel - Koran Riau 12 Maret 2013
Tulisan ini sudah di baca 881 kali
sejak tanggal 13-03-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat