drh. Chaidir, MM | Kucing Deng | TANYALAH tikus, makhluk apa yang menjadi rival utama mereka sepanjang hayat, jawabannya pastilah kucing. Rivalitas dua makhluk tersebut digambarkan oleh William Hanna dan Joseph Barbera dalam film kartun terkenal sejagat raya,
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Kucing Deng

Oleh : drh.chaidir, MM

TANYALAH tikus, makhluk apa yang menjadi rival utama mereka sepanjang hayat, jawabannya pastilah kucing. Rivalitas dua makhluk tersebut digambarkan oleh William Hanna dan Joseph Barbera dalam film kartun terkenal sejagat raya, "Tom and Jerry." Dalam film kartun yang digemari tua dan muda ini, Tom adalah pemeran kucing sedangkan Jerry pemeran tikus. Jerry adalah tikus nakal yang selalu sukses memasang perangkap bagi Tom dan hebatnya, selalu lolos dari kejaran Tom. Sekali-sekali Jerry berhasil diterkam Tom, tetapi selalu saja ada bantuan tiba-tiba tak terduga yang menyelamatkan nyawa Jerry.

Entah karena terpengaruh film kartun Tom and Jerry, entah karena di negeri China banyak tikusnya, sampai ada pepatah China berbunyi, "Bukan masalah kucing itu hitam atau putih, selama dia bisa menangkap tikus." Pepatah itu menjadi sangat terkenal ketika dipopulerkan oleh pemimpin China, Deng Xiaoping (1904-1997), yang menjadi penerus kepemimpinan komunis China, Mao Ze Dong.

Deng mengutip peribahasa China itu ketika dia dituduh mengkhianati ajaran komunisme yang ditinggalkan Mao Ze Dong. Deng dituduh sebagai biang yang memasukkan kapitalisme ke negeri "Tirai Bambu" itu. Tapi Deng menangkis dengan argumen yang susah untuk disangkal, memandang asas 'sama rata sama rasa' bukan berarti warga Negara China tidak boleh kaya. Justru dengan kekayaan itulah rakyat China akan semakin sejahtera. Jadi tujuan kesejahteraan rakyatnyalah yang sama. Tidak peduli cara apa yang dipakai. Maka Deng mengkombinasikan sosialisme dan komunisme ala Mao Ze Dong dengan kapitalisme.

Hasilnya? China memperoleh kemajuan yang luar biasa. Satu milyar lebih penduduk dengan wilayah yang sangat luas dan kendala musim yang tak memungkinkan petaninya bercocok tanam sepanjang tahun, tidak menjadi kendala. Ketika di negeri kita riuh Penataran P-4 di tahun 80-an, kita menempatkan jumlah penduduk kita yang besar (200 juta) sebagai modal dasar. Sayangnya, jumlah penduduk yang besar itu sampai saat ini tetap saja terbenam laksana harta karun. Ketika itu kita sering membuat perbandingan, kenapa Singapura maju pesat, karena penduduknya hanya dua juta jiwa. Tetapi ternyata, China yang jumlah penduduknya jauh lebih besar, sungguh-sungguh bisa menggerakkan modal dasarnya itu menjadi admitted asset (kekayaan diperhitungkan) yang sangat mengagumkan dengan pendekatan kucing putih kucing hitam Deng Xiaoping. Kucing putih kucing hitam itu juga menghabisi tikus-tikus yang menggerogoti program pembangunan dan anggaran China. Tak ada basa-basi, bila tertangkap korupsi, langsung hukuman mati.

Kucing putih kucing hitam Deng Xiaoping agaknya menarik untuk direnungkan. Kita terlalu banyak menghabiskan waktu berpikir tentang kutub-kutub tetapi abai terhadap muatan yang berada diantara dua kutub. Partai-partai politik misalnya, menghabiskan waktunya untuk memikirkan diri sendiri, mereka abai terhadap rakyat yang punya kedaulatan, yang sesungguhnya menjadi tujuan akhir dari segala macam ikhtiar. Para pengurus sepakbola di tanah air sibuk mempertahankan eksistensi masing-masing, PSSI ini, PSSI itu, PSSI hantu belau, dan seterusnya. Kita abai, hasil akhir dari organisasi persepakbolaan itu, masyarakat ingin sebuah tim nasional yang tangguh yang bisa membanggakan. Dengan atau tanpa menandatangani pakta integritas anti korupsi, yang penting adalah perilaku sehari-hari. Masih ingat? Beberapa kepala daerah dulu menjadi yang terdepan menandatangani komitmen anti korupsi, tapi daerah itu pula yang melanggarnya. Masyarakat kita paling pandai membuat seremoni, upacara, menghormati prosedur, membuat organisasi, tapi lalai dalam hal esensi. Setuju kucing Deng.

fabel - Koran Riau 19 Februari 2013
Tulisan ini sudah di baca 1907 kali
sejak tanggal 20-02-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat