drh. Chaidir, MM | Kura-kura dan Pohon Kelapa | APA yang  nampak bila orang panjat pohon kelapa? Pastilah segala penjuru, pemandangannya luas, dan tentu, yang nampak di depan mata adalah buah kelapa. Apa pula yang nampak bila kura-kura panjat pohon kelapa? Bohongnya, itulah yang tampak.  Sebab kura-kura tidak mungkin memanjat pohon kelapa. Binata
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Kura-kura dan Pohon Kelapa

Oleh : drh.chaidir, MM

APA yang nampak bila orang panjat pohon kelapa? Pastilah segala penjuru, pemandangannya luas, dan tentu, yang nampak di depan mata adalah buah kelapa. Apa pula yang nampak bila kura-kura panjat pohon kelapa? Bohongnya, itulah yang tampak. Sebab kura-kura tidak mungkin memanjat pohon kelapa. Binatang melata berkaki empat dan berpunggung keras seperti topi waja ini tak pandai memanjat. Mungkin karena topi wajanya terlalu berat.

Tapi kura-kura bukan tak bisa menaiki pohon kelapa. Bagaimana caranya? Tentu bila pohon kelapanya tumbang dan rebah ke bumi. Maka, perumpamaan pun dibuat oleh orang tua-tua, kalau pohon kelapa itu sudah tumbang, kura-kura pun bisa naik. Dengan kata lain, kalau pohon kelapa itu sudah rubuh, jangankan orang, kura-kura saja bisa menginjaknya. Perumpamaan tersebut ibarat pedang bermata dua yang kedua sisi sama tajamnya. Sisi pertama, nasihat bagi pohon yang tumbang, begitulah adatnya, berlapang dada saja dan terima dengan ikhlas. Bagi pohon yang belum tumbang, ingatlah, suatu saat akan tumbang juga. Bisa tumbang karena ditebang, bisa karena terpaan angin kencang, bisa karena batangnya berlubang digerek kumbang, bisa karena akarnya dimakan lundi. Sisi kedua, sindiran bagi bangsa kura-kura dan bangsa makhluk lain, yang baru berani beramai-ramai menginjak pohon kelapa tersebut setelah sang pohon tumbang.

Namun sesungguhnya fenomena kura-kura menginjak pohon kelapa itu, sudah diingatkan beberapa abad lalu oleh seorang seniman, penulis, pujangga, pemain drama terkenal bangsa Inggris, William Shakespeare (1564 1616). Apa hubungan kura-kura dengan Sang Pujangga? Tidak ada hubungan khusus. Shakespeare menulis, "Ketika penderitaan datang, mereka tidak pernah datang sendirian, tetapi dalam sejumlah batalyon." Shakespeare sesungguhnya hendak mengatakan dengan kata lain bahwa penderitaan itu tak pernah datang seorang diri. Penderitaan selalu datang dengan membawa teman-temannya. Maka sering kita lihat dan kita dengar, seseorang yang sedang tertimpa masalah akan tertimpa pula masalah lain. Beberapa masalah bisa datang timpa-menimpa. Seseorang terdakwa di meja hijau misalnya, sering kita dengar dituntut dengan pasal berlapis.

Dalam kearifan budaya kita pun ada bidal, "Sudah jatuh diimpit tangga." Peribahasa ini untuk menggambarkan seseorang yang ditimpa kesukaran berturut-turut. Fenomena ini sering kita lihat di sekeliling kita dalam kehidupan sehari-hari. Dan bila kita mencermati untaian kata-kata bijak pujangga Shakespeare di atas, fenomena "sudah jatuh diimpit tangga" ini sebenarnya sudah bersifat universal. Penderitaan yang datang bertoboh itu bisa terjadi dimana-mana, di Inggris, di Roma, di Mesir, di Semenanjung, juga di negeri kita.

Hari-hari terakhir ini, 'pohon kelapa yang bertumbangan' itu memang kita saksikan ada di sekitar kita. Keadaan yang sesungguhnya bisa dihindari dan tak perlu terjadi. Suka atau tidak hal itu telah mengusik simfoni kehidupan masyarakat, dan membuat suasana jadi kurang nyaman. Tegak salah duduk pun salah. Kita hanya bisa prihatin. Memang tidak enak menjadi pohon kelapa yang tumbang, tetapi itu bagian kehidupan yang harus kita lalui, sebagian daripadanya adalah akibat human error, kesalahan yang dilakukan oleh manusia disengaja atau tidak disengaja, tapi sebagian lainnya adalah skenario Sang Pencipta yang tak terjangkau logika biasa.

Kura-kura sendiri sesungguhnya tak pernah ada maksud untuk menaiki pohon kelapa yang tumbang, mempermalukan. Mereka sadar diri sebagai hewan melata. Jangankan ketawa, menangis pun mereka tak bisa. Tak percaya? Tanyalah kura-kura.

fabel - Koran Riau 12 Februari 2013
Tulisan ini sudah di baca 1414 kali
sejak tanggal 13-02-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat