drh. Chaidir, MM | Sepandai-pandai Tupai Melompat | JANGAN ajari tupai terbang, apalagi dari bawah ke puncak pohon, tupai pasti tak bisa melakukannya. Diancam hukuman mati sekalipun, mereka tak akan pernah bisa. Tapi jangan ajari tupai melompat. Tupai pakar dalam melompat dari dahan ke dahan, dari pohon ke pohon. Mereka tak kenal istilah gamang, seti
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Sepandai-pandai Tupai Melompat

Oleh : drh.chaidir, MM

JANGAN ajari tupai terbang, apalagi dari bawah ke puncak pohon, tupai pasti tak bisa melakukannya. Diancam hukuman mati sekalipun, mereka tak akan pernah bisa. Tapi jangan ajari tupai melompat. Tupai pakar dalam melompat dari dahan ke dahan, dari pohon ke pohon. Mereka tak kenal istilah gamang, setinggi apapun dahan pohon.

Belum pernah ada yang melaporkan tupai gagal melompat. Atau bahkan misalnya, ada yang merekam kejadian fatal tersebut. Chanel televisi Animal Planet, yang khusus menyiarkan hewan dan perilakunya dari seluruh penjuru dunia, juga belum pernah menyiarkan kejadian tak terduga tupai jatuh karena melompat.

Kenapa tupai piawai melompat? Karena tupai tak punya sayap seperti burung, jadi tupai hanya bisa melompat. Alasan lain, karena tupai secara anatomis memiliki kuku yang tajam dan kokoh, kaki dan tangan sama tangkasnya mencengkeram, dan badannya ringan. Tubuhnya pun ramping terlatih. Entah dari mana asal usulnya sehingga manusia pandai-pandai membuat peribahasa, "Sepandai-pandai tupai melompat, sekali-sekali jatuh juga." Kenapa manusia under estimate, anggap remeh, terhadap kemampuan tupai?

Sesungguhnya, peribahasa itu bukan dimaksudkan untuk meremehkan tupai. Peribahasa itu ditujukan kepada manusia agar jangan takabur. Tupai saja, yang sepanjang hayatnya selalu melompat ke sana kemari untuk mencari makan, mengejar lawan, atau melarikan diri, untuk mempertahankan hidupnya, bisa saja jatuh. Ini semata-mata logika akal sehat manusia. Adakah misalnya, itik yang tenggelam saat berenang? Mestinya tidak. Sebab pekerjaan itu mereka lakukan secara mekanistik, dan keterampilan itu sudah dari sononya. Tapi, hal yang diluar kebiasaan bisa saja terjadi kalau misalnya itiknya sakit. Tupai juga demikian. Tupai dan juga itik tidak punya akal. Mereka hanya punya insting. Bila ada bahaya misalnya, tupai akan melarikan diri. Insting menjauh dari bahaya disebut insting melarikan diri.

Manusia normal punya akal. Akal sehat manusia (common sense) selalu mendominasi pikiran manusia. Sayangnya akal sehat ini jugalah yang sering kali menjebak manusia. Manusia sering memotivasi dirinya sendiri dengan ungkapan talk less do more, sedikit bicara lebih banyak bekerja. Dalam pelaksanaannya, manusia selalu tidak puas dengan apa yang telah diperoleh. Nafsu ingin lebih, dapat jatu juta ingin sepuluh juta, dapat satu milyar ingin sepuluh milyar. Dapat bupati ingin jadi gubernur, dapat gubernur ingin jadi menteri. Dapat satu hektar kebun ingin sepuluh hektar, seratus hektar, dan seterusnya. Dapat satu rumah, ingin dua, tiga rumah. Celakanya, orang rumah pun ingin ditambah juga dengan dua, tiga, atau empat, sesuai dengan jumlah rumahnya.

Nafsu ingin berlebih itu seringkali menjadi berlebihan. Impor seratus ton daging melalui cara-cara yang legal misalnya sudah memberikan keuntungan besar, tetapi karena manusia punya akal yang selalu mengingatkan manusia, kamu mampu lebih banyak, bekerja lebih keras, kenapa tidak? Akal manusia pun berubah dengan keberanian mengakal-akali, maka sesuatu yang sudah baik dan legal diakal-akali menjadi lebih, lebih dan lebih, akhirnya berlebihan. Maka, seseorang yang tadinya sudah piawai melakukan usaha dagang impor tersebut kebablasan menjadi berlebihan. Kondisi seperti itulah yang dibidalkan oleh orang tua-tua, seperti tupai melompat: "Sepandai-pandai tupai melompat, sekali-sekali jatuh juga." Tak sangka.

fabel - Koran Riau 5 Februari 2013
Tulisan ini sudah di baca 2130 kali
sejak tanggal 06-02-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat