drh. Chaidir, MM | Kekuasaan = Tanduk | KERBAU memang selalu digambarkan sebagai hewan yang dungu. Mau saja diakal-akali oleh manusia untuk dicucuk hidungnya. Kalau hidung sudah dicucuk dan diikat dengan tali, kemanapun ditarik kerbau akan ikut, tidak bisa menolak, bahkan bila ditarik ke rumah jagal sekalipun. Oleh karena itulah ada bidal
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Kekuasaan = Tanduk

Oleh : drh.chaidir, MM

KERBAU memang selalu digambarkan sebagai hewan yang dungu. Mau saja diakal-akali oleh manusia untuk dicucuk hidungnya. Kalau hidung sudah dicucuk dan diikat dengan tali, kemanapun ditarik kerbau akan ikut, tidak bisa menolak, bahkan bila ditarik ke rumah jagal sekalipun. Oleh karena itulah ada bidal "bagai kerbau dicucuk hidung."

Tapi kerbau sesungguhnya bukan tak punya sesuatu. Kerbau adalah hewan legendaris. Dalam legenda Tiongkok kuno misalnya, filsuf Lao Tze digambarkan melakukan perjalanan meninggalkan negeri Tiongkok melalui terusan Han Gu dengan menunggangi kerbau. Dalam mitologi Hindu pula, dewa kematian Yama sering digambarkan menunggangi kerbau. Dalam cerita rakyat Sumatera Barat, kerbau tak kalah melegenda, sehingga rumah adat Minang pun bergonjong melambangkan tanduk kerbau.

Kenapa kerbau? Karena kerbau memiliki tanduk. Bila harimau bertuah karena belangnya, burung bertuah karena sayapnya, kerbau bertuah karena tanduknya. Tanduk kerbau adalah simbol otoritas dan kekuasaan (power and authority). Dalam visualisasi, dewa-dewa banyak digambarkan memiliki tanduk. Panglima-panglima perang dalam mitos Romawi kuno juga digambarkan memiliki atribut helm bertanduk. Rupanya dewa-dewa dan panglima, tak cukup pede dengan kekuasaannya sebelum menggambarkannya dalam bentuk kepala bertanduk. Maka, tanduk itu tak lebih tak kurang adalah kekuasaan (horn is power).

Tanduk bagi kerbau adalah senjata andalan dan satu-satunya senjata untuk mempertahankan diri dari serangan predator. Bentuknya yang runcing dan kokoh bisa mencederai bahkan membunuh lawannya. Pada kerbau piaraan yang jinak, tanduk kerbau bisa dipegang dan kesannya tidak menakutkan. Tetapi jangan coba-coba dengan kerbau liar di Afrika. Kerbau liar di hutan Afrika digolongkan dalam sepuluh hewan yang berbahaya di dunia, di samping ular mamba hitam, ikan piranha, singa Afrika, kuda nil, hiu putih, gajah, salah satu jenis ubur-ubur, salah satu jenis laba-laba, dan buaya air asin). Kerbau liar di hutan Afrika berbahaya karena memiliki tanduk yang tajam, punya sifat tak terduga (eksplosif) dan sangat berbahaya bagi manusia, karena mereka bisa menyerang tiba-tiba tanpa tanda-tanda. Mereka bisa menyerang tiba-tiba tanpa diganggu.

Di samping tanduk yang tajam, kerbau liar Afrika mempunyai naluri persatuan kelompok yang kuat dan sangat agresif menghadapi predator. Mereka hidup dalam kawanan dan siap berperang kapan saja. Kawanan kerbau liar ini bisa mengalahkan seekor singa, bahkan membunuh singa yang coba-coba mengganggu kelompoknya. Bila ada musuh, anak-anak mereka tempatkan di tengah kawanan.

Kerbau tidak hanya memberi warisan kekuasaan melalui tanduknya yang tajam, kelompok kerbau liar bahkan juga memberi contoh kebersamaan dalam kelompok perkawanan dalam menghadapi bahaya. Kerbau juga memberi tip berupa ilmu kerbau. Ilmu kerbau tersebut adalah berupa jurus silat taktis dalam menghadapi musuh: "Biar kepala berluluk asal tanduk mengena." Biarlah kepalanya kotor kena lumpur, tetapi maksud tercapai, tanduknya bisa menghajar musuh. Oleh karena itu, harimau atau singa yang berpengalaman, akan sangat hati-hati dengan terlebih dulu menyerang pada bagian kaki kerbau. Menyerang leher kerbau seperti yang dilakukan harimau terhadap hewan lain, sama saja dengan bunuh diri. Tanduk kerbau akan menghujam di rusuk harimau.

Simbol kekuasaan pada kerbau tersebut, sering digunakan pula oleh manusia secara sewenang-wenang untuk melambangkan kekuasaannya. Seseorang yang unjuk kekuasaan misalnya, sering disebut "keluar tanduknya." Kerbau menggunakan kekuasaannya hanya berdasarkan naluri, manusia menggunakan tanduknya dengan akal sehat, itulah bedanya. Tapi bila manusia menggunakan tanduknya sesuka hati tanpa akal sehat dan etika sopan santun, apa bedanya dengan satwa legendaris itu? Sakaw.

fabel - Koran Riau 29 Januari 2013
Tulisan ini sudah di baca 1370 kali
sejak tanggal 30-01-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat