drh. Chaidir, MM | Susu Kuda Liar | PADA suatu hari beberapa tahun silam, selaku Ketua DPRD Riau, saya memimpin langsung rombongan kunjungan studi banding DPRD Riau ke Provinsi Nusa Tenggara Timur. Lazimnya, agenda pertama adalah audiensi dengan pemerintah setempat, Pemprov NTT. Barangkali karena rombongan DPRD Riau dipimpin langsung
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Susu Kuda Liar

Oleh : drh.chaidir, MM

PADA suatu hari beberapa tahun silam, selaku Ketua DPRD Riau, saya memimpin langsung rombongan kunjungan studi banding DPRD Riau ke Provinsi Nusa Tenggara Timur. Lazimnya, agenda pertama adalah audiensi dengan pemerintah setempat, Pemprov NTT. Barangkali karena rombongan DPRD Riau dipimpin langsung oleh Ketua DPRDnya, maka untuk tatakrama keprotokolan, pertemuan audiensi dipimpin oleh Wakil Gubernur NTT, Drs Frans Lebu Raya.

Untuk menghormati tamu, Wagub Drs Frans Lebu Raya, mempersilakan saya memberikan sambutan, menyampaikan maksud kunjungan, dan sekaligus memperkenalkan anggota rombongan. Bukankah tak kenal maka tak sayang? Sayapun pasang aksi dengan 'pede' menggunakan jurus ilmu retorika, memulai sambutan dengan sebuah anekdot yang tiba-tiba berkelebat muncul dalam pikiran, sebagai pencair suasana (ice breaking). Pada masa itu di Riau (bahkan saya juga melihat di sebuah toko obat di Padang Panjang, Sumbar), susu kuda liar NTT dipromosikan sebagai minuman yang mujarab untuk mengobati segala macam penyakit seperti jantung, asma, termasuk lemah sahwat (khasiat yang disebut terakhir ini suka dipelototi oleh kalangan setengah tua ke atas).

Maka, tanpa tedeng aling-aling, saya langsung tancap gas. "Pak Wagub yang terhormat, rombongan kami agak besar, sebenarnya lebih banyak lagi yang ingin berangkat ke NTT, salah satu daya tariknya adalah, kami ingin menikmati susu kuda liar NTT. Susu kuda liar NTT sangat terkenal di Riau." Saya membuka sambutan. Tetapi aneh, yang tertawa hanya rombongan DPRD Riau, sementara Wagub beserta stafnya diam saja. Tidak ada respon. Saya melanjutkan sambutan sambil menyimpan sebuah teka-teki dalam hati. Ada apa sebenarnya? Setelah pertemuan, teka-teki terjawab. Seseorang berbisik kepada saya. Kuda liar di NTT maksudnya adalah WTS alias PSK. Muka saya terasa merah membara menahan malu. Apalagi kemudian teman-teman bergurau, "bagaimana Pak Ketua, masih berminat dengan susu kuda liar?"

Dalam ilmu retorika, penggunaan anekdot atau humor adalah kiat ampuh untuk mencuri perhatian audien, atau membuat susana menjadi akrab sehingga pesan dari tema sambutan atau pidato diterima oleh audien. Namun, anekdot atau humor harus sesuai dengan tema, kontekstual, dan tidak menyinggung perasaan pendengar. Anekdot susu kuda liar adalah sebuah contoh anekdot yang gagal karena digunakan pada tempat yang tidak tepat. Tetapi ketika kekonyolan saya di NTT itu saya ceritakan pada sebuah pertemuan lain di Pekanbaru, untuk menertawakan diri sendiri, saya berhasil memancing tawa.

Kesalahan penggunaan humor itu secara sangat fatal menimpa Hakim Daming Sanusi, ketika mengikuti fit and proper test (uji kelayakan dan kepatutan) sebagai Calon Hakim Agung yang dilakukan oleh DPR beberapa hari lalu. Seperti diketahui bersama, dalam test tersebut salah seorang Anggota Komisi III DPR menanyakan apakah pelaku pemerkosaaan pantas dihukum mati. Dengan nada bercanda Daming mengatakan, bahwa pelaku dan korban pemerkosaan sama-sama menikmati. Ungkapan yang sebenarnya dimaksudkan oleh Hakim Daming sebagai sebuah humor untuk mencairkan suasana, karena muatan dan momennya tidak tepat, berbuntut panjang. Hakim Daming Sanusi, tidak hanya dinyatakan tidak lulus sebagai Calon Hakim Agung, dia dihujat oleh berbagai kalangan, bahkan Komisi Yudicial (KY) merekomendasikan Daming dipecat. Dalam sidang pleno Komisioner KY (18/1), Daming dintakan telah melanggar kode etik dan perilaku hakim.

Insiden susu kuda liar, terlebih lagi gurauan Daming harus menjadi iktibar bagi para petinggi kita, hati-hati melontarkan humor ketika sedang berpidato, tetapi jangan karena terlalu berhati-hati kehilangan rasa humor. Humor itu garam dan bumbu penyedap, kalau tak ada gulai akan terasa hambar.

fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 1367 kali
sejak tanggal 23-01-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat