drh. Chaidir, MM | Keledai Buridan | FILSUF Yunani kuno, Aristoteles, murid Plato, barangkali patut dipersalahkan karena dengan cerita Keledai Buridan yang dikarangnya, sampai sekarang keledai dicap sebagai hewan yang bodoh, pandir dan keras kepala. Keledai Buridan, sebagaimana ditulis Aristoteles,  memiliki dua bal jerami makanan favo
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Keledai Buridan

Oleh : drh.chaidir, MM

FILSUF Yunani kuno, Aristoteles, murid Plato, barangkali patut dipersalahkan karena dengan cerita Keledai Buridan yang dikarangnya, sampai sekarang keledai dicap sebagai hewan yang bodoh, pandir dan keras kepala. Keledai Buridan, sebagaimana ditulis Aristoteles, memiliki dua bal jerami makanan favoritnya. Keledai itu harus memilih dua bal jerami yang sama-sama diinginkannya dan terletak sama jauhnya. Keledai itu mondar-mandir diantara kedua bal jerami, tak bisa mengambil keputusan karena tidak ada alasan untuk lebih menyukai bal jerami yang satu daripada yang lainnya. Keledai itu kemudian mati kelaparan.

Aristoteles tidak sendiri dalam mempermalukan keledai. Di abad Sebelum Masehi itu ada penulis lain yang sering mengeksploitasi kebodohan dan kedunguan keledai dalam tulisan-tulisannya, penulis itu adalah Homer dan Aesop.

Sesungguhnya, keledai itu pintar-pintar bodoh. Keledai pengangkut garam sebagaimana banyak dikisahkan, adalah sebuah contoh. Alkisah, seekor keledai harus mengangkut beban berupa karung berisi garam yang sangat berat, di tengah terik matahari pula. Karena kehausan, sang keledai minum di sebuah sungai, namun karena beban di punggungnya, keledai terpeleset dan jatuh. Dia berusaha bangkit, tetapi sangat susah karena bebannya yang berat. Keajaiban kemudian terjadi, bebannya dirasakan makin lama makin ringan dan keledai bisa bangun dengan mudah. Sang keledai tentu saja tidak paham, garam yang diangkutnya larut dalam sungai. Esok hari ketika dia kembali mengangkut karung garam yang berat, keledai kembali menjatuhkan dirinya di sungai (ternyata keledai pintar kan?..He..he..he). Kejadian serupa berulang beberapa hari. Tuannya jengkel atas kelakuan keledai tersebut, maka suatu hari memberi beban karung kapas yang sangat besar. Keledai bersiul karena bebannya terasa ringan. Setiba di sungai kembali menjatuhkan diri sambil minum sepuasnya. Namun, apa yang terjadi, karung bebannya menjadi sangat berat karena kapas tersebut menyerap air.

Kalau begitu, sebenarnya keledai juga tidak bodoh-bodoh amat. Tapi kenapa keledai diberi stigma sebagai hewan bodoh? Setelah melalui kajian serius, disimpulkan, hal itu ternyata disebabkan karena perilaku keledai pada umumnya disalahpahami karena perilaku mereka dibandingkan dengan kuda, ketimbang dilihat sebagai spesies yang terpisah. Dengan melihat pada evolusi keledai yang dipelihara dan perilaku keledai yang hidup bebas, akan mungkin terjelaskan perbedaan perilaku keledai dan bagaimana reputasi mereka menjadi dikenal keras kepala dan bodoh. Simpulan ini terungkap dalam sebuah diskusi serius di London, beberapa waktu lalu, antara para pakar di bidang kuda, keledai, dan budaya jenis hewan dari seluruh dunia, yang diadakan oleh School of Oriental and African Studies di Universitas London (www.beritasatu.com).

Ada dua bidal yang sering diungkapkan orang berkenaan dengan keledai. Pertama, "hanya keledai yang pernah jatuh pada lubang yang sama dua kali." Kedua, "keledai saja tidak pernah jatuh pada lubang yang sama." Kedua bidal tersebut kedengarannya beda, tapi sama tak enaknya bagi keledai. Dibolak-balik, tetap saja memberi stigma negatif kepada keledai, bahwa keledai adalah hewan yang bodoh. Maka kalau tak mau dianalogkan seperti keledai jangan membuat kesalahan atau kebodohan yang sama. Sebodoh-bodohnya keledai, mereka ingat lubang dimana mereka pernah jatuh, sehingga keledai tak akan pernah jatuh kedua kalinya pada lubang yang sama. Atau berbuat kebodohan seperti Keledai Buridannya Aristoteles itu, yang tak ubahnya ayam bertelur di lumbung padi mati kelaparan.

Tahun 2012 berlalu dengan banyak lubang menganga dan catatan hitam karena kebodohan. Evaluasi secara obyektif dan independen serta introspeksi secara jujur adalah cara agar kita tak dianggap sama seperti keledai, bernasib malang karena kebodohan. Bukankah kita tak rela disebut bodoh-bodoh amat? Selamat Tahun Baru 2013.

fabel - Koran Riau 31 Desember 2012
Tulisan ini sudah di baca 1089 kali
sejak tanggal 02-01-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat