drh. Chaidir, MM | Sapi Perah Tak Pernah Mengeluh | MELENGUH bagi sapi perah, biasa. Tapi mengeluh tak pernah mereka lakukan kendati ambing susunya diperah setiap hari. Tak percaya? Tanyalah langsung kepada sang sapi. Sapi perah justru terlihat resah gelisah bila susu mereka tidak diperah rutin setiap hari. Kalau sang sapi mengeluh tak senang, mereka
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Sapi Perah Tak Pernah Mengeluh

Oleh : drh.chaidir, MM

MELENGUH bagi sapi perah, biasa. Tapi mengeluh tak pernah mereka lakukan kendati ambing susunya diperah setiap hari. Tak percaya? Tanyalah langsung kepada sang sapi. Sapi perah justru terlihat resah gelisah bila susu mereka tidak diperah rutin setiap hari. Kalau sang sapi mengeluh tak senang, mereka pasti menendang. Dan tendangan sapi, mak oii, bisa membuat KO bila mengenai daerah terlarang tuannya.

Oleh karena itu sebenarnya, perumpamaan BUMN sebagai sapi perah, agaknya kurang tepat. Entah sejak kapan dan siapa yang mempopulerkan perumpamaan tersebut. Sebab, sapi perah memang melenguh tapi tak pernah mengeluh. Mereka tak pernah protes walaupun susu mereka diambil setiap hari berliter-liter banyaknya. Mereka tak pernah berunjukrasa kenapa sejak lahir sampai mati mereka selalu menjadi sapi perah. Mereka juga, satu kali saja tak pernah marah, walau setiap hari dikurung. Sapi perah tetap tenang dan tetap produktif.

BUMN yang dianggap sapi perah itu, tak mau tinggal diam dan pasrah seperti sapi perah. Sekali dua kali tiga kali, sepuluh kali "susu" mereka dicukai untuk bayar pajak preman, mereka masih diam. Tapi lama kelamaan ketika keuntungan perdagangan "susu" sudah semakin menipis dan produksi "susu" juga menurun, upeti terasa makin berat, mereka berontak. Hal itu wajar, karena persaingan usaha semakin ketat, biaya produksi semakin meningkat, tuntutan konsumen juga semakin bervariasi. Bahkan bila kegiatan usaha dijalankan seperti biasa atau business as usual, BUMN tak akan menghasilkan profit. Kondisi itu kemudian semakin kurang kondusif karena oknum yang meminta upeti juga semakin banyak, mulai oknum kelas teri sampai politisi kelas tinggi.

Akibat perah-perahan, peras-perasan, maka sejumlah politisi oknum anggota DPR harus berurusan dengan Badan Kehormatan DPR akibat ulah "sapi perah" yang tiba-tiba gerah dan marah. Konfrontasi antara pelapor atas pemungutan upeti (Menteri BUMN Dahlan Iskan dan kawan-kawan direksi beberapa perusahaan BUMN) dengan pihak terlapor (beberapa oknum anggota DPR, tak terhindarkan. Hasilnya, empat nama dipulihkan (direhabilitasi) melalui sidang paripurna DPR, yakni Saidi Butar-butar, Linda Megawati, M Hatta dan I Gusti Agung Ray; dua nama lain yakni Andi Timo Pangeran dan Muhammad Ichlas El Qudsy, dianggap salah nama dan sudah direvisi oleh Menteri Dahlan Iskan, mereka tidak tersangkut dalam kasus upeti ini. Empat anggota DPR lainnya, oleh BK DPR dianggap bersalah melanggar kode etik DPR dan kepada mereka diberi sanksi ringan sampai sedang.

Dari obrolan kedai kopi, keputusan sidang paripurna DPR (14/12/2012) tersebut yang memberikan rehabilitasi dan sanksi ringan sampai sedang, dianggap sebuah anti klimaks terhadap kasus yang telah bikin gaduh ranah politik negeri. Penyelesaian itu tak akan bikin jera untuk tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama. Sebaliknya, dengan keberadaan DPR yang powerfull dewasa ini, upaya pengungkapan praktik kongkalikong di DPR, bisa-bisa menjadi boomerang bagi perusahaan BUMN. Ini sebuah preseden buruk.

Apa boleh buat. Sistem hukum positif yang kita anut membuat penegakan hukum di negeri ini selalu terkungkung oleh prosedur dan fakta-fakta hukum. Menteri Dahlan Iskan agaknya tak memiliki bukti-bukti yang kuat untuk menggiring masalah ini ke KPK. Sementara, Anggota DPR Komisi IV terus memperluas wawasan tentang persapian dengan studi banding peternakan ke Prancis dan China. Banyak ilmuwan yang heran, sebab kiblat peternakan dunia itu adalah Australia dan Selandia Baru, ke negeri-negeri inilah kita banyak melakukan kerjasama bisnis. Tapi tak masalah, sapi-sapi perah di Prancis dan di China, bahasanya sama dengan sapi-sapi perah di negeri kita, mereka tak pernah mengeluh, kecuali sapi perah yang bernama BUMN.

fabel - Koran Riau 18 Desember 2013
Tulisan ini sudah di baca 881 kali
sejak tanggal 19-12-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat