drh. Chaidir, MM | Manusia Serigala | SERIGALA dan manusia jelas beda secara fisik. Ya iyalah, siapa juga yang bilang sama, mirip pun bukan.  Perbedaannya tegas, yang satu berkaki empat, yang lainnya berkaki dua. Yang satu bertelanjang bulat, yang lain berbusana. Kendati sering disebut ada manusia serigala, itu hanya mitos, tapi kemudia
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Manusia Serigala

Oleh : drh.chaidir, MM

SERIGALA dan manusia jelas beda secara fisik. Ya iyalah, siapa juga yang bilang sama, mirip pun bukan. Perbedaannya tegas, yang satu berkaki empat, yang lainnya berkaki dua. Yang satu bertelanjang bulat, yang lain berbusana. Kendati sering disebut ada manusia serigala, itu hanya mitos, tapi kemudian mitos ini banyak difilmkan. Dalam mitos tersebut manusia bisa berubah bentuk menjadi serigala yang menakutkan, atau sebaliknya serigala berubah bentuk menjadi manusia. Ketika bulan purnama manusia serigala berubah kembali menjadi serigala.

Perbedaan paling prinsip dan tak bisa ditawar-tawar, manusia memiliki akal budi yang memungkinkan makhluk ini disebut homo sapiens, makhluk pemikir yang mampu membedakan baik-buruk, salah-benar, punya hati nurani dan punya perasaan. Serigala tidak memiliki akal budi, mereka hanya memiliki insting. Serigala hanya dibekali hawa nafsu, bahkan hawa nafsunya luar biasa besar. Mereka tidak mengenal istilah berhenti makan sebelum kenyang, hewan hidup mereka makan, bangkai pun tak ditolak. Serigala termasuk hewan yang rakus dan buas.

Di dunia ilmu kehewanan, diketahui, bahwa dalam hal indera pendengaran, serigala dua puluh kali lebih awas pendengarannya dibandingkan manusia. Dalam indera penciuman, serigala seratus kali lebih tajam daripada manusia. Oleh karena iu tidak heran, dalam jarak puluhan kilometer serigala bisa mencium bau badan manusia, apalagi ditolong oleh arah angin. Serigala juga memiliki rahang yang sangat kuat. Para ahli menyebut, kekuatan tekanan rahang serigala lebih dari 250 kilogram per inci. Penglihatan serigala juga sangat tajam dan sensitif terhadap setiap gerakan. Serigala memiliki retina reflektif yang dapat meningkatkan kemampuan penglihatan di malam hari sehingga memudahkan mereka untuk berburu mangsanya. Serigala ternyata juga merupakan atlit lari yang tangguh. Stamina yang sangat kuat. Mereka dapat menempuh jarak lebih dari delapan belas mil dengan langkah cepat, kecepatannya bisa mencapai 40 mil per jam. Dengan stamina yang bagus dan perlengkapan indera yang lebih canggih, serigala tentu akan menjadi berbahaya bila seandainya mereka sedikit memiliki akal.

Makhluk manusia, kendati dibekali akal budi, adakalanya tak bisa mengendalikan hawa nafsunya. Kecenderungan naluri primitif yang liar dari makhluk manusia ini disebut oleh Plautus Asinaria (495 M) sebagai homo homini lupus, manusia adalah serigala bagi sesama, atau ada juga yang menerjemahkannya secara bebas, manusia yang satu menjadi serigala bagi manusia lainnya. Kecenderungan homo homini lupus itulah yang dirisaukan oleh filsuf Thomas Hobbes dari Inggris (1588 - 1679). Negara dibutuhkan memainkan peran yang besar dan amat penting agar mampu mencegah adanya praktik homo homini lupus itu. Sebab, karena kecenderungan persaingan antar sesama manusia, dimungkinkan adanya kesewenang-wenangan terhadap pihak yang lemah.

Kekhawatiran Hobbes itu agakya wujud dalam kehidupan kita sehari-hari dewasa ini. Praktik-praktik mafia, pemerasan, premanisme, korupsi, kolusi, tawuran antar sekolah, tawuran antar kampus, geng motor, bentrok fisik antar kampung dan antar kelompok, sebenarnya, adalah perilaku serigala yang ditiru oleh manusia secara salah kaprah. Disebut salah kaprah karena kerakusan dan kebuasan serigala tersebab karena mereka tak dibekali akal budi.

Manusia bukan serigala, karena manusia sekali lagi memiliki akal budi. Manusia adalah makhluk pemikir dan sekaligus makhluk sosial. Manusia memerlukan orang lain untuk berinteraksi (kekeluargaan, persahabatan, percintaan, dan sebagainya). Prof. Dr. Nicolaus Driyarkara SJ menyebut tesis homo homini socius, manusia adalah kawan bagi sesama. Pemikiran Prof Driyarkara ini merupakan kritik sekaligus ingin mengoreksi sosialitas preman menurut Plautus Asinaria, homo homini lupus. Saling terkam, saling serang, saling memangsa, saling bunuh, saling membenci, hanya ada dalam dunia serigala, dan kita bukan serigala.

fabel - Koran Riau 27 November 2012
Tulisan ini sudah di baca 1176 kali
sejak tanggal 28-11-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat