drh. Chaidir, MM | Beruk aja Bisa | ENTAH sejak kapan tradisi ini berawal. Manusia yang mengajari beruk memanjat pohon kelapa ataukah beruk yang mengajari manusia bagaimana caranya memanjat pohon kelapa. Jangan Tanya Tuan Darwin. Sebab menurut teori Darwin (yang banyak ditentang), kera itu nenek-moyangnya manusia. Mungkin yang dimaksu
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Beruk aja Bisa

Oleh : drh.chaidir, MM

ENTAH sejak kapan tradisi ini berawal. Manusia yang mengajari beruk memanjat pohon kelapa ataukah beruk yang mengajari manusia bagaimana caranya memanjat pohon kelapa. Jangan Tanya Tuan Darwin. Sebab menurut teori Darwin (yang banyak ditentang), kera itu nenek-moyangnya manusia. Mungkin yang dimaksud oleh Darwin adalah beruk. Sebab beruk lebih mirip manusia atau manusia lebih mirip beruk, karena beruk berekor pendek sementara kera berekor panjang. Manusia lebih pendek lagi ekornya dari beruk (eh..eh.. memang demikian lho, jangan dikira manusia tak memiliki tulang ekor; tulang ekor itu ada tetapi - untunglah - tidak tumbuh sempurna seperti tulang ekor beruk, kalau masih nggak percaya tanya sama dokter Ekmal Ruydi yang ahli anatomi manusia).

Di kampung-kampung yang belum diintervensi beruk atau kera, orang memanjat pohon kelapa untuk memetik buah kelapa yang tua, seberapa pun tinggi pohon kelapa itu. Orang pemanjat pohon kelapa memiliki keahlian dan saraf baja, mereka berani menantang maut, karena mereka memanjat tanpa pengamanan sama sekali. Modalnya hanya sebilah parang yang tersarung di pinggang. Tetapi di Padangpariaman, Sumatera Barat, tradisi beruk pemetik kelapa sudah lama ada. Sebenarnya tidak hanya di Padangpariaman, di beberapa kampung di Sumatera Utara, dan di kampung saya di Kecamatan Rokan IV Koto sana, bahkan juga di Malaysia, beruk dipergunakan jasanya untuk memetik buah kelapa.

Seorang warga Negara Belanda, Boelhouwer menulis dalam bukunya Herinneringen van mijn verblijf op Sumtra's Westkust gedurende de jaren 1831-1834 (Kenang-kenangan masa saya tinggal di Sumatera Barat selama tahun-tahun 1831-1834) yang dikutip oleh www.edisantana.blogspot.com sebagaimana dimuat google.com. Dalam catatan kenangan tersebut, Boelhouwer sangat terkesan dengan keterampilan beruk memetik kelapa sesuai arahan sang pemilik beruk. Dari kutipan itu terlihat, pada abad ke-19 tradisi menggunakan tenaga beruk sebagai pemetik kelapa sudah dikenal di Sumatera Barat. Artinya, jauh sebelum itu, masyarakat sudah menggunakan beruk yang sudah terlatih dengan baik sebagai pemetik kelapa.

Sampai saat ini tradisi yang sudah berlangsung berabad-abad tersebut terpelihara dengan baik dan sudah menjadi sebuah mata pencaharian sehingga jual-beli beruk pun tidak pernah sepi peminat. Di Pasar Ternak Sungai Sariak, Kecamatan VII Koto, Kabupaten Padangpariaman, Sumbar, sebagaimana dimuat www.tribunpekanbaru.com hewan primata liar beruk (Macaca nemestrina) dijual mulai harga Rp120 ribu hingga Rp250 ribu per ekor. Beruk jantan dijual Rp120 ribu sedang beruk betina dijual Rp 250 ribu per ekor, baik yang usia anak-anak maupun dewasa. Yang betina lebih mahal karena kalau sudah dewasa tidak akan melawan kepada tuannya, sedangkan beruk jantan lebih sulit karena suka melawan dan menggigit.

Beruk sebenarnya termasuk hewan yang buas, hampir sama dengan kera baboon di Afrika. Taringnya yang tajam dan dapat melukai orang lain atau bahkan si empunya. Jika sudah dewasa beruk ini akan jadi ganas karena puber apalagi jika tidak ada pasangannya. Salah satu cara untuk meredam keganasan sang beruk jantan adalah dengan mencarikan pasangan betinanya.

Beruk menjadi bisnis yang menguntungkan. Dengan jasa beruk ini, seorang pemilik akan mendapatkan 3 kelapa dari setiap 10 kelapa yang dipetiknya. Pemilik beruk akan menawarkan jasanya ke para pemilik kebun kelapa dengan berkeliling menggunakan sepeda ontel.

Di Malaysia beruk kadang dilombakan dalam kontes memetik kelapa. Jika beruk berhasil memetik kelapa terbanyak maka akan menjadi juara (http://id.shvoong.com).

Beruk sebenarnya bukan hewan piaraan. Dalam koloninya mereka hidup di alam bebas dari pagi sampai sore, beruk hanya sibuk melompat dari dahan ke dahan, makan, minum, berkelahi, kawin (hewan ini punya nafsu seksual yang besar), kemudian tidur di dahan-dahan pohon yang tinggi. Siapa menduga, beruk ternyata juga bisa dikendalikan dan disuruh bila diajar dengan baik. Satu dua ekor dari mereka ada yang bengal, tak mempan diberi tunjuk ajar, tapi umumnya cerdas dan berguna bagi kehidupan, tergantung proses belajar-mengajarnya. Beda-beda tipis dengan sang Tuan.

fabel - Koran Riau 23 Oktober 2012
Tulisan ini sudah di baca 1475 kali
sejak tanggal 24-10-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat