drh. Chaidir, MM | Lancang Kuning dan Burung Serindit | KISAH ini bukan legenda Lancang Kuning yang populer itu, walau kejadiannya di wilayah bekas teritorial Bengkalis juga. Bukan pula kisah burung serindit terbang sejoli. Dumai, kota bandar yang terletak di bibir Selat Melaka, tempat kisah terbetik, dulu memang merupakan bagian dari Kabupaten Bengkalis
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Lancang Kuning dan Burung Serindit

Oleh : drh.chaidir, MM

KISAH ini bukan legenda Lancang Kuning yang populer itu, walau kejadiannya di wilayah bekas teritorial Bengkalis juga. Bukan pula kisah burung serindit terbang sejoli. Dumai, kota bandar yang terletak di bibir Selat Melaka, tempat kisah terbetik, dulu memang merupakan bagian dari Kabupaten Bengkalis.

Sama seperti kisah tak sedap seputar peluncuran kapal Lancang Kuning dalam Legenda Lancang Kuning beberapa abad lampau, kisah Lancang Kuning dan Burung Serindit di Dumai dalam era modern ini juga tak kalah kurang sedapnya. Betapa tidak, Patung Lancang Kuning yang sudah berdiri 20 tahun lampau ketika Dumai baru saja meningkat statusnya dari Kecamatan dalam wilayah Kabupaten Bengkalis menjadi Kota Administratif, dirubuhkan demikian saja. Padahal patung itu oleh masyarakat setempat telah ditasbihkan sebagai simbol masyarakat Melayu, simbol Negeri Lancang Kuning.

Di tapak Patung Lancang Kuning itu kini berdiri Patung Burung Serindit, maskot PON Riau 2012. Sebenarnya tak ada yang salah dengan burung Serindit. Tak ada juga dosa sejarah yang ditanggung, bukan pula salah bunda mengandung. Bukankah burung serindit telah menjadi Lambang Burung Daerah? Karena itu burung menjadi maskot PON Riau 2012. Foto dan patung burung serindit tersebar dimana-mana, sedang bermain bola, bersepakraga, bermain bulutangkis, bermain bola voli, angkat besi, dan semua lengkap dengan pakaian Melayunya. Di sinilah masalah bermula atau dimula-mulakan. Pemuka masyarakat Melayu di Dumai tersinggung, patung burung serindit yang mengenakan baju dan atribut Melayu itu dinilai telah melecehkan khasanah Melayu. Di samping itu, menurut ceritanya, perobohan Patung Lancang Kuning dan menggantinya dengan Patung Burung Serindit tak pula dimusyawarahkan.

Sebenarnya apa yang terjadi, itu sebuah dinamika. Apalagi PON Riau 2012 sarat dengan permasalahan dan dilaksanakan dalam keadaan serba ketergesa-gesaan. Penyebabnya bukan karena jam besar yang berada di puncak Tugu Countdown di jantung kota Pekanbaru itu berhenti berdetak sehingga pihak PB PON tidak mengenal waktu. Bukan karena itu. Penyebabnya karena anggaran penyelesaian beberapa arena pertandingan dan untuk acara pembukaan dan penutupan terlambat mengucur. Semua menjadi kalang kabut. Mungkin karena itu pembangunan Patung Burung Serindit di Dumai terburu-buru, korbannya adalah Patung Lancang Kuning itu.

Masalahnya baru menjadi luar biasa dan tak terduga ketika perobohan Patung Lancang Kuning, dan kemudian diikuti dengan pembangunan Patung Burung Serindit berpakaian Melayu yang dianggap melecehkan itu, direspon secara sedikit agak berlebihan oleh sebagian masyarakat Melayu di Dumai yang dipelopori oleh ormas Laskar Melayu Dumai. Mereka mencetuskan pembakaran baju Melayu sebagai bentuk aksi protes. Setelah sepekan bergerak, lebih dari 400 baju Melayu yang berhasil terkumpul. Baju-baju ini konon hendak dibakar sebagai tanda amuk.

Untungnya (orang Melayu selalu untung kan?), baju-baju itu belum berurusan dengan korek api sehingga belum jadi abu. Ada upaya mediasi secara serius. Tokoh budaya Melayu di provinsi cepat tanggap terhadap amuk tersebut dan segera mengirim utusan untuk bermusyawarah. Apapun alasannya, tindakan pembakaran baju Melayu itu agak termasuk kategori "meleset" (maaf pinjam frasa sastrawan Eddy Ahmad RM). Seribu baju Melayu mungkin bisa diganti, tetapi bila baju itu dipandang sebagai simbol, satu saja terbakar api ceritanya bisa beda. Kita tentu tak ingin fitnah dan nafsu angkara murka yang menyebabkan nasib tragis menimpa Datuk Laksemana, Zubaidah, Panglima Hasan dan Panglima Umar, dalam Legenda Lancang Kuning, menjadi sebuah kutukan. Burung serindit di ranting tak pernah berhenti berkicau.

fabel - Koran Riau 2 Oktober 2012
Tulisan ini sudah di baca 3105 kali
sejak tanggal 03-10-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat