drh. Chaidir, MM | Rezeki Harimau | SETIAP fajar menyingsing di gurun Afrika, seekor rusa terbangun dan dia harus berlari lebih kencang dari seekor harimau, atau dia akan mati menjadi mangsa. Setiap fajar menyingsing di Afrika, seekor harimau terbangun dan dia harus berlari lebih kencang dari seekor rusa, atau dia akan mati kelaparan.
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Rezeki Harimau

Oleh : drh.chaidir, MM

SETIAP fajar menyingsing di gurun Afrika, seekor rusa terbangun dan dia harus berlari lebih kencang dari seekor harimau, atau dia akan mati menjadi mangsa. Setiap fajar menyingsing di Afrika, seekor harimau terbangun dan dia harus berlari lebih kencang dari seekor rusa, atau dia akan mati kelaparan.

Itu hukum rimba dan siklus alam, keseimbangan ekosistem yang berlaku di gurun Afrika sana. Di Sumatera sebenarnya tidak jauh beda, harimau ya harimau. Ketemu rusa, rusa disikat, ketemu celeng, celeng dilahap, ketemu burung, burung disambar, pokoknya daging, bila kelaparan betul, penyadap karet pun dilibas. Istimewanya, harimau Sumatera juga doyan durian. Harimau bahkan lebih rapi kalau makan durian, bijinya dionggokkan. Mungkin Harimau Sumatera ingin memberi contoh kepada manusia Sumatera supaya tidak buang sampah sembarangan.

Di Sumatera tidak ada gurun padang rumput terbuka miskin pepohonan seperti di Afrika, sehingga sang harimau tak perlu buru-buru bangun menyongsong fajar, dan rusa pun tak perlu sejak dini hari ambil ancang-ancang langkah seribu. Namun alasan lain sebenarnya, populasi harimau Sumatera sudah jauh berkurang. Karena terancam punah maka mereka dilindungi. Rusa liar juga tak lagi banyak, mereka diburu dan ditangkap oleh predator lain yang bernama manusia.

Rezeki harimau memang tidak menentu, bisa sehari mendapatkan satu atau dua rusa, tetapi kemudian bisa berhari-hari predator ini tak memperoleh hewan buruannya. Ketika buruannya tertangkap, makanannya berlebihan-lebihan, pada saat lain mereka berhari-hari kelaparan.

Manusia sesungguhnya banyak belajar dari harimau. Dalam masyarakat tertentu di Sumatera banyak yang percaya bahwa manusia punya pertalian dekat dengan harimau. Percaya atau tidak, mitos ini masih hidup di masyarakat pedalaman di Sumatera. Ada manusia yang dipercaya bisa berubah menjadi harimau yang diberi tugas mulia menjaga luhak, menjaga lembah dan gunung. Di Bengkulu, konon sebagian masyarakat percaya, ada manusia harimau yang dinamakan setuo. Dalam tradisi masyarakat Kerinci, Jambi, ada kepercayaan tentang adanya manusia harimau yg disebut cindaku. Bahkan ada yang bilang nenek moyang mereka berasal dari harimau. Di pedalaman Sumatera bagian tengah, ada pula yang meyakini, orang mati bisa mengalami reingkarnasi menjadi harimau.

Barangkali karena kedekatan-kedekatan itu, umumnya penduduk Sumatera banyak menggunakan harimau atau hal-hal yang berkaitan dengan harimau sebagai perumpamaan bagi manusia, seperti misalnya "Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama." Atau, "Harimau mengaum takkan menerkam." Juga ada, "Seperti membesarkan anak harimau." "Harimau mati karena belangnya." "Mulutmu harimaumu." Dan seterusnya. "Rezeki harimau" misalnya, dibidalkan untuk menyebut penghasilan yang tak selalu dapat diperoleh setiap hari alias tidak tetap. Rezeki nomplok yang diperoleh tak terduga, juga disebut sebagai rezeki harimau. Persepsi masyarakat kita, rezeki harimau tak bisa menjadi jaminan hidup. Sebab rezeki harimau tidak tersedia setiap saat. Dengan cara pandang demikian, ada masyarakat yang menyebut rezeki pengusaha itu seperti rezeki harimau. Barangkali karena itu peminat PNS cukup besar. Sebab rezeki PNS itu tidak termasuk dalam kategori rezeki harimau, penghasilannya tetap. Ada memang PNS yang coba-coba menangkap rezeki harimau secara illegal, tapi risikonya fatal.

Penyelenggaraan PON Riau 2012 yang baru saja usai, merupakan rezeki harimau bagi sebagian masyarakat Riau yang memiliki bakat sebagai penggalas. Banyak "rusa" berkeliaran, tapi mereka liar alang kepalang. Jadinya melepas hao...

fabel - Koran Riau 25 September 2012
Tulisan ini sudah di baca 1984 kali
sejak tanggal 26-09-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat