drh. Chaidir, MM | Belang Harimau | HARIMAU tidak pernah minta dilahirkan berwarna belang, atau kotak-kotak. Belang itu sudah dari sononya, sehingga menjadi trade mark alias merek dagang. Sebutlah harimau tentu langsung terbayang belangnya. Beberapa daerah bahkan menyebut harimau dengan julukan takzim: Datuk Belang.   

Harimau mema
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Belang Harimau

Oleh : drh.chaidir, MM

HARIMAU tidak pernah minta dilahirkan berwarna belang, atau kotak-kotak. Belang itu sudah dari sononya, sehingga menjadi trade mark alias merek dagang. Sebutlah harimau tentu langsung terbayang belangnya. Beberapa daerah bahkan menyebut harimau dengan julukan takzim: Datuk Belang.

Harimau memang tidak hanya sekedar satwa buas pemakan daging yang dilindungi, dalam masyarakat kita yang masih tradisional, harimau adalah juga sebuah mitos. Demikian kuatnya pencitraan harimau sebagai si belang, maka secara fisik harimau boleh mati tapi belangnya tak pernah terkubur, sampai ada peribahasa klasik, harimau mati meninggalkan belang. Peribahasa ini sudah dikenal luas dalam masyarakat kita untuk menggambarkan, jasa seseorang akan selalu dikenang walaupun yang bersangkutan telah mati. Peribahasa itu biasanya selalu dipadankan dengan ungkapan gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meinggalkan nama.

Sebenarnya ada peribahasa lain yang berkaitan dengan belang harimau itu yang tidak begitu umum didengar tetapi tidak kalah mendalam maknanya. Peribahasa itu, "Harimau mati karena belangnya." Peribahasa ini bermakna, seseorang yang mendapatkan kecelakaan atau musibah karena mempertontonkan keunggulannya secara berlebihan. Kekuasaan seseorang bisa runtuh karena ulahnya sendiri, salah menggunakan kekuasaan yang berada di tangannya, atau ulah kesombongannya. Belang yang menjadi kebanggaan harimau, suatu saat justru jadi masalah bagi harimau itu sendiri. Karena belangnya yang istimewa itu, harimau diburu, dikejar-kejar untuk ditangkap, diawetkan atau diambil kulitnya.

Harimau walau ditakuti karena kebuasannya tapi banyak mendapatkan tempat di hati masyarakat dan memainkan peran dalam budaya tradisional masyarakat. Harimau sering ditampilkan dalam berbaga media seperti lukisan dan simbol-simbol. Lukisan harimau bahkan sering dijumpai pada bendera dan lambang negara, sebagai maskot olahraga, dan hewan kebangsaan di beberapa Negara Asia, termasuk misalnya, Malaysia.

Para peneliti ahli genetika sudah lama kurang kerjaan melakukan penelitian terhadap belang harimau ini, mengapa belang itu terjadi, mengapa garis-garis hitam itu melintang tidak membujur, atau kotak-kotak. Kenapa dari dulu kala sampai sekarang tidak ada semacam mutasi genetika yang menyebabkan, misalnya belang-belang itu terbalik, bukan dasarnya yang kuning atau orange tapi belangnya yang kuning sedangkan dasarnya hitam, dan seterusnya. Tapi sampai saat ini belum ada kajian yang memuaskan.

Belang harimau juga mendapat konotasi tidak bagus ketika seseorang yang pura-pura baik tertangkap basah atau ketahuan akal bulusnya. Orang seperti ini disebut ketahuan belangnya. Kasihan harimau. Harimau tidak pernah pura-pura baik. Harimau apa adanya. Mereka tidak tahu menahu kalau belangnya dipermasalahkan.

fabel - Koran Riau 18 September 2012
Tulisan ini sudah di baca 1285 kali
sejak tanggal 19-09-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat