drh. Chaidir, MM | Raja Kaya Besar | BAGI yang merasa raja kaya (kalangan keturunan raja-raja di luar Pulau Jawa yang kaya raya), sebaiknya jangan ge-er dulu. Sebab bagi masyarakat Jawa di Pulau Jawa, raja kaya alias rojo koyo berarti ternak lembu. Ini serius, swear. Rojo koyo itu ya lembu atau sapi.  Bagi masyarakat tradisional di Jaw
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Raja Kaya Besar

Oleh : drh.chaidir, MM

BAGI yang merasa raja kaya (kalangan keturunan raja-raja di luar Pulau Jawa yang kaya raya), sebaiknya jangan ge-er dulu. Sebab bagi masyarakat Jawa di Pulau Jawa, raja kaya alias rojo koyo berarti ternak lembu. Ini serius, swear. Rojo koyo itu ya lembu atau sapi. Bagi masyarakat tradisional di Jawa, ternak sapi merupakan rojo koyo, yaitu salah satu harta tabungan yang dapat dijadikan sandaran hidup keluarga selain bertani.

Oleh karena itu dalam masyarakat tradisional Jawa di desa-desa, penduduk tinggal serumah dengan sapinya. Tentu sapinya ditempatkan di bagian belakang rumah, tapi umumnya berada di bawah satu atap. Petani sangat mencintai sapinya, sehingga setiap pagi dan sore selalu berusaha mencarikan sekeranjang besar rumput pakan ternak. Setiap hari sapinya dielus-elus, bahkan sang istri petani adakalanya jablai. Ternak sapi merupakan simbol kekayaan, semakin banyak memiliki rojo koyo semakin tinggi status sosialnya. Kalangan priyayi Jawa, zaman dulu-dulu, biasanya memiliki banyak ternak sapi sebagai simbol kekayaan dan status sosial.

Entah ada kaitannya dengan rojo koyo itu entah tidak, Kepala Cabang PT Pembangunan Perumahan (PP) Agung Nugroho Suyoto mengakui penggunaan istilah 'sapi' untuk suap terhadap Anggota DPRD Riau dalam kasus proyek PON Riau. Agung mengungkapkan itu saat menjadi saksi dalam sidang kasus dugaan suap proyek PON Riau atas terdakwa Eka Dharma Putra dan Rahmat Syahputra di Pengadilan Tipikor Pekanbaru, Riau, Rabu (11/7). Sidang dipimpin hakim Krosbin Lumban Gaol. Agung menjelaskan, untuk proyek Stadion Utama Riau yang memiliki nilai di atas Rp900 miliar, dirinya dan pihak rekanan lain bersepakat menyebutnya 'sapi besar'. Sedangkan untuk proyek fasilitas penunjang lainnya, termasuk arena menembak PON, disebut dengan 'sapi kecil'. "Sapi besar itu sebutan untuk proyek Stadion Utama Riau," kata Nugroho (Mediaindonesia.com, 11/7).

Tapi agaknya, usut punya usut, diusut-usut, penggunaan sandi 'sapi besar' dan 'sapi kecil' itu ada benarnya juga. Rojo koyo itu pada akhirnya setelah dijual, menghasilkan duit, 'sapi besar' dan 'sapi kecil' itu juga duit. Jadi, 'sapi besar'sama dengan rojo koyo besar, 'sapi kecil' sama dengan rojo koyo kecil. Sami mawon..he..he..he... Bedanya, petani harus menyabit rumput untuk pakan rojo koyonya setiap hari, sementara pihak yang menikmati 'sapi besar' dan 'sapi kecil' itu, terima bersih.

Bagaimana pun, kata sandi sapi-menyapi tersebut masih relevan. Yang kurang relevan adalah kata sandi 'Apel Washington' dan 'Apel Malang' dalam kasus korupsi Wisma Atlet. Sandi 'Apel Washington' dan 'Apel Malang' digunakan untuk menyebut kotak berisi uang. Konon, kotak dengan label 'Apel Washington' berisi dolar Amerika Serikat, sedangkan kotak dengan label 'Apel Malang' berisi rupiah. Ada-ada saja.

Tapi, lain lubuk lain ikannya lain padang lain belalangnya. Kasus dugaan korupsi pengadaan AlQuran yang melibatkan Anggota Komisi VIII DPR Zulkarnaen Djabbar, menggunakan kata-kata sandi yang agak sensitif. Bukan nama ternak, dan bukan pula buah-buahan. Dalam kasus dugaan korupsi pengadaan Alquran ini, kata-kata sandi yang digunakan adalah bahasa Arab, sehingga terasa amat tidak nyaman karena AlQuran itu sendiri menggunakan bahasa Arab.

Petugas KPK kabarnya sempat tersinggung selama proses penyelidikan lantaran sejumlah pihak yang diperiksa menggunakan istilah-istilah berbahasa Arab untuk menjelaskan tentang korupsi tersebut. Menurut penuturan seorang pejabat struktural KPK yang enggan disebutkan namanya, sebagaimana dimuat www.republika.co.id (29/6), ada beberapa kata yang digunakan sebagai sandi untuk transaksi korupsi. Misalnya, maktab (pemondokan haji) dan toyyib (baik). "Sakit hati kalau kita dengarnya. Mereka menggunakan istilah-istilah agama untuk kode sandi transaksi," kata pejabat KPK tersebut.

'Sapi besar' diberi 'apel Washington'..toyyib toyyib...he..he..he..tandas.

fabel - Koran Riau 17Juli 2012
Tulisan ini sudah di baca 2786 kali
sejak tanggal 18-07-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat