drh. Chaidir, MM | Bakar Diri Laron  | MANUSIA bukan laron (ya iyalah, siapa juga yang bilang manusia itu laron, kendati keduanya sama-sama makhluk hidup). Sebab, manusia punya cita-cita banyak. Ketika muda foya-foya, ketika tua kaya-raya, bila mati maunya masuk surga. Ketua Persatuan Seniman Komedi Indonesia (PaSKI) Riau, Fachri Semekot
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Bakar Diri Laron

Oleh : drh.chaidir, MM

MANUSIA bukan laron (ya iyalah, siapa juga yang bilang manusia itu laron, kendati keduanya sama-sama makhluk hidup). Sebab, manusia punya cita-cita banyak. Ketika muda foya-foya, ketika tua kaya-raya, bila mati maunya masuk surga. Ketua Persatuan Seniman Komedi Indonesia (PaSKI) Riau, Fachri Semekot (semeter kotor) mengembang-biakkan ungkapan tersebut (lembu kale). Selengkapnya begini: ketika muda foya-foya, ketika baya kaya-raya, pendidikan S2 atau S3, punya mobil avanza dan inova semua ada lima, rumah di Jakarta ada pula tiga, masing-masing dengan orang rumahnya muda-muda, yang tak tercatat ada pula dua, periksa gigi ke Melaka, bila sakit berobat ke Singapura, kalau mati masuk surga, masuk neraka pun tak apa-apa asal gabung dengan Lady Gaga...hahaha..

Nah, bagaimana dengan Laron? Laron dalam kehidupannya, ternyata hanya memiliki satu tujuan, dia fokus hanya ingin terbang atau pergi dari tempat yang gelap menuju tempat yang terang bercahaya. Konon impian itu mereka tulis dalam buku diarinya. Tetapi tidak pun buku itu ditemukan sampai kiamat, tidak sulit membuktikan bahwa apa yang dipikirkan oleh laron memang itulah adanya. Dimana-mana, di desa atau di kota, laron hanya punya satu agenda, bila sayap mereka sudah ada, mereka pasti terbang menuju cahaya lampu. Kenapa laron terbang di malam hari? Karena gulita malam memberi separasi yang jelas antara gelap dan cahaya lampu. Pada siang hari semua terang benderang, laron bingung mencari lampunya.

Laron, sejenis semut bersayap (ukurannya lebih kecil sedikit daripada superstar tomcat) memberi filosofi kehidupan bagi manusia, makhluk pemikir. Kehidupan laron mempunyai filosofi yang sangat bermakna. Laron selalu pergi dari tempat yang gelap ke tempat yang terang, menuju sumber cahaya. Semangatnya luar biasa, tekadnya membara, tak peduli rintangan yang menghadang. Padahal mereka tidak memiliki persiapan dan modal yang memadai. Laron harus melalui beberapa rintangan, di mulai dengan para predator ganas yang akan memangsa mereka seperti burung, cicak, capung, semut, katak, sampai manusia pemburu laron. Semuanya siap menjegal dan menggagalkan impian laron mencapai lampu yang bercahaya.

Laron tidak punya kemampuan terbang menyelamatkan diri. Memang ada sayap, tetapi sayapnya tidak bisa menerbangkan laron dengan cepat menghindari predator. Sayap itu pun sangat rapuh. Laron bukan tak sadar dengan risiko yang bakal dihadapi. Tapi mereka tak pernah patah arang. Tujuannya hanya satu: mengejar lampu.

Cerita tokoh sufi besar, Fariduddin Attar, menarik untuk disimak. Suatu malam, sekelompok laron berkumpul. Mereka bercerita tentang kerinduan yang menyiksa untuk bergabung dengan cahaya sebuah lilin. Semua berkata, "Kita harus temukan seekor laron yang dapat menceritakan lilin yang amat kita dambakan itu." Seekor laron lalu pergi ke sebuah puri dan melihat seberkas cahaya lilin. Ia kembali dan bercerita. Tapi seekor laron yang bijak, pemimpin kelompok itu, hanya berkata, "Ia tak punya berita yang sesungguhnya tentang lilin itu." Seekor laron lain pergi terbang mendekati cahaya lilin itu, dan menyentuh sedikit nyala api dengan sayapnya. Setelah itu, ia kembali dan bercerita. Si laron bijak lalu berkata lagi, "Penjelasanmu tak lebih berarti dari penjelasan laron sebelum kamu." Laron ketiga bangkit, dan melemparkan dirinya ke arah nyala lilin. Begitu seluruh tubuhnya dilalap api, tubuhnya menjadi merah menyala seperti api itu sendiri. Si laron bijak memandang dari kejauhan, lilin itu telah menerima seekor laron tadi sebagai bagian dari cahayanya. Si laron bijak berkata, "Laron itu telah mengetahui apa yang ia capai. Sesuatu yang takkan diketahui laron-laron lainnya."

Tapi manusia bukan laron yang hanya punya satu cita-cita. Jangan bakar diri, jangan mati sia-sia.

fabel - Koran Riau 10 Juli 2012
Tulisan ini sudah di baca 2165 kali
sejak tanggal 11-07-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat