drh. Chaidir, MM | PON dan Burung Pipit | TERLEPAS dari berbagai macam masalah, PON ke-XVIII di Riau pasti terselenggara. Tepat waktu atau tidak, itu masalah lain. Artinya, urusan pembangunan venues di berbagai kota dan kabupten, pembangunan parasarana jalan dan jembatan termasuk penyelesaian fly over dan pengamanan jembatan Siak III, serta
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

PON dan Burung Pipit

Oleh : drh.chaidir, MM

TERLEPAS dari berbagai macam masalah, PON ke-XVIII di Riau pasti terselenggara. Tepat waktu atau tidak, itu masalah lain. Artinya, urusan pembangunan venues di berbagai kota dan kabupten, pembangunan parasarana jalan dan jembatan termasuk penyelesaian fly over dan pengamanan jembatan Siak III, serta penyelesaian bandara Sultan Syarif Kasim II, itu urusan pemerintah. Entah pusat, provinsi atau kabupaten/kota, ma tau wak...

Bahwa hampir semua anggaran publik dalam APBD tersedot untuk PON sehingga tak lagi tersisa untuk anggaran program strategis K2i (pengentasan kemiskinan, pemberantasan kebodohan dan pembangunan infrastruktur, utamanya di desa) seperti yang dicanangkan semula, itu urusan DPRD. Sebab DPRD-lah yang memiliki fungsi anggaran untuk mengawal agar APBD dialokasikan sebesar-besarnya untuk kepentingan umum. Kalau fungsi anggaran ini tidak jalan, jangan cari kambing hitam, repot.

Masalahnya, konon kabarnya kedua cabang kekuasaan itu - eksekutif dan legislatif - kini sedang tiarap, galau. Sebagaimana ramai diberitakan berbagai media, beberapa personil anggota cabang-cabang kekuasaan tersebut sedang berurusan dengan KPK. Sikap masyarakat jelas, praduga tak bersalah, ditambah dengan pesan nenek, tangan mencincang bahu memikul. Urusan KPK itu urusan masing-masing.

Lantas apa yang menjadi urusan masyarakat? Nah, di sinilah kita harus memilah-milah, memilih-milih. Urusan pertanggung jawaban dunia akhirat sudah ada yang mencatat sendri-sendiri, di dunia urusan KPK, di akhirat urusan Malaikat. Urusan masyarakat tuan rumah adalah menikmati dan memanfaatkan PON sesuai porsi masing-masing. Atlit teruslah berlatih keras untuk mengukir prestasi gemilang sehingga terbuka kesempatan ke depan untuk go international. Para pengusaha hotel dan restoran, siapkan pelayanan terbaik untuk meraup untung rezeki harimau. Para pengusaha transportasi siapkan armada terbaik. Para pengusaha souvenir kembangkan industry kreatifnya, ciptakan souvenir murah meriah berkualitas dan mengesankan.

Masyarakat diharapkan tidak terpengaruh dengan gonjang-ganjing kasus penegakan hukum. Untuk urusan itu sudah ada KPK, aparat kepolosian dan aparat kejaksaan serta para hakim. Kita harus dukung penegakan hukum yang adil. Siapapun yang menangguk di air keruh dalam proyek PON Riau harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Di penjuru lain, masyarakat harus tetap bersemangat, tidak boleh ikut-ikutan loyo atau tiarap. Jangan seperti ungkapan "Takut mendengar cicit burung pipit tak jadi petani turun ke sawah." Burung pipit tak akan pernah berhenti mencicit sampai hari terakhir menjelang dunia kiamat nanti. Kalau petani takut, atau tidak mampu mengakali hama burung pipit yang jumlahnya bisa ribuan, maka sawahnya tak akan menjadi.

Masyarakat tuan rumah tak boleh tiga kali rugi. Kerugian pertama, anggaran pembangunan dalam APBD habis untuk PON. Kerugian kedua, banyak atlit yang berpotensi mendapatkan bonus total milyaran rupiah yang akan dirogoh dari kocek APBD berasal dari luar daerah. Kerugian ketiga, kita tidak meraup laba karena tidak menyiapkan sesuatu untuk dijual. Jadi jangan rugi, ayo kita menggalas.

fabel - Koran Riau 12 juni 2012
Tulisan ini sudah di baca 1628 kali
sejak tanggal 13-06-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat