drh. Chaidir, MM | Politikus Badak | BADAK dan politikus tak sama tapi serupa. Bedanya, badak bercula politikus tidak. Alangkah menakutkan bila politikus bercula, ada yang bercula satu ada yang bercula dua. Badak termasuk satwa jenis herbivora atau satwa pemakan tumbuh-tumbuhan, politikus termasuk jenis omnivora atau makhluk pemakan se
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Politikus Badak

Oleh : drh.chaidir, MM

BADAK dan politikus tak sama tapi serupa. Bedanya, badak bercula politikus tidak. Alangkah menakutkan bila politikus bercula, ada yang bercula satu ada yang bercula dua. Badak termasuk satwa jenis herbivora atau satwa pemakan tumbuh-tumbuhan, politikus termasuk jenis omnivora atau makhluk pemakan semua, tumbuhan oke daging pun disantap, mulai dari yang matang, setengah matang maupun yang mentah. Badak berkaki empat, politikus berkaki dua. Badak hampir punah, politikus malah berkembang biak.

Kesamaannya? Badak dan politikus sama-sama bermuka badak. Badak jelas bermuka badak (ya iyalah, mosok badak bermuka Lady Gaga). Politikus juga bermuka badak, sekurang-kurangnya sebagian diantaranya. Kesamaan lain, badak ditakdirkan memiliki indra pendengaran dan penciuman yang tajam, tapi tidak dapat melihat jauh. Politikus juga sami mawon, pendengaran dan penciumannya tajam, terutama bila mendengar atau mencium ada peluang pengaturan anggaran, mark-up nilai proyek, mafia kasus, dan sebagainya. Mereka akan bergerak cepat mengikuti pendengaran dan penciumannya. Sama seperti badak, politikus tidak dapat melihat jauh, sehingga sering terjerembab dalam kasus hukum.

Prof. Dr. Sofjan Siregar, MA dalam satu kesempatan di Den Haag, Belanda, tegas menyebut, politisi kita adalah politisi muka badak. Cirinya menurut Profesor kita ini, mereka umumnya tersangkut kasus korupsi, kriminal, asusila, tidak kapabel tapi tetap dengan segala cara ngotot merebut kekuasaan atau mempertahankan kedudukannya. Mereka juga tidak beradab alias tidak beretika. Politisi kita tidak mempunyai rasa malu. RI rusak karena politisi muka badak (news.detik.com 21/2/2012).

Anda boleh setuju boleh tidak dengan Prof Sofjan Siregar, tapi fakta menunjukkan, para penguasa dan politisi kita, memang tidak punya rasa malu. Dalam beberapa kasus, ada yang sudah ditetapkan sebagai tersangka bahkan terpidana, tapi mereka tetap tidak mau melepaskan jabatan publik yang diembannya. Mereka tidak mau mundur dengan alasan, itu bukan budaya kita. Padahal, menurut Prof. Sofjan, budaya malu, tahu diri, lalu mengundurkan diri merupakan karakteristik masyarakat yang beradab, demokratis dan gentleman, sebagaimana ditunjukkan oleh para politisi di negara-negara maju. Mereka langsung mundur, tanpa harus dimundurkan oleh rakyat.

Pertanyaannya mengapa banyak politisi bermuka badak di negeri kita? Jawabannya, pertama, karena Pulau Jawa dan Pulau Sumatera adalah wilayah habitat badak. Mungkinkah manusia telah berasosiasi dengan alamnya? Di negeri maju seperti di Inggris atau Amerika, apalagi di Jepang, kita tidak mendengar adanya politisi bermuka badak. Di negeri-negeri maju itu, politisi atau penguasa yang merasa bersalah, mereka mundur. Presiden Jerman Christian Wulff, yang sejak menjadi presiden dua tahun silam tidak punya rumah dinas dan rumah pribadi, mengundurkan diri karena dikritik telah meminjam uang secara resmi dan sah dari bank Jerman sebanyak EUR 500.000 euro dengan bunga rendah. Sikap serupa ditunjukkan oleh Direktur Bank Sentral Swiss yang mengundurkan diri karena isterinya menukarkan uang beberapa puluh ribu USD, dua hari sebelum diumumkan resmi perubahan kurs mata uang Franc Swiss/CHF ke USD. Tidak ada demonstrasi, hanya kritik di media saja tentang isterinya, sang suami langsung mengundurkan diri, tanpa ada yang minta dia harus mundur (news.detik.com 21/2/2012).

Alasan kedua mengapa banyak politisi bermuka badak adalah, para politisi dan penguasa kita mungkin terlalu banyak minum susu badak seperti yang dijual orang di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Mungkin susu badak itu sudah dijual pula sampai ke Pulau Jawa. Susu badak adalah soda campur susu. Sodanya bermerek (cap) Badak. Di Yogya namanya susu soda gembira. Mau?

fabel - Koran Riau 5 Juni 2012
Tulisan ini sudah di baca 2206 kali
sejak tanggal 06-06-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat