drh. Chaidir, MM | Politik Burung Tempua | BURUNG tempua bolehlah disebut arsitek, seniman, sekaligus juga pandai berpolitik. Sebagai arsitek, burung tempua piawai membuat rancang-bangun, pandai mencari dan memilih material bangunan. Sebagai seniman, burung tempua mengumpulkan material tersebut sehelai demi sehelai dan kemudian sambil bergel
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Politik Burung Tempua

Oleh : drh.chaidir, MM

BURUNG tempua bolehlah disebut arsitek, seniman, sekaligus juga pandai berpolitik. Sebagai arsitek, burung tempua piawai membuat rancang-bangun, pandai mencari dan memilih material bangunan. Sebagai seniman, burung tempua mengumpulkan material tersebut sehelai demi sehelai dan kemudian sambil bergelantungan di dahan-dahan pohon, mengandalkan satu paruh, menganyam sarangnya sangat indah.

Burung tempua alias burung manyar juga pandai berpolitik. Sekurang-kurangnya mereka pandai mengamankan sarangnya, membuat sarangnya aman dan nyaman sebagai tempat bertelur dan mengeram. Sebab mereka tahu bahwa ada mahluk lain yang bernama manusia yang selalu saja tak pernah puas hanya dengan memandang. Manusia selalu terdorong oleh nafsu primitif ingin mengambil dan memiliki sarang tersebut, entah untuk apa. Padahal sarang burung tempua itu jelas terlalu kecil bagi manusia bila makhluk ini ingin masuk ke dalam sarang dan kemudian tidur sambil berayun-ayun.

Dalam kewaspadaan yang tinggi, burung tempua menyiasati perilaku manusia itu dengan menempatkan sarangnya pada suatu tempat yang sulit dan berbahaya untuk dijangkau. Burung tempua biasanya membuat sarang pada pohon-pohon yang tinggi dan di ujung dahan. Tapi adakalanya juga sarang yang mereka buat tidak berada di atas pohon tinggi. Tetapi hati-hati, walaupun tempua bersarang di pohon rendah, bukan berarti tanpa sistem pengamanan maksimal. Pohon dimana burung tempua membangun sarang pasti telah dipenuhi oleh lebah penyengat atau bahkan tebuan, sejenis lebah yang lebih dahsyat daripada lebah penyengat. Dengan pengawal demikian, jangankan memanjat pohon dimana sarang burung tempua berada, mendekat pun kita tidak bisa karena lebah sang pengawal siap menyerang. Entah perjanjian atau sumpah apa yang telah terucap antara nenek-moyang burung tempua dengan lebah penyengat itu sehingga sang lebah setia menjaga sarang burung tempua tanpa imbalan apapun. Dan repotnya, para pengawal ini sama sekali tidak bisa diajak ber-KKN-ria. Travel check atau uang tujuh triliun sekalipun tak akan laku bagi mereka.

Dengan politik tingkat tinggi, burung tempua kelihatannya berhasil membangun kesetiaan dan memanfaatkan pihak lain untuk kepentingannya. Manusia terkesima dan mengakui politik burung tempua tersebut dan memberikan apresiasi dalam sebuah pribahasa, "Kalau tak ada berada takkan tempua bersarang rendah". Manusia membuat perumpamaan tersebut untuk menggambarkan suatu keadaan, jika tak ada alasan-alasan yang kuat, sesuatu yang tersembunyi, tentu tidak akan terjadi sesuatu yang hebat. Tapi bukan untuk menggambarkan adanya maksud-maksud tersembunyi. Burung tempua hanya mengingatkan, hati-hati ada jebakan. Peribahasa itu barangkali bisa dipadankan dengan perumpamaan "adat mawar ada durinya". Kalau tak hati-hati tanganmu akan tertusuk duri.

Burung tempua tidak pandai berkicau merdu seperti burung murai atau burung cicak rowo. Tak juga pandai membeo seperti burung beo. Tapi mereka piawai menganyam sarang. Kini, burung seniman itu agaknya sudah menuju kepunahan. Tapi burung tempua sudah meninggalkan kearifan, jangan sembarangan membuat sarang. Suai.

fabel - Koran Riau 15 Mei 2012
Tulisan ini sudah di baca 3740 kali
sejak tanggal 15-05-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat