drh. Chaidir, MM | Menggantang Anak Ayam | MEMASUKKAN anak ayam ke dalam cupak, kedengarannya mudah. Apa susahnya, apalagi anak ayam umur sehari. Diraup saja, mereka pasti tidak akan mampu melawan. Tapi pengalaman empiris orang tua-tua kita, yang kurang kerjaan mencoba-coba menggantang anak ayam, kelihatannya tidaklah mudah. Tangkap di sini
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Menggantang Anak Ayam

Oleh : drh.chaidir, MM

MEMASUKKAN anak ayam ke dalam cupak, kedengarannya mudah. Apa susahnya, apalagi anak ayam umur sehari. Diraup saja, mereka pasti tidak akan mampu melawan. Tapi pengalaman empiris orang tua-tua kita, yang kurang kerjaan mencoba-coba menggantang anak ayam, kelihatannya tidaklah mudah. Tangkap di sini keluar di sana. Dimasukkan di sana lepas di sini. Tangkap dua lepas tiga, demikian seterusnya berulang-ulang, sehingga tidak selesai-selesai. Padahal anak ayam yang lemah lembut tersebut, tak punya akal pikiran dan sama sekali tak bermaksud mempersulit atau memperolok-olok manusia yang coba-coba menggantang mereka.

Maka, menggantang anak ayam jadi sebuah kiasan, "ibarat menggantang anak ayam" yang berarti melakukan pekerjaan yang sesungguhnya tidak berat tetapi amat sangat sulit dan amat sangat merepotkan. Barangkali juga sangat menjengkelkan. Pekerjaan yang ringan-ringan sulit tersebut diperumpamakan seperti menggantang anak ayam. Dipandang pada sisi lain, ada yang secara ekstrim mengartikan, menggantang anak ayam berarti memikirkan atau menghendaki sesuatu yang bukan-bukan, sesuatu yang tidak mungkin akan tercapai, sesuatu yang sia-sia. Mahzab ini menyamakan menggantang anak ayam dengan menggantang asap. Padahal sesungguhnya beda. Menggantang asap memang suatu pekerjaan yang betul-betul mubazir, karena benda yang disukat pun tak jelas wujudnya. Kalau anak ayam masih jelas wujudnya, yaitu makhluk yang menetas dari telur ayam. Ya iyalah, kalau yang menetas dari telur penyu namanya anak penyu kalau yang menetas dari telur gajah namanya anak gajah..ha..ha.. Gajah mana bertelurůmeleset.

Menggantang berarti menakar atau menyukat dengan gantang. Gantang merupakan alat ukur volume yang biasa digunakan untuk mengukur jumlah padi, beras, lada, kacang-kacangan, dan sebagainya. Karena ada ribuan pulau kecil-kecil yang bertebaran di Kepulauan Riau misalnya, maka negeri itu dijuluki Negeri Segantang Lada. Satu gantang ada yang menyebut empat cupak, tapi ada pula daerah tertentu yang menyebut satu gantang itu dua cupak. Satu cupak biasanya berisi satu setengah kilogram beras. Suka-sukalah, tak mengapa. Nah kalau kemudian takaran gantang digunakan untuk mengukur jumlah anak ayam, tentu saja sesuatu yang meleset, karena anak ayam mestinya dihitung jumlahnya dengan ekor atau kepala, bukan dengan gantang.

Bahasa kita, Bahasa Indonesia memang kaya dengan perumpamaan. Perumpamaan-perumpamaan itu demikian saja tumbuh subur di tengah masyarakat dan menjadi kearifan lokal. Dan perumpamaan itu seringkali kontekstual terhadap situasi dan kondisi yang kita hadapi. Pemberantasan korupsi yang sedang hebat-hebatnya di negeri kita, barangkali boleh disebut ibarat menggantang anak ayam. Tangkap koruptor di Kalimantan Timur, muncul di Bengkulu, muncul di Sumatera Utara. Tangkap di Sumut muncul pula di Riau. Penjarakan satu bebas yang lain, tak selesai-selesai. Mungkin koruptor itu seperti anak ayam, tak pernah bisa digantang. Atau barangkali karena cupaknya terlalu kecil. Payah.

fabel - Koran Riau 24 April 2012
Tulisan ini sudah di baca 1935 kali
sejak tanggal 25-04-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat