drh. Chaidir, MM | Kutukan Kelelawar | ALKISAH bangsa burung terlibat pertempuran hebat dengan bangsa serigala. Entah dendam apa yang membakar emosi bangsa burung, mereka tiba-tiba saja melakukan blitzrig ke negeri serigala, sama seperti serangan kilat ketika armada kamikaze Jepang menghajar armada kapal induk Amerika Serikat di Pearl Ha
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Kutukan Kelelawar

Oleh : drh.chaidir, MM

ALKISAH bangsa burung terlibat pertempuran hebat dengan bangsa serigala. Entah dendam apa yang membakar emosi bangsa burung, mereka tiba-tiba saja melakukan blitzrig ke negeri serigala, sama seperti serangan kilat ketika armada kamikaze Jepang menghajar armada kapal induk Amerika Serikat di Pearl Harbour, Honolulu, dalam Perang Dunia Kedua.

Bangsa kelelawar menyaksikan pertempuran seru itu dengan bergelantung indah di dahan-dahan pohon, di pelepah-pelepah pisang, bersembunyi di balik dedaunan sambil menikmati biji-bijian kegemarannya. Mereka menunggu saat yang tepat untuk terjun ke kancah pertempuran. Tak berapa lama berselang, saat yang tepat itu pun datang. Bangsa serigala mulai keteteran, mereka mulai tersudut. Melihat kondisi tersebut, bangsa kelelawar langsung pasang aksi, mereka ikut menyerbu bangsa serigala, menggempur dari segala penjuru.

Syahdan bangsa serigala tersudut dan mereka bertekuk lutut mengangkat bendera putih, menyerah kalah. Bangsa burung pun berpesta pora menikmati kemenangannya. Sambil bersorak-sorai meneriakkan yel-yel kemenangan, mereka kembali ke negerinya setelah meluluh lantakkan negeri bangsa serigala. Bangsa kelelawar tentu saja ikut berpesta pora menikmati kemenangan, bahkan secara demonstratif membanggakan diri, kalau bukan karena bantuan mereka, bangsa burung tidak akan bisa mengalahkan bangsa serigala.

Beberapa anggota tim pemenangan bangsa burung protes kepada bangsa kelelawar, mereka mengumumkan bahwa bangsa kelelawar tidak berhak mengklaim kemenangan. Kelelawar bukan sebangsa dengan burung, kelelawar sebangsa dengan serigala. Buktinya, lihatlah moncong mereka, sama seperti bangsa serigala bergigi dan bertaring. Mana ada bangsa burung yang bertaring? Bangsa burung itu memiliki paruh, bukan moncong. Demikian beberapa anggota bangsa burung menyampaikan kegeramannya.

Bangsa kelelawar membela diri. Hai bangsa burung, sadarlah, kami ini memang memiliki moncong seperti serigala, tetapi kami memiliki sayap, kita ini sebangsa. Apakah ada serigala yang bisa terbang seperti kita? Ujar juru bicara bangsa kelelawar dengan bersemangat. Bangsa burung manggut-manggut. Mereka akhirnya menikmati kemenangan bersama-sama.

Singkat cerita, bangsa serigala mengatur siasat untuk membalas kekalahan. Mereka pun secara mendadak menyerbu negeri bangsa burung pada suatu hari kemudian. Pertempuran sengit kembali terjadi. Korban kembali berguguran. Dimana bangsa kelelawar? Bangsa kekelelawar bergelantung indah di dahan-dahan pohon, di pelepah-pelepah pisang, bersembunyi di balik dedaunan sambil menikmati biji-bijian kegemarannya. Mereka menunggu saat yang tepat untuk terjun ke kancah pertempuran. Dan peluang yang ditunggupun pun datang. Bangsa serigala kali ini lebih siap karena mereka mempersiapkan diri dengan baik. Bangsa burung terpojok. Kelelawar ikut menyerbu membantu serigala menghajar bangsa burung. Pertempuran mulai tidak berimbang dan bangsa burung bertekuk lutut menyerah kalah.

Bangsa kelelalawar pun berpesta pora bersama bangsa serigala. Tapi beberapa anggota tim pemenangan bangsa serigala, berteriak protes kepada bangsa kelelawar. Kalian bukan bangsa serigala, kalian pahlawan kesiangan, kalian bangsa burung karena kalian punya sayap dan bisa terbang. Ujar jubir tim pemenangan serigala. Bangsa kelelawar dengan tangkas menjawab, kami memang punya sayap tapi lihatlah moncong kami sama seperti moncongmu, hai serigala, kami punya gigi dan taring sama seperti kalian, jadi kita ini sebangsa. Mana ada bangsa burung yang punya moncong dan taring? Serigala terdiam.

Namun di tengah karut-marut perseteruan itu, satu dua pemikir bangsa burung dan serigala bertemu, bicara dari hati ke hati. Mereka sepakat, bangsa kelelawar memang pahlawan kesiangan, mereka licik. Bangsa kelelawar kemudian dikutuk tidak boleh mencari makan di siang hari, sampai sekarang mereka hanya boleh mencari makan di malam hari. Sangsi bagi pahlawan kesiangan. Tah iya tah indak...he..he..he..

fabel - Koran Riau 28 Februari 2012
Tulisan ini sudah di baca 2033 kali
sejak tanggal 28-02-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat