drh. Chaidir, MM | Musang Berbulu Ayam | ENTAH siapa yang mula pertama menangkap basah  musang menggunakan jaket berbulu ayam, sampai kelakuan musang yang menyimpang itu menjadi sebuah peribahasa populer. Hal serupa juga dilakukan oleh serigala, seenaknya saja menggunakan baju hangat berbulu domba yang bukan miliknya, sehingga muncul perib
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Musang Berbulu Ayam

Oleh : drh.chaidir, MM

ENTAH siapa yang mula pertama menangkap basah musang menggunakan jaket berbulu ayam, sampai kelakuan musang yang menyimpang itu menjadi sebuah peribahasa populer. Hal serupa juga dilakukan oleh serigala, seenaknya saja menggunakan baju hangat berbulu domba yang bukan miliknya, sehingga muncul peribahasa serigala berbulu domba.

Sebetulnya, tak ada musang atau serigala yang secerdas itu, yang mampu mengelabui mangsanya. Kata-kata kiasan tersebut sepenuhnya ulah makhluk homo sapiens yang bernama manusia. Manusialah yang mampu berpikir dan paling pandai berandai-andai, berbidal-bidal, membuat perumpamaan. Pengalaman suka-duka hidup telah menjadi guru manusia, yang memungkinkan makhluk manusia berimajinasi. Sebab dalam realita tak pernah sungguh-sungguh ada musang yang merasa perlu berpura-pura menyamar sebagai ayam untuk masuk ke kandang ayam menerkam mangsanya sesuka hati. Atau serigala yang berbasa-basi merasa perlu menyamar berbulu domba untuk masuk ke kerumunan domba. Tak ada kamus itu dalam ilmu tingkah laku hewan. Seekor raja rimba juga tak pernah bersandiwara dengan kekuasaannya menegakkan hukum rimba. Semuanya jelas bin tegas. Siapa yang paling kuat dia berkuasa, si lemah harus rela tertindas. Seekor raja rimba tak pernah berpura-pura baik dengan sifat kebuasannya. Dia tidak berbahaya ketika sedang tidur.

Musang berbulu ayam atau serigala berbulu domba semata hanya bidal untuk menggambarkan orang jahat berlaku sebagai orang baik, atau orang yang berpura-pura baik padahal jahat. Atau juga orang yang berpura-pura menolong padahal niat sebenarnya menjerumuskan. Mengaku reformis tapi kelakuannya oportunis. Mengaku demokratis padahal otokratis. Mengaku professional, kelakuannya amatiran. Perilaku hipokrit seperti itu hanya ada dalam dunia makhluk manusia, tidak ada dalam dunia hewan.

Hewan adalah makhluk apa adanya, mereka mahkluk yang memiliki insting jujur. Nasib saja yang menentukan mereka tercipta sebagai hewan. Musang berbulu ayam atau serigala berbulu domba hanya ada dalam terma manusia, musang dan serigala sendiri tak mengenal istilah itu. Tapi tak pernah ada pengaduan dari musang atau serigala atas pencatutan nama mereka dengan tudingan melakukan sesuatu yang tak mereka lakukan, atau pencemaran nama baik. Mengadu kemana? Mungkin perlu ada Badan Kode Etik Makhluk tempat semua jenis makhluk (hewan dan makhluk halus) bisa memperkarakan manusia, termasuklah iblis dan syetan, yang akhir-akhir ini merasa tidak puas karena profesinya tersaingi oleh manusia. Tapi itu pun belum tentu efektif karena dibanding mereka, manusia itu makhluk sempurna, manusia mampu merekayasa, hewan tidak. Gasaklah!


fabel - Koran Riau 31 Januari 2012
Tulisan ini sudah di baca 3130 kali
sejak tanggal 01-02-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat