drh. Chaidir, MM | Makhluk Berekor | SEBENARNYA semua makhluk berekor, bila ekor diartikan sebagai bagian ujung belakang dari tubuh. Pesawat terbang juga memiliki bagian ekor, demikian pula barisan paling belakang dari pasukan yang sedang baris-berbaris. Layang-layang pun  berekor. Namun, ekor lebih umum digunakan untuk hewan. Ekor ada
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Makhluk Berekor

Oleh : drh.chaidir, MM

SEBENARNYA semua makhluk berekor, bila ekor diartikan sebagai bagian ujung belakang dari tubuh. Pesawat terbang juga memiliki bagian ekor, demikian pula barisan paling belakang dari pasukan yang sedang baris-berbaris. Layang-layang pun berekor. Namun, ekor lebih umum digunakan untuk hewan. Ekor adalah bagian tubuh yang paling belakang baik berupa sambungan dari tulang punggung ataupun sebagai lekatan.

Ekor juga digunakan untuk penggolongan hewan. Oleh karena itu satuan jumlah hewan adalah ekor bukan orang. Sepuluh ekor sapi misalnya, walaupun ekornya buntung habis sejadi-jadinya (dibuat sop buntut kale..), tetap dihitung sepuluh ekor. Kukang, sejenis kera, walaupun tidak berekor dari sononya, tetap saja dihitung ekor. Kasihan kukang. Untung kukangnya tidak meniru manusia melakukan aksi unjukrasa. Kukang sebenarnya punya alasan untuk berunjuk rasa. Sebab di negeri yang berbahasa Inggeris, menghitung jumlah sapi, kerbau, kambing, kukang, atau hewan lain pada umumnya, digunakan istilah kepala (head) bukan ekor (tail). Entah dari mana dan sejak kapan melesetnya.

Apakah makhluk yang disebut manusia itu berekor? Kalau definisi ekor adalah bagian tubuh yang paling belakang, maka manusia secara anatomi juga punya ekor (posterior). Tak bisa dibantah. Contoh yang paling aktual, terutama untuk masyarakat kota Pekanbaru, adalah bagian tubuh yang paling belakang, yang menonjol dan bikin heboh, yang terlihat di tugu zapin atau tugu kilometer nol di Kota Pekanbaru. Benda posterior itu memancing para pelintas untuk meliriknya.

Lantas apa yang membedakan makhluk yang bernama manusia dengan hewan? Manusia ternyata juga punya ekor bahkan secara anatomi tak satu pun manusia yang tak memiliki ekor. Dengan demikian (sekali lagi dari sudut anatomis) ekor kelihatannya tak memiliki kedudukan hukum yang kuat untuk membedakan kedua makhluk.

Seandainya kedua makhluk berada di kebun binatang, barulah terlihat nyata bedanya. Manusia punya akal budi dan insting, hewan hanya punya insting atau naluri. Insting ini yang membawa hewan dan kelompoknya menjauh dari gunung merapi yang akan meletus. Atau, insting juga yang menyebabkan seekor anjing di Jepang yang bernama Hachiko, yang tetap setia menunggu tuannya di stasiun kereta api, di tempat yang sama, walau tuannya telah lama tiada.

fabel - Koran Riau 24 Januari 2012
Tulisan ini sudah di baca 1834 kali
sejak tanggal 25-01-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat