drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Suara dari Gedung Lancang Kuning | Bagian : 1

PR Manan


Oleh : drh.chaidir, MM

Seperti sudah saya duga, Riau Pos edisi selasa 21 November 1995, kemarin [dan beberapa hari mendatang] akan dipenuhi oleh iklan ucapan selamat kepada Bupati Abdul Manan setelah beliau di lantik oleh Gubernur Soeripto menjadi Bupati Kepala Daerah Kabupaten Kepulauan Riau untuk periode kedua. Bupati Manan memang pantas menerima ucapan selamat itu karena menurut hemat saya, paling tidak dapat dilihat dalam dua aspek: pertama, Bupati Manan telah berhasil memenangkan pemilihan Bupati KDH dalam era keterbukaan seperti sekarang, yang membuat pemilihan Bupati gegap gempita laksana disebuah negara yang menganut paham liberalisme; kedua, Bupati Manan akan mulai menapak hari-hari di depan pcnuh tantangan karena tugas membangun masyarakat Kepulauan Riau akan semakin berat.

Dalam banyak aspek, medan Kepulauan Riau memang berat. Secara geografis misalnya, kabupaten ini terdiri dari ribuan pulau yang terpencar-pencar letaknya, sehingga sulit dijangkau. Secara geo-politik, Kepulauan Riau merupakan pertemuan aliran sosialis-komunis dengan masyarakat liberal, serta potensial pula disusupi oleh ancaman dari Utara. Dari sudut geo-ekonorni, merupakan lintasan antara konsumen BBM di Timur Jauh (Jepang, Korea dan Taiwan) dengan produsen dari Timur Tengah, dan bukankah Kepulauan Spratly yang disengketakan itu letaknya tidak jauh dari ladang gas alam Natuna yang sebentar lagi akan di eksploitasi.

Ada beberapa kecenderungan yang sangat menarik dan perlu dicermati dari dinamika pembangunan yang sangat tinggi di Kepulauan Riau dewasa ini. Pertama, kecenderungan yang sangat kuat dari globalisasi perdagangan atau lebih tepat sebenarnya dikatakan, kecenderungan yang semakin kuat terhadap dominasi negara tetangga dalam perdagangan. Asean Free Trade Area [AFTA] belum lagi diberlakukan tetapi Kepulauan Riau telah merasakan pahit manisnya perdagangan bebas itu. Lihatlah bagaimana kawasan Bintan Utara telah disulap menjadi kawasan wisata yang indah dan meyenangkan bagi wisatawan, lihat pula betapa banyaknya partner kita dari Singapura yang bergerak leluasa di Bintan, Batam dan Karimun merebut pangsa pasar lokal. Kemampuan global dihadapkan dengan pasar lokal, tentu tidak sulit menduga akhir skenarionya. Kecenderungan kedua adalah penetrasl swasta nasional yang semakin besar terhadap percepatan industrialisasi di Kepulauan Riau. Ini sulit dipungkiri, karena dari sudut pandang integrafif, Kepulauan Riau sebagai ujung tombak simbol kemajuan Kawasan Barat Indonesia. Eksplorasi gas alam di lepas pantai Natuna adalah kenyataan lain memperkuat kecenderungan-kecenderungan tersebut.

Dihadapkan kepada dua kecenderungan di atas, maka Kepulauan Riau harus siap menghadapi konsekuensi lain, yakni arus migrasi penduduk yang mulai akan menggeser dari Batam ke Bintan, mulai dari yang terampil sampai kepada imigran yang hanya bermodalkan dengkul. Padahal, sesuai dengan perkembangan Bintan sebagai main land Kepulauan Riau, yang diperlukan adalah tenaga-tenaga kerja yang terampil untuk mendukung akselerasi industrialisasinya. Manakala situasi ini terwujud, maka Bintan harus siap dengan menularnya "wabah" rumah liar dari Batam. Kecenderungan migrasi penduduk akan semakin mencuatkan permasalahan pertanahan ke permukaan, sekaligus juga tumbuh suburnya sektor informal, dan tentu pula gangguan kamtibmas.

Kecenderungan persaingan yang semakin tajam di sektor swasta akibat industrialisasi yang berlangsung dengan cepat juga tidak akan terelakkan, terutama antara pelaku-pelaku ekonomi dari Jakarta dengan pelaku-pelaku ekonomi dari negara-negara tetangga, apalagi Singapura. Kemampuan Bupati Manan menjadi wasit yang netral, kalaupun ada yang harus dilindungi, tentulah kepentingan masyarakat dan pengusaha-pengusaha lokal. Tentunya tanpa mengabaikan asas legalitas dan asas kepatutan.

***

Kecenderungan-kecenderungan yang harus dihadapi oleh Kepulauan Riau di masa yang akan datang, sebagaimana yang secara umum diuraikan di depan, tentu telah dipahami oleh Bupati Manan, dan tentu telah pula dipikirkan antisipasinya. Peluang yang paling besar yang dimiliki oleh Bupati Manan untuk meneruskan upaya masyarakat Kepulauan Riau agar mampu bermain secara optimal dalam setting masyarakat yang berubah cepat, agaknya adalah Bupati Manan tidak harus lagi berangkat dari garis start. Ini pulalah barangkali yang menjadi salah satu pertimbangan penting untuk memberikan the second chance kepada Bupati Manan. Permasalahan memang selalu berkembang cepat demikian pula tuntutan masyarakat, dan semua itu menuntut pendekatan penyelesaian yang akomodatif. Menggunakan pendekatan pola lama yang konvensional agaknya tidak lagi dikehendaki oleh masyarakat dan oleh kualitas permasalahan itu sendiri.

Review, re-orientasi, atau kaji ulang, atau apalah namanya, nampaknya memang diperlukan untuk mengidentifikasi setiap permasalahan yang muncul secara cermat. Proses pemilihan Bupati KDH sering kali memang menonjol dengan kegiatan adu "balon", tetapi bila dicermati, tetap ada segi-segi yang layak sebagai bahan evaluasi metode pendekatan pemecahan masalah. Gubernur Soeripto agaknya benar memberikan penjelasan, ketika ditanya wartawan mengenai apa yang beliau maksud dengan perlunya pembaharuan di Kepri, bahwa pembaharuan tidak selalu berarti penggantian figur, yang paling substansial adalah perlunya reorientasi program. Dan inilah agaknya PR yang paling berat Bupati Manan, yakni menggerakkan team worknya. untuk secara simultan mampu menterjemahkan pesan sponsor itu. Asal Bupati Manan dan pihak-pihak yang berkompetisi dalam pemilihan Bupati Kepri menganggap the game is over, maka segala sesuatunya akan selesai. Masalah besar dikecil-kecilkan, masalah kecil dihilangkan, begitu kata orang tua-tua.

Proses pemilihan Gubernur Riau beberapa waktu yang lalu, agaknya jauh lebih seru dibandingkan dengan Bupati Bengkalis sekalipun. Dimensi permasalahannya jauh lebih besar. Banyak orang menduga, setelah Gubernur Soeripto terpilih menjadi Gubernur Riau untuk masa bakti yang kedua kalinya, akan terjadi "tindakan pembalasan", logikanya sederhana, Gubernur Soeripto tentu memilih kawan-kawan pendukungnya untuk bekerja dalam satu tim guna menjalankan misi pembangunan yang menjadi tanggung-jawabnya. Ternyata dugaan itu keliru total. Gubernur Soeripto ternyata merangkul kawan dan lawan, semuanya mendapat kesempatan yang sama. Kelompok-kelompok masyarakat yang menjamur yang muncul dengan jelas sikap pro dan kontra dalam pemilihan Gubernur yang semula dicemaskan bakal menjadi bibit-bibit disintegratif ternyata tidak terbukti. Masyarakat tenang-tenang saja setelah itu. Masyrakat nampaknya semakin menyadari bahwa perbedaan pendapat bukanlah bermakna permusuhan.

Maka, bilamana kemudian dalam proses pemilihan Bupati Kepala Daerah Tingkat II terjadi adu bakal calon yang cukup ramai, orang tidak lagi megkhawatirkannya sebagai sesuatu yang dapat membahayakan persatuan dan kesatuan dalam masyarakat. Itu semua yang wajar-wajar saja. Itu dinamika.

Lihatlah, tidak ada gejolak di Inhil setelah H. Azwin Yakop terpilih, walaupun proses pemilihannya tidak kalah menarik. Tidak juga ada gejolak di Bengkalis setelah H. Fadlah Sulaiman duduk sebagai Bupati. Bahkan Pak Latief [Ketua DPRD Bengkalis] yang sebelumnya terbungkuk-bungkuk akibat trial by press dalam proses pemilihan Bupati Bengkalis, masih tetap tegak teguh bak karang di tengah samudra. Bukankah indikasi-indikasi tersebut menunjukkan kedewasaan dan kearifan kita dalam berbangsa, bernegara dan bermasyarakat? Bupati Manan, selamat bertugas !


Tulisan ini sudah di baca 126 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Suara dari Gedung Lancang Kuning

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Suara-dari-Gedung-Lancang-Kuning/8-PR-Manan.html