drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Suara dari Gedung Lancang Kuning | Bagian : 1

Fenomena Kita


Oleh : drh.chaidir, MM

Ketika ditanya oleh seorang teman dari Jakarta, apakah di Pekanbaru sekarang musim durian [rupanya teman ini rindu berat dengan durian Pekanbaru], saya katakan memang selalu musim durian, tapi kali ini sorry Bung durian dikalahkan oleh "balon". Lho koq ? Memang! Tapi balon yang ini, musimnya satu kali dalam lima tahun.

Balon adalah kata yang paling populer di Pekanbaru dalam dua bulan terakhir ini Balon ini bukan karet, juga bukan sejenis buah eksotik. Balon yang populer ini adalah akronim dari bakal calon. Ada dua macam bakal calon [balon], yang pertama adalah balon Gubernur Riau dan yang kedua adalah balon Ketua DPD Golkar Tingkat I Riau.

Ada dua event politik yang menarik di Riau menjelang penghujung tahun ayam ini dan kedua pcristiwa tersebut berada dalam network. Yang pertama Pemilihan Ketua Golkar Propinsi Riau yang akan berlangsung dalam salah satu rangkaian acara musda Golkar dan yang kedua adalah Pemilihan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Riau.

Menariknya, kedua peristiwa tersebut seakan-akan diatur, Musda Golkar adalah Musda Tingkat I terakhir di seluruh Indonesia, dan Pemilihan Gubernur Riau juga pemilihan terakhir dari beberapa pemilihan terakhir dari beberapa pemilihan Gubernur sepanjang tahun 1993 ini. Biasanya yang ditampilkan terakhir selalu menarik.

Menariknya peristiwa tersebut mulai terlihat sejak awal. Dalam proses pernilihan gubernur misalnya, DPRD Tingkat I Riau menyediakan Waktu selama 72 hari hanya untuk menjaring aspirasi, baik berasal dari organisasi-organisasi Tingkat I, Tingkat II, Kecamatan, dari kampung-kampung maupun yang berasal dari perorangan dalam daerah, tak ketinggalan juga berasal dari luar daerah. Konon jumlah aspirasi yang masuk ke DPRD Tingkat I Riau juga merupakan rekor dalam jumlah aspirasi yang pernah masuk ke DPRD Tingkat I di seluruh Indonesia dalam proses pemilihan gubernur.

Ada dua pertanda baik yang dapat kita lihat dalam proses penjaringan aspirasi tersebut. Yang pertama adalah political will lembaga legislatif kita yang membuktikan sikapnya untuk lebih terbuka, dan yang kedua adalah kesadaran yang tinggi dari masyarakat untuk menggunakan haknya sebagai warganegara.

Hampir tidak terbayangkan bagaimana anggota masyarakat suku sakai dapat diberi pengertian tentang pentingnya peran seorang gubernur bagi kehidupan mereka. Sulit juga dicerna bagaimana suku Talang Mamak berkenan hadir di DPRD Tiagkat I Riau tmtttk menyuarakan keinginannya, atau kehadiran ibu-ibu lugu dari desa nun jauh di pedalaman.

Apakah keberanian masyarakat pedalaman ini karena adanya Festival Seni Budaya Masyarakat Pedalaman? Rasanya tidak lagi menjadi penting. Bukankah dukungan-dukungan tersebut, biar berasal dari organisasi-organisasi Tingkat I sekalipun pada dasarnya adalah out put dari beberapa masukan yang saling pengaruh-mempengaruhi, dan itu rekayasa namanya. Sah-sah saja.

Apakah itu cermin dari telah meningkatnya kesadaran politik masyarakat sebagai akibat dari pendidikan politik yang telah dilakukan oleh pemerintah? Ketua DPRD Tingkat I Riau, Kolonel (purn) Drs. Darwis Rida Zainuddin agaknya tepat mengomentari keadaan. Ini sebuah fenomena biasa dipakai sebagai bahan kajian oleh Perguruan Tinggi, kata beliau dalam satu kesempatan. Ya, ini fenomena, fenomena kita.

Proses penjaringan aspirasi masyarakat dan proses pemilihan gubernur secara keseluruhan, bahkan juga proses pemilihan Ketua DPD Golkar Tingkat I Riau, memberikan kepada kita cermin yang layak untuk kita amati secara seksama. Dari sana kita akan bisa berkaca sejauhmana sebenarnya upaya yang telah kita lakukan dalam pendidikan politik, dalam mendorong dan mengembangkan partisipasi masyarakat. Sejauh mana pula kekuatan sosial politik yang ada mampu mengakomodasi dan menyalurkan aspirasi yang muncul sehingga berkembang komunikasi timbal balik yang sehat, baik antara masyarakat maupun antara lembaga perwakilan rakyat, dan dengan pemerintah.

Kita akhirnya akan bisa bercermin bagaimana wajah kita berekspresi menghadapi perbedaan-perbedaan pendapat yang sebenarnya memang tidak dilarang. Perbedaan pendapat, kata orang adalah ibarat beraneka ragamnya bunga ditaman, dia bukan mengganggu tapi sebaliknya justru memperindah taman. Pemilihan gubernur dan pemilihan Ketua Golkar bukanlah ending dari perjuangan besar kita. Keduanya hanyalah merupakan alat untuk mencapai tujuan yang lebih besar yakni bagaimana mengentaskan kemiskinan dari bumi lancang kuning ini.


Tulisan ini sudah di baca 104 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Suara dari Gedung Lancang Kuning

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Suara-dari-Gedung-Lancang-Kuning/6-Fenomena-Kita.html