drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Suara dari Gedung Lancang Kuning | Bagian : 5

Perseteruan Dua Harimau di Satu Bukit


Oleh : drh.chaidir, MM

Kata orang, tak boleh ada dua harimau dalam satu bukit, tapi itu yang terjadi di Malaysia. Perseteruan PM Makysia Dr Mahathir Moharnad dengan mantan Timbalan Perdana Menteri Dr Anwar Ibrahim telah menjadi pembicaraan dua tahun terakhir ini. Perseteruan itu adalah perseteruan dua "harimau" dalam satu "bukit". Episode pertama dimenangkan oleh Dr Mahathir. Anwar dipecat dan terlempar ke dalam bui, dan bila tidak ada hal-hal yang luarbiasa terjadi, dia akan mendekarn disana sampai tahun 2005 nanti

Kedua "harimau" itu, sayangnya semula berada dalam satu "bukit" yang bernama UMNO. Ketika perseteruan itu mencapai titik puncaknya pada tahun 1998, Dr Mahathir adalah Presiden UMNO dan Dr Anwar Ibrahim adalah Timbalan Presiden UMNO. Tidak ada pilihan lain, salah satu "harimau" memang terpaksa hengkang dari "bukit" itu. Bagi UMNO [United Malay National Organization -Pertumbuhan Kebangsaan Mekyu Bersatu], sebuah partai politik orang Melayu dan merupakan partai politik terbesar di Malaysia, perseteruan itu merupakan bencana besar.

Melayu Malaysia pun pecah. Wan Azizah, isteri Dr Anwar Ibrahim, hengkang dari UMNO beserta pengikutnya, dan mendirikan Partai KeADILan. Bersama dengan anak remajanya Nurul Izzah [20 tahun] yang sangat brilian, Wan Azizah memperoleh simpati yang cukup besar terutama dari kaum Melayu . Dalam Pernilu 1999, Partai KeADILan langsung memperoleh 5 kursi di Parlemen Malaysia. Kutub baru orang Melayu Malaysia pun terbentuk.

Sebelum berdirinya Partai KeADILan, boleh dikata hanya ada dua kutub Melayu di Malaysia yakni UMNO dan PAS [Partai Islam Se-Malaysia], kini kutub itu telah bertambah. Ketika Anwar masih berada dalam barisan UMNO, PAS sering memanfaatkan kasus Anwar sebagai alat untuk memojokkan UMNO. Tetapi ketika Anwar dipecat dari UMNO, dan isterinya mendirikan Partai KeADILan, PAS memanfaatkan kasus Anwar untuk memancing simpati pemilih. Partai KeADILan pun langsung digandeng oleh PAS untuk bergabung dalam koalisasi Barisan Alternatif.

Saling tuding antara kubu UMNO di satu sisi dengan kubu PAS dan partai KeADILan di sisi lain tidak terhindarkan. UMNO dihujat sebagai partai yang zalim, otoriter, tidak demokratis, diskriminatif, anti Islam, sementara UMNO pula menghujat PAS sebagai fundamentalis, terlalu latah mengatasnamakan kepentingan orang Melayu dan Islam, isu yang dikembangkan terlalu sempit dan pada akhirnya justru akan membawa Melayu dan bahkan Islam di Malaysia ke pinggir jurang.

Partai KeADILan pula dituding oleh UMNO sebagai partai yang katanya memperjuangkan "rule of law", tetapi sebenarnya menolak rule of law. Contohnya, Partai KeADILan berjuang untuk memberikan pengecualian hukum kepada Dr. Anwar Ibrahim. Dr. Anwar tidak boleh didakwa, tidak boleh dibuktikan bersalah dan tidak boleh dipenjarakan. "Apakah yang begini dinamakan rule of law, bersalah atau benarnya seseorang harus dibuktikan di depan pengadilan," tegas Dr Mahathir.

Dr. Mahathir Nampak kesal karena isteri Dr. Anwar Ibrahim ingin menyeret kasus suaminya ke dalam wilayah pelanggaran HAM untuk memancing simpati pihak luar negeri. Pelanggaran harus diselesaikan menurut rule of law tidak secara politik. Penyelesaian politik adalah melalui pemilihan umum.

Menurut Dr. Mahathir, Kerajaan Malaysia akan dikutuk apabila Dr. Anwar Ibrahim ditahan di bawah Akta Keselamatan Dalam Negeri [ISA-Internal Security Act]. Dr Anwar tidak di tahan di bawah ISA, pengadilannya terbuka, dia dibek oleh 9 orang Pengacara. Pengadilannya diberi waktu yang lama. Dr Anwar juga diberi kesempatan untuk membuat pertanyaan-pertanyaan politik dan diberi keistimewaan-keistimewaan dalam persidangan. Namun orang masih saja menganggap hakim bersubahat dengan Perdana Menteri.

Pilihan Raya Umum [Pemilu] Malaysia tanggal 29 November 1999 tahun lalu dilaksanakan dalam situasi yang kurang menguntungkan UMNO, dan hasilnya memang sebuah pil pahit. Di samping Kelantan yang belum pernah tertaklukkan oleh UMNO, Negeri Terengganu pun lesap ke tangan PAS. Orang Melayu Malaysia boleh dikata kini terpecah tiga, pendukung UMNO, pendukung PAS dan pendukungPartai KeADILan.

Koalisasi permanen Barisan Nasional yang dimotori oleh UMNO memang masih menang dengan mayoritas tunggal [lebih dari dua pertiga kursi di Parlemen Malay"sia] dan menguasai 11 Negeri Bagian, tetapi bagi UMNO sendiri hasil Pemilu 1999 itu merupakan pukulan telak. Khusus untuk konstituen UMNO, perolehan suaranya menurun dari 60,8 persen dalam Pemilu 1995 menjadi 48,6 persen dalam Pemilu 1999.

Sementara PAS sendiri perolehan suaranya melonjak drastis, sehingga jumlah kursinya di Parlemen meningkat dari 7 kursi (1995) menjadi 27 kursi pada tahun 1999.

Banyak pengamat di Malaysia memberikan komentar bahwa hasil Pemilu merupakan "kekalahan" bagi UMNO, sebab pemilih orang Melayu sebenarnya banyak yang lari ke PAS dan Partai KeADILan. UMNO tertolong oleh partai-partai lain yang merupakan kawan setianya di Barisan Nasional, seperti MCA [partai etnik Cina], MIC [partai etnik India] dan Partai Gerakan. Pengamat politik di Ma"laysia juga menggambarkan bahwa hasil Pemilu 1999 itu menunjukkan perpecahan yang serius di kalangan masyarakat Melayu Malaysia. "Apabila ini tidak disadari dan orang Melayu tidak berjaga-jaga, besar kemungkinan yang digendong berciciran", kata Presiden UMNO Dr. Mahathir dalam pidato politiknya ketika membuka Perhimpunan Agung [Konggres Nasional] UMNO di Kuala Lumpur 11 Mei 2000 lalu.

Adakah skenario global yang dimainkan pihak Barat untuk memperlemah UMNO dan mengobok-obok Malaysia ? Pertanyaan itu menurut pengamat di Malaysia bukan mengada-ada. Sebab dewasa ini hanya Malaysia yang sanggup mengkritik Barat dengan lantang. Oleh karena itu Barat merasa kurang selera dengan Malaysia. Salah satu caranya adalah dengan memprovokasi persaingan antara PAS dan UMNO, dan kuda tunggangannya adalah HAM dan domokrasi.

Pidato Presiden UMNO, Dr. Mahathir, dalam pembukaan Perhimpunan Agung UMNO yang diberi tema "Perjuangan Belum Selesai", jelas sekali dimaksudkan untuk menggugah kembali semangat orang Melayu untuk bersatu padu. Hanya dengan bersatu padu orang Melayu itu akan bisa menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Perhimpunan Agung UMNO tahun 2000 ini agaknya sadar betul akan tantangan besar yang menghadang mereka.

Konflik kepentingan nampaknya ada diman-mana. Di Malaysia pun tidak terkecuali. Ada orang Melayu yang ikut-ikutan pula menyokong pihak-pihak yang tidak suka dengan program Dasar Ekonomi Baru [DEB] Malaysia, dengan alasan yang kelihatannya masuk akal, yakni alasan yang persamaan hak. "Mereka lupa, kalau itu diturutkan rnaka sebagian besar orang Melayu Malaysia akan menjadi penumpang di negerinya sendiri. Saya tak habis pikir mengapa ada orang Melayu yang memperlemah perjuangan Melayu," kata Dr. Mahathir masygul.

Padahal, suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju, langkah yang dibuat oleh Dr. Mahathir dalam memajukan Melayu dan Malaysia dewasa ini telah menampakkan hasil. Ekonomi Melayu telah terangkat dan berhasil mengimbangi dominasi perekonomian oleh etnik Cina. IMF semula sangat jengkel terhadap kebijakan Dr. Mahathir yang mematok nilai tukar Ringgit Malaysia terhadap dolar Amerika di awal krisis melanda rantau ini, tetapi sekarang langkah itu diakui. Memperindag kita baru-baru ini punya ide untuk melakukan hal yang sama, tetapi sudah barang tentu sangat terlambat dan sudah kehilangan momentum. Korban sudah terlanjur amat sangat besar. Untuk sementara kita cukup puas dengan penilaian internasional sebagai kiblat demokrasi baru. Entah bidak catur siapa sebetulnya yang kita mainkan?

Rakyat bukan untuk demokrasi tetapi demokrasilah yang untuk rakyat, kata Dr. Mahathir. Agaknya dia sependapat dengan Lee Kwan Yew, mantan Perdana Menteri Singapura, "It's not democracy make the people welfare, it is the discipline". Dalam bahasa yang lebih moderat barangkali begini: Demokrasi harus, tetapi disiplin mutlak, sebab tanpa disiplin, demokrasi akan menjadi anarki.


Tulisan ini sudah di baca 130 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Suara dari Gedung Lancang Kuning

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Suara-dari-Gedung-Lancang-Kuning/45-Perseteruan-Dua-Harimau-di-Satu-Bukit.html