drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Suara dari Gedung Lancang Kuning | Bagian : 5

Antara Ginseng dan Cumi Goreng


Oleh : drh.chaidir, MM

Menyebut Korea, tentu terbayang ginseng. Ginseng seakan identik dengan Korea. Banyak yang percaya, gin-seng ampuh sebagai doping yang membuat manusia-manusia Korea menjadi tangguh. SDM yang tangguh membuat Korea mampu bangkit dalam tempo yang relatif singkat setelah babak belur karena Perang Korea 1950-1953. Perekonomian mereka meroket dan berhasil menempatkan diri menjadi salah satu negara industri yang disegani dunia. Adakah itu karena ginseng? Dalam buku The Business of Korean Culture yang ditulis oleh Richard Saccone, atau bahkan dalam buku Introduction to Korean History and culture, karangan Andrew C Nahm,yang banyak dipakai sebagai referensi, saya tidak menemukan uraian tentang Ginseng. Entah dalam buku-buku referensi yang berbahasa Korea. Ataukah Ginseng hanya mitos?

Barangkali ginseng memang memiliki khasiat yang luar biasa dan komoditi yang bagus untuk diperdagangkan. Pada agen resmi penjual ginseng yang terletak di pusat kota Seoul, harganya relatif cukup mahal, bervariasi dari 100 dolar sampai 500 dolar Amerika per paket dalam berbagai bentuk kemasan. Bentuknya macam-macam, mulai dari sirup, pil, kapsul, atau yang sudah dikemas bersama kopi dan teh pun ada. Ketika saya coba membandingkan dengan harga di luar yang lebih muraah, mereka menangkis dengan ketus, yang di luar itu, mutunya tidak dijamin oleh pemerintah, tetapi kalau produk ginseng yang dijual agen, ditanggung 100 % asli. Barangkali ini jurus dagang, dan kita tentu sulit mengkonfirmasikannya. Pemandu wisata kami, Miss Melody, bercerita, barangkali ini juga jurus pemasaran ginseng, bahwa seorang turis Amerika menyuratinya, turis yang sudah tua itu memperoleh bayi lagi setelah menenggak cukup banyak ginseng selama tournya di Korsel dan membeli Ginseng yang asli. "Tapi tolong jangan banyak-banyak minum ginseng sore hari, sebab itu akan membuat Anda terasa senantiasa segar dan tidak akan bisa tidur semalaman," ujarnya. Miss melody tentu tidak tahu kalau di Pekanbaru dewasa ini juga ada obat penyegar yang lebih dahsyat, yang membuat orang mampu berdisko sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sehari semalam nonstop.

Ginseng memang ditanam secara luas di ladang-ladang sebagai tanaman komersial. Tanaman ini sangat rakus akan unsur hara tanah. Berdasarkan peneiitian, iahan yang pernah ditanami ginseng menjadi kurus, hara tanah habis disedot ginseng, sehiagga apa bila khan tersebut kemudian ditanami dengan tanaman lain setelah ginsengnya dipanen, tanaman ini akan menjadi kerdil. Nah, yang ini secara logika dapat dicerna mengapa ginseng memiliki banyak khasiat.

Ginseng boleh menjadi "trade mark" Korea, tetapi yang menarik untuk dicermati, dan agaknya sangat mempunyai korelasi dengan gizi dan kesehatan masyarakatnya dan akhirnya bermuara pada kualitas SDM, adalah mengenai pola makan. Kebiasaan makan masyarakat Korsel tidak berbeda jauh dengan tetangganya, Jepang. Mereka gemar makan ikan dan produk lainnya yang berasal dari laut. Bahan-bahan tersebut dimasak dengan cara yang sehat, yakni direbus dengan seadanya dan langsung disantap ketika masih hangat.

Apa yang diungkapkan oleh Menteri Pangan kita Prof. DR. Ibrahim Hasan dalam pidatonya ketika membuka Simposium Sagu Internasional di Pekanbaru baru-baru ini, bagi saya sangat menarik. Beliau mengatakan bahwa pola makan yang proporsional dan sehat itu adalah pola makan Jepang. Menu makan mereka berimbang secara proporsional antara karbohidrat, lemak dan protein. Orang Amerika makan terlalu banyak lemak, sedangkan or"ang Indonesia makan terlalu banyak karbohidrat. Nasi, ketela, sagu, mie, semua itu terlalu banyak dijejalkan ke dalam tubuh kita. Tapi susahnya, kebiasaan makan seperti orang Korea itu, sulit diterima selera, walaupun disadari makanan tersebut bergizi tinggi.

Cumi goreng dapat ditemui dengan mudah di setiap pojok tempat hiburan atau keramaian, persis seperti or"ang berjualan tahu pong atau ubi goreng di tempat kita. Remajanya pun gemar sekali mengunyah-ngunyah cumi goreng, layaknya laksana popcorn di tempat kita. Tentu dengan mudah kita dapat membedakan beberapa pro"tein yang terdapat dalam cumi goreng. Kebiasaan makan cumi goreng saja sudah memiliki nilai tambah, apa lagi dikombinasikan dengan ginseng.

***

SDM yang berkualitas, jelas tidak hanya ditentukan oleh pola menu dan makan. Oroig Korsel dididik Spartan dari kecil. Ajaran Konsfusius, yang banyak mempengaruhi pola sikap dan tingkah laku orang-orang Korea, memberikan pemahaman penting untuk menghargai pendidikan. Masyarakat Korea benar-benar menaruh respek kepada orang-orang yang berpendidikan dan menempatkaan guru pada posisi yang terhormat. Sebenarnya prinsip-prinsip pendidikan yang dikembangkan Korsel bersifat universal, seperti mengembangkan spirit nasional, konsep tentang kebijakan, konsep tentang kewajiban, tanggung jawab terhadap tugas, peningkatan pengetahuan dan keterampilan, persatuan dan kesatuan serta konsep hidup harmonis sesama manusia. Semua orang hams memberikan konstribusi kepada peningkatan kesejahteraan umat manusia dan mengembangkan kehidupan demokrasi.

Sebenarnya intensitas proses belajar-mengajar di Korsel sempat menurun akibat perang. Lebih dari separoh gedung-gedung sekolah menjadi puing-puing. Selama perang aktivitas belajar-mengajar dilakukan di tenda-tenda darurat dan di barak-barak sementara, di wilayah-wilayah yang tidak diduduki oleh tentara komunis.

Setelah perang, sistem pendidikan direhabilitasi dengan penuh semangat, dengan bantuan Amerika dan PBB. Fasilitas fisik kembali dibangun dan kualitas program belajar-mengajar ditingkatkan dalam tempo singkat. Perencanaan program pendidikan dikontrol dengan hati-hati, dan dengan didukung oleh semangat yang tinggi telah membawa pembangunan pendidikan maju dengan cepat baik kuantitas maupun kualitas.

Di samping prinsip-prinsip dasar pendidikan yang telah dimiliki, Korsel mendefenisikan tujuan pendidikan mereka. Pertama, membangun dasar sipiritual dalam proses regenerasi bangsa. Kedua, menciptakan gambaran manusia Korea baru, dan Ketiga, peningkatan pengetahuan terhadap sejarah dan masalah-masalah nasional. Penekanan ini penting bagi Korsel untuk meningkatkan kewaspadaan nasional mereka melawan agresivitas Korea Utara yang sistematis.

Dalam sistem sekolah formal, Korsel sama dengan kita, enam tahun Sekolah Dasar, tiga tahun SLP, tiga tahun SLA dan kemudian Perguruan Tinggi. Semenjak tahun 1969, Korsel sudah melaksanakan program wajib belajar 9 tahun. Ujian masuk SLP dihapuskan, dan dengan langkah ini, 99,2 % lulusan dapat melanjutkan ke pendidikan SLP. Kemudian semenjak tahun 1973, ujian masuk SLA juga di hapuskan, tetapi ujian masuk Perguruan tinggi tetap dilakukan. Dewasa ini rata-rata 55% lulusan SLA diterima di Perguruan Tinggi. Tetapi untuk masuk ke dalam kelompok yang 55% itu tidak mudah, nilainya harus sangat baik. Bangku SMA memang tahap yang paling menentukan bagi masa depan seorang remaja Korsel. Dia akan menjadi orang-orang yang sukses di belakang hari atau tidak, banyak ditentukan pada tahap ini. Oleh karena itu, pada tahap ini pendidikan sangat Spartan. Jam pelajaran resmi memang hanya dari pukul 09.00 s/d 16.00, tetapi kemudian tanpa kembali ke rumah, mereka melanjutkan lagi dengan jam ekstra sampai pukul 22:00. Dampak negatifnya ada, siswa yang gagal merasa malu sehingga ada yang bunuh diri atau bahkan salah satu orang tuanya yang bunuh diri.

Kesungguhan Korsel dalam menggembleng SDM-nya terlihat dari ketetapan pendiriannya untuk memilih cara terbaik dalam mendukung keberhasilan program pendidikannya. Di tingkat SLP dan SLA, pelajar putra dan putri dipisah sckolahnya. Argumentasinya: survey membuktikan, hasil pemisahan lebih bagus dari pada hasil dicampur. Pelajar putri juga jangan harap bergaya ria ke sekolah dengan rambut terurai panjang sebahu. No way! Rambutnya harus dipotong pendek sebatas telinga.

Pemerintah Korsel juga telah melakukan usaha-usaha besar untuk mengembangkan pendidikan sains dan teknologi. Hasilnya, dalam tahun 1967, mereka mendirikan Kementrian Iptek, dan tahun 1971 didirikan pula Institut Iptek lanjutan, diikuti kemudian pembentukan sebuah Kota Sains di dekat Teajon tahun 1974. Institusi-institusi ini diciptakan untuk meningkatkan riset dan pengembangan iptek baru dan menyelaraskan kerjasama antara Kementrian Pendidikan dan Iptek dengan pendidikan sains pada semua level sekolah untuk menumbuhkan jumlah ilmuan, teknolog dan pekerja-pekerja terampil. Menurut informasi yang diperoleh, Korsel mencetak lebih dari 400 orang Ph.D [Doktor] per tahun.

Dengan keikutsertaan Sekolah swasta memainkan peranan penting di semua tingkat pendidikan, maka dewasa ini, hampir sepertiga dari keseluruhan sekitar 45 juta penduduk Korsel adalah pelajar. Oleh karenanya tidak heran bila tingkat pendidikan rata-rata di Korsel cukup tinggi, yakni SMA plus.

Apa yang diperlihatkan oleh Miss Chae Hee Seung [28] atau lebih populer dengan panggilan Miss Melody, pemandu wisata rombongan selama berada di Korea, agaknya adalah contoh soal, bagaimana tingginya apresiasi orang Korea terhadap tugas dan profesinya. Pemandu wisata ini sangat piawai dan profesional. Caranya menghidupkan suasana, menegakkan disiplin rombongan sehingga terasa bukan merupakan beban Caranya memberikan apresiasi kepada pengemudi, caranya menempatkan diri secara pas kepada setiap anggota rombongan, menampakkan dirinya sebagai produk dari sistem pendidikan yang keras. Miss Melody adalah salah seorang dari 25 orang pemandu wisata profesional [berbahasa Inggeris] yang dimiliki oleh Lotte Travel, sebuah Biro Perjalanan yang terkenal di Korsel. la seorang sarjana Sastra Perancis, cerdas dan candle, tetapi lebih dari itu semua, ia sangat familiar dan mampu memberikan penjelasan terhadap banyak hal yang ditanyakan rombongan. Semua paket acara di Korsel berjalan dengan rapi dan tepat waktu. Kepentingan rombongan adalah segala-galanya bagi Melody.

Ada banyak kesamaan antara Indonesia dan Korsel, menurut Dubes RI di Korsel Bapak Singgih Hadipranowo, yaitu sama-sama bekas jajahan Jepang, sama-sama merdeka Tahun 1945, sama-sama diajar menghormati dan menghargai ortu dan guru, sama-sama melakukan program wajib belajar 9 tahun. Tapi kerena input berbeda maka output pun menjadi tidak sama


Tulisan ini sudah di baca 108 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Suara dari Gedung Lancang Kuning

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Suara-dari-Gedung-Lancang-Kuning/43-Antara-Ginseng-dan-Cumi-Goreng.html