drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Suara dari Gedung Lancang Kuning | Bagian : 5

SDA Terbatas, SDM Oke


Oleh : drh.chaidir, MM

Filsuf terkenal dari India, Rabindranath Tagore, suatu kali pemah berujar: "Dalam zaman keemasan Asia, Ko"rea adalah salah satu pembawa obor". Korea memang tercatat sebagai salah satu negeri tertua di dunia yang memiliki riwayat panjang tentang sebuah keberhasilan, mulai dari Kerajaan Shilla sebelum Masehi sampai ke Dinasti Yi di awal abad ke-20.

Tetapi Korea hari ini adalah sebuah negeri yang terbelah: Sebuah kondisi yang dipaksakan setelah Perang Dunia II. Di utara adalah Republik Rakyat Korea yang komunis, biasa disebut Korea Utara. Sedikit lebih luas wilayahnya tetapi jauh lebih sedikit penduduknya. Di selatan, adalah Republik Korea yang biasa disebut Korea Selatan, menganut paham liberal. Penduduknya sekitat 45 juta jiwa atau dua kali lipat dari Korea Utara.

Sempadan kedua Korea itu adalah sebuah wilayah demiliterisasi selebar 4 kilometer, yang membentang sepanjang 242 km dari muara Sungai Han yang berlumpur di barat sampai ke pegunungan Sotak yang perkasa di rimur. Kalaulah garis sempadan ini bisa bercerita, tentu akan banyak sekali ceritanya tentang insiden perseteruan kedua Korea ini.

Setelah gencatan senjata tahun l953, Korsel melakukan crash program untuk membangun kembali negerinya dari puing-puing kehancuran. Mereka dihadapkan pada posisi sulit karena tidak memiliki Sumber Daya Alam yang memadai. Hampir 70% dari wilayahnya berupa pegunungan yang tersusun dari bebatuan jenis gneiss dan granit. Lahan pertanian sangat terbatas. Tetapi justru salah satu tonggak penting dalam pembangunan ekonomi Korsel adalah keberhasilan mereka swasembada beras mulai tahun 1987. Swasembada beras tercapai setelah Korsel melakukan modernisasi pertanian melalui mekanisasi peralatan dan perlengkapan, peningkatan kualitas bibit padi melalui transplantasi, meningkatkan produksi pupuk dalam jumlah yang melimpah dan menerapkan teknologi pengolahan pasca panen. Mulai tahun 1989, Korsel sudah surplus beras lebih dari 5 juta ton pertahun.

Tonggak penting lainnya yang mempengaruhi perekonomian Korsel adalah pengembangan industri. Sampai dengan tahun 1960, Korsel pada dasarnya adalah negara agraris, mereka belum memproduksi baja, petrokimia, tanker, mobil, atau fiber glass. Hanya ada pabrik kertas dengan sistim yang lama dan industri tekstil. Industri eiektronika masih dalam tahap bayi, hanya memproduksi bola lampu dan tabung vacuum untuk radio.

Perkembangan industri modern baru dimulai setelah Korsel menerapkan Rencana Pembangunan Ekonomi Lima Tahun 1 1962-1966. Karakter ekonomi Korsel pun berubah. Perusahaan minyak Korea mulai berdiri tahun 1964, kemudian diikuti dengan pembangunan industry petrokimia terpadu tahun 1966 yang memiliki multiplier effect sangat luas. Dalam tahun 1980, berdiri pula Perusahaan minyak Korea-Iran, Ssangyong Oil Refinery. Produksi munyak meningkat dari 4,8 juta barrel tahun 1964 menajadi 257,5 juta barrel tahun 1985.

Pembangunan industri petrokimia diikuti pula dengan pengembangan industri permesinan. Sejak itu, pola produksi bergeser dari produksi mesin-mesin pertanian seperti, power tillers, traktor, dan pompa air ke industri mesin berat. Adanya Undang-undang Elektronika tahun 1969 dan pelaksanaannya berupa Rencana Pembangunan Industri Elektronika 8 tahun (1969-1976), membawa pertumbuhan yang cepat dari industri elektronika, bahkan tahun 1980 Korsel sudah menjadi 10 besar dunia sebagai produsen barang-barang elektronika, nilai ekspor mencapai 4,2 triliun dolar Amerika pada tahun 1985.

Dengan penyelesaian pabrik besi dan baja terpadu tahun 1973, industri berat Korsel juga melangkah maju, bahkan dewasa ini termasuk 14 besar produsen baja mentah dunia. Maka kemudian tidak heran bilamana perusahaan motor Hyundai yang telah berdiri sejak tahun 1968, banting stir dari pabrik asembling menjadi pabrik pembuatan mobil. Setelah itu menyusul Daewoo Motor, Kia Motor dan Ssangyong Motor berkompetisi di lapangan, memprodnksi mobil, bus, truck dan sepeda motor. Tahun 1980 Hyundai memperkenalkan dan mengekspor mobil kecil dengan nama excel, kemudian menyusul mobil ukuran medium [Sonata]. Maka Korsel pun menjadi sebuah negara pengekspor mobil sambil memenuhi seluruh permintaan dalam negeri. KIA Motor bahkan menjalin kerjasama dengan mitra dagangnya di Indonesia untuk memproduksi jenis Mobil Nasional [Mobnas] Indonesia yang diberi nama TIMOR. Proyek ini menjadi kontroversial di dalam negeri Korsel sendiri karena menimbulkan kecemburuan di kalangan masyarakat permobilan, karena Hyundai, Daewoo dan Ssangyong merasa ditinggalkan.

Aspek lain yang sangat penting dalam fenomena pembangunan ekonorni Korsel adalah berkembangnya industri perkapalan, industri pupuk, dan industri pulp & paper. Industri perkapalan bahkan sudah termasuk 4 besar di dunia.

Perkembangan industri yang sangat pesat menyebabkan berkembangnya kawasan industri. Kawasan Industri Inch'on di Seoul merupakan Kawasan Industri terbesar. Migrasi tenaga kerjapun terjadi dari rural ke beberapa Kawasan Industri yang terbesar di kawasan-kawasan strategis Korsel.

***

Ketika Rombongan DPRD Riau diterima oleh Duta Besar RI di Korea Selatan, Bapak Singgih Hadipranowo, di Kedutaan Besar RI di Yoido, sebuah kawasan bisnis yang terkemuka di Seoul, kami mendapatkan penjelasan mengenai latarbelakang bagaimana Korsel bisa bangkit dari negeri yang babak belur karena perang menjadi sebuah negara industri yang terkemuka. Padahal Sumber Daya Alamnya sangat terbatas. Bayangfcan, hanya 30% dari seluruh wilayah negerinya yang bisa dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Di samping SDA yang terbatas, Korsel dihadapkan dengan hambatan musim. Mereka mengenai empat musim; panas, gugur, dingin dan musim semi. Di penghujung musim gugur dan selama musim dingin, praktis tidak ada kegiatan pertanian yang bisa dilakukan.

Kondisi alam yang sulit ini telah membentuk karakter mereka menjadi manusia-manusia yang ulet, tangguh dan selalu ingin menang. Penulis Barat melukiskan, bangsa Korea sebagai bangsa yang giat, banyak akal, dan mengembangkan industrinya dengan semangat tinggi. Ada monumen-monumen yang melambangkan orang-orang Korea sebagai pekerja keras dan penuh inisiatif. "Masyarakat Korea adalah sebuah masyarakat yang memiliki kemauan yang keras dan mereka pantang kehilangan muka," kata Duta Besar.

Sukses Jepang, negeri tetangganya, menjadi negara industri yang paling terkemuka di dunia, merupakan cambuk bagi Korsel untuk membuktikan bahwa sumber daya manusia dan kualitas bangsa Korea tidak kalah dari Jepang. Jepang adalah bangsa yang pernah menjajah Ko"rea selama 35 tahun. Pada tahun 1945 Jepang menyerah kepada sekutu dan pada saat yang sama terpaksa melepas semua negara jajahannya termasuk Korea dan Indonesia, khususnya setelah Hirosima dan Nagasaki dibom oleh Amerika. Cambuk itu memang sangat besar pengaruhnya dalam memotivasi Korea Selatan untuk menjadi lebih baik dari Jepang. Dan hal itu mereka buktikan ketika Seoul menjadi tuan rumah Olympiade ke-24 tahun 1988. Ulympiade musim panas Seoul merupakan olympiade terbesar dalam sejarah; 160 kontingen dari 167 anggota Komite Olympiade Internasional [IOC] ikut berpartisipasi.

Olympiade Seoul yang spektakuler merupakan sebuah atraksi yang menyita perhatian dunia, dan ini merupakan kesempatan yang sangat baik bagi Korsel untuk membangun sebuah imej dalam komunitas internasional dan mendongkrak rasa percaya diri yang lebih besar dari bangsa Korea. Mereka telah membuktikan bahwa mereka lebih baik dari Jepang, paling tidak dalam peringkat perolehan medali emas.

Tahun 2002 nanti, Korsel dan Jepang akan menjadi tuan rumah bersama dalam menyelenggarakan sebuah kejuaraan akbar, Piala Dunia Sepakbola, dan kalau jadi terselenggara, itu adalah untuk pertama kalinya kejuaraan Piala Dunia yang paling bergengsi itu diselenggarakan di Asia.

***

Terlepas dari etos kerja mesyarakat Korsel yang memang tinggi, peran Amerika dalam proses industrialisasi di Korsel, tidak dapat dipungkiri. Apa yang dicapai oleh Korsel hari ini adalah refleksi dari suksesnya aliansi Korsel-Amerika untuk mengakhiri perang dan menghalangi agresi dari utara semenjak tahun 1953. Hubungan yang telah bertahun-tahun dan masih tetap berlanjut, telah memberikan sebuah hasil pembangunan dan keuntungan yang mencolok bagi Korsel, dan telah menumbuhkan kepercayaan diri pada level yang tinggi bagi masyarakat Korsel.

Suatu hal yang menarik untuk dicermati dewasa ini di Korsel adalah berkembangnya paham anti pemerintah dan anti Amerika. Ini tentu fenomena lain dari Korsel. generasi tua menempatkan Amerika sebagai "Malaikat" pembebas dan penyelamat, dan menyadari Amerikalah yang membantu menciptakan habitat yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya macan Asia itu secara fantastik. Tetapi ada kelompok-kelompok mahasiswa yang terpancing propoganda Korea Utara sehingga menjadi radikal dan selalau menentang pemerintah melalui demokrasi yang beringas. Kelompok mahasiswa radikal ini mengemas kemarahannya terhadap cara pemerintah memerankan skenario hubungan perdagangan Korsel dengan Amerika. Amerika dianggap tidak fair dalam menjalin perdagangan dengan Korsel.

Tetapi tampaknya kelompok radikal ini tidak sampai menganggu Amerika. Mayoritas orang-orang Amerika yang tinggal atau pernah tinggal di Korsel, menyadari bahwa warga Korsel adalah orang-orang yang bersahabat dan teramah di dunia. Nah?


Tulisan ini sudah di baca 163 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Suara dari Gedung Lancang Kuning

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Suara-dari-Gedung-Lancang-Kuning/42-SDA-Terbatas,-SDM-Oke.html