drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Suara dari Gedung Lancang Kuning | Bagian : 5

Catalan Perjalanan ke Korea Selatan Meninjau kandang "Macan Asia"


Oleh : drh.chaidir, MM

Insiden terdamparnya Kapal Selam Tempur Korea Utara di pantai kota Kangnung, Korea Selatan, hampir saja membatalkan kunjungan kami ke Korsel. Apalagi ketika Pak Alwis Azizat Murad, SH, Kabid Politik KBRI di Seoul, yang kami kontak dari Pekanbaru, membenarkan bahwa situasi Semenanjung Korea memang kembali agak memanas. "Ibu-ibu tidak usah diberi tahu," katanya setengah bercanda. Tapi jadwal tidak mungkin lagi dibatalkan. "Que sera sera".

Sesampainya di Bandara International di Kimpo Seoul, Pak Alwis, "urang awak", yang ternyata sangat ramah, telah menunggu kami. la membisikkan kepada saya, "Kalau masih mungkin dirubah, tidak usah ke Mount Sorak," katanya, dan kali ini agak serius. Mount Sorak adalah salah satu obyek wisata yang akan kami kunjungi itu terletak di kawasan Utara dan berbatasan langsung dengan Korea Utara.

Empat hari kemudian, ketika rombongan kami benar-benar berangkat menuju Mount Sorak, saya baru menyadari bahwa Pak Alwis agaknya tidak main-main.

Situasi memang sangat kontras dengan kawasan bagian Selatan. Di jalan-jalan yang berliku-liku di pegunungan Sorak, suasana keadaan darurat memang tetasa. Betapa tidak, tiga orang penyusup yang berasal dari kapal selam yang terdampar itu, diberitakan lolos, dan mereka mungkin berada di hutan-hutan pegunungan Sorak atau telah menyusup ke kota, dan mereka tentu siap melakukan sabotase kapan saja bila keadaan memungkinkan. Oleh karena itu, bisa dipahami bila banyak tentara yang berjaga-jaga, baik tentara Korea Selatan maupun tentara Amerika. Semua kendaraan yang lalu-lalang diperiksa, tetapi bus turis seperti yang kami gunakan, dibiarkan lewat begitu saja. Padahal, gurau Kol [Pol] H. Chaeruddin Mustafa, tiga orang serdadu "Korea Utara" itu ada dalam bus, mereka adalah Kol. H.U. Siagian, Kol [Pol] M. S. M Marbun dan Kol [Laut] Ir. A.O. Nainggolan, Msc.

Amerika memang tidak main-main dalam membendung ancaman nuklir dan militer dari Korea Utara. Mereka menempatkan satu divisi atau sekitar 36.250 pasukan tempurnya di Korea Selatan, dan 40.000 pasukan tempur lainnya siap siaga di Jepang. Itupun masih didukung oleh Armada VII yang siaga di lepas pantai denean kekuatan 27.000 pasukan tempur.

Sejarah memang mencatat, insiden perbatasan antara Korut yang komunis dan Korsel yang dilindungi Amerika sering terjadi. Di antaranya adalah penyerangan terhadap istana Presiden Korsel. Dan yang paling serius adalah penyerangan terhadap tentara Amerika yang bertugas dalam Pasukan PBB di Panmunjom, 1976, yang menyebabkan dua orang tentara Amerika tewas dikampak dan rnelukai beberapa orang lainnya.

Aksi-aksi kekerasan sejenis terus berlanjut Tahun 1983, Korea Utara mengejutkan dunia termasuk sekutunya sendiri dengan tindakannya menyerang rombongan Presiden Korsel yang sedang melakukan kunjungan di Rangoon, Burma [kini bernama Myanmar]. Serangan itu meleset dari targetnya, tetapi membunuh beberapa orang anggota kabinet yang menyertai rombongan.

Tahun 1987, Korut diberitakan mendalangi pemboman pesawat penumpang jet Korea Air Line. Kejadian ini menewaskan 115 penumpang. Aksi ini konon dikaitkan dengan upaya Korut untuk menggagalkan Olympiade Seoul 1988.

Tindakkan agresif Korut berlanjut dengan infiltrasi komandonya ke belakang demarkasi pada bulan Mei 1992 dan kemudian pada bulan Oktober dan November 1995, Paskhasnya menyusup pula ke Selatan, sebahagian besar dari infiltran ini ditembak mati oleh tentara Korsel.

Kejadian terakhir adalah terdamparnya kapal selam Korut di pantai kota Kangnung itu. Korut bilang kapal selam mereka rusak dan terbawa arus, tetapi Korsel bilang, bagaimana mungkin, bukankah arusnya ke Utara?

***

Waktu kunjungan yang hanya seminggu. agaknya memang tidak berarti apa-apa untuk mengenal lebih jauh mengenai seluk-beluk Korsel, apalah lagi mendalami kiat Korsel dalam mendongkrak perekonomian bangsanya sehingga memperoleh predikat sebagai "Macan Asia". Macan Asia adalah julukan yang diberikan oleh pakar ekonomi kepada beberapa negara industri baru atau NIC [New Industry Country} yang pertumbuhan ekonominya sangat mengesankan. Korsel adalah Macan Asia yang pal"ing spektakuler di antara macan lainnya: Taiwan, Singaputa dan Hongkong.

Korsel memang sebuah fenomena. Dalam tempo yang relatif singkat, pembangunan perekonomiannya melejit dengan amat mengesankan. Pada awal gencatan senjata tahun 1953, sebagai sebuah negara yang hancur berantakan akibat perang, Gross Domestic Product Korsel tidak ada apa-apanya. Tetapi kemudian meningkat tajam menjadi hampk 377 triliun dolar Amerika. Tahun 1994, total volume perdagangannya mencapai 198,4 triliun dolar, dan ini menempatkan perdagangan Korsel menjadi 12 besar di dunia dengan andalan ekspor meliputi baja, peralatan mesin, komponen elektronik, TV dan Video Camera, arloji digital, bahan-bahan kimia, microwave oven, bahan pakaian, pakaian jadi dan peralatan olah raga.

Nilai perdagangan Indonesia dengan Korsel sampai hari ini sebenarnya masih menguntungkan Indonesia. Tahun 1995 nilai impor kita dari Korsel berjumlah 2,9 milyar dolar sedangkan nilai ekspor kita ke Korsel berjumlah 3,3 milyar dolar, berarti Indonesia surplus sekitar 400 juta dolar. Namun demikian trend menunjukkan, nilai surplus kita makin lama semakin menurun. Tahun 1996 diperkirakan tinggal sekitar 300 juta dolar Amerika.

Dengan GNP lebih dari 454 triliun dolar pada tahun 1995, Korsel melejit menjadi 15 negara dengan ekonomi terkemuka di dunia. Bahkan tahun ini, Korsel telah melamar untuk menjadi salah satu anggota kelompok negara maju yang eksklusif dan sangat bergengsi, yakni sekelompok kecil negara-negara baru [29 negara] di dunia, yang memiliki pendapatan perkapita per tahun lebih dari 11.000 dolar Amerika. Boleh dihitung dengan jari sebelah tangan negara Asia yang berhasil masuk kelompok ini, di antaranya adalah Jepang, Brunei dan Singapura.

Perkembangan perekonomian Korse! ini telah menjadikan Korsel sebagai model bagi negara-negara sedang berkembang, yang sedang dalam proses industrialisasi.

Bagaimanapun singkatnya kunjungan, bagi saya, ini sebuah kesempatan yang sangat berharga. Saya merasa penasaran dan ingin melihat dari dekat bagaimana sebenarnya masyarakat Korsel itu. Mereka berani menjadi Tuan Rumah Olympiade tahun 1988. Baru dua negara Asia yang pernah menyelenggarakan Olympiade, lainnya adalah Jepang. Tahun 2002 nanti, Korsel bersama Jepang akan menjadi negara Asia pertama sebagai Tuan Rumah Piala Dunia sepak bola. Korsel seakan memiliki ekstra enerji, karena sebenarnya pada saat yang sama ketika ingin menjadi lebih dari bekas penjajahan Jepang dan ambisi untuk menjadi yang terbaik di dunia, mereka harus pula selalu mengeluarkan tenaga dan pikiran untuk menghadapi Korut. Pemerintah Korsel ingin unifikasi dua Korea diwujudkan dengan jalan damai melalui demokratisasi, tapi Pemerintah Korut mengajukan prasyarat, komunisme harus diterapkan di Selatan dan Amerika harus angkat kaki. Tapi siapa yang menjamin Selatan tidak dicaplok Utara, sebab Angkatan Bersenjata Korut tercatat empat kali lebih kuat dan Korsel.

***

Korsel memang tidaklah terlalu luas, hanya 98,486 Km2, atau hanya sedikit saja lebih luas dari wilayah daratan Propinsi Riau. Oleh karena itu dalam tempo satu minggu rombongan sudah menjelajahi sudut-sudut penting dari Korsel.

Berawal dari Seoul, Ibukota Korea Selatan yang berpenduduk hampk 12 juta jiwa, yang terletak di Barat-Laut, rombongan diterbangkan dengan pesawat domestic Korean Air Line [KAL] Boeing jumbo 747 ke ujung pal"ing Selatan, yakni ke Pulau Cheju yang ditempuh dengan satu jam penerbangan. Pulau Cheju adalah pulau kebanggaan orang Korsel. Pulau ini diberi julukan Honey"moon Island [Pulau Bulan Madu]. Di samping alamnya memang indah, iklimnya yang subtropis memberikan atmosfir yang mengesankan.

Hari berikutnya, rombongan terbang ke Pusan City, sebuah kota pelabuhan dan kota kedua terbesar di Korsel yang terletak di ujung paling Tenggara. Selanjutnya dengan bus menyusuri pantai Timur ke arah Utara, ke kota budaya Kyongju, sebuah kota yang menjalin program Kota Kembar [sister city] dengan Denpasar. Sebagai sebuah kota budaya, Kyongju ketat mempertahankan identitasnya, untuk merenovasi atap rumah saja, harus ada izin dari pemerintah kota.

Rombongan bermalam di Kyongju dalam suhu yang cukup dingin menurut ukuran kita, 12 derajat Celcius. Dari Kyongju, rombongan dibawa memotong ke Pantai Barat, ke Onyang, menyaksikan disneyland-nya Korea di Everland. Hari berikutnya zigzag ke Timur Laut, ke Mount Sorak, sebuah obyek wisata gunung yang sangat indah dengan mozaik pepohonan yang daun-daunnya mulai memerah berwarna-warni karena sudah memasuki musim gugor menjclang musim dingin. Suhu udaranya mulai menurun sampai 10 derajat Celcius, bahkan di puncak Mount yang dapat dicapai melalui kereta gantung [cable car] suhu turun menjadi 8 derajat Celcius.

Hari kelima, rombongan kembali ke Barat, menuju Seoul. Hebatnya, Seoul sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda keadaan darurat, padahal letaknya tidak jauh dari perbatasan. Memang ada demarkasi demiliterisasi zone [DMZ] yang di jaga oleh pasukan PBB, tapi bukankah Korea Utara memiliki rudal? Jangankan Seoul, kota-kota yang di bagian Selatan saja bisa dijangkau, seperti Pusan, Cheju City, dan sebagainya.

Dalam Perang Korea [1950-1953], pesawat MIG Korut yang hanya memerlukan waktu tiga menit untuk sampai ke Seoul, membuat Seoul hancur berantakan. Hanya dalam tempo tiga hari Seoul berhasil direbut oleh pasukan Korut. Untung dewi fortuna masih berpihak kepada Korsel, karena Amerika segera membantu, sehingga kemenangan Korea Utara yang sudah tinggal selangkah lagi, gagal menjadi kenyataan.

Oleh karena itu sangat mengagumkan, bila dalam tempo yang relatif singkat, Seoul tumbuh menjadi sebuah megapolitan. Sama sekali tidak terlihat sisa-sisa kehancurannya. Yang menonjol justru gedung-gedung pencakar langit dan kedua tepi sungai Han yang membelah Seoul. Perseteruan Utara dan Selatan masih jauh dari usai, tapi Seoul, pusat kandang Macan Asia itu, seakan diam seribu bahasa.

***

Catatan: Tulisan ini dan dua tulisan berikutnya, merupakan
catatan khusus Drh. Chaidir sewaktu mengunjungi Korea Selatan,
bersama 11 anggota DPRD pada 7 sampai 14 Oktober 1996


Tulisan ini sudah di baca 162 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Suara dari Gedung Lancang Kuning

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Suara-dari-Gedung-Lancang-Kuning/41-Catalan-Perjalanan-ke-Korea-Selatan-Meninjau-kandang-%22Macan-Asia%22.html