drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Suara dari Gedung Lancang Kuning | Bagian : 5

"Tapi, Kedamaian Memang Selalu Mahal"


Oleh : drh.chaidir, MM

Seorang dermawan yang berkebangsaan Amerika Rockefeller Jr. menyumbangkan dana sebesar 8,5 juta dolar AS untuk pembeliaan 16 are [kira-kira 6,5 hektar] tanah di Manhattan, New York. Pembangunan pun dimulai pada tahun 1947 dan selesai tahun 1952 setelah mendapatkan suntikan dana segar berupa pinjaman tanpa bunga sebesar 65 juta dola AS dari pemerintah Amerika Serikat [jumlah pinjaman ini kira-kira sebanding dengan kredit 1,3 triliun Edy Tansil yang bermasalah itu]. pengembalian kredit PBB ini pun, konon, tidaklah pernah macet, lunas pada tahun 1982, dua belas tahun lampau.

Gedung-gedung dalam kompleks markas besar PBB ini berikut tamannya yang asri, menurut ceritanya, dirancang dan dibangun oleh sebuah tim multinasional yang berintikan arsitek-arsitek terbaik dari sepuluh negara yang terkemuka. Halamannya yang luas terbuka untuk umum, demikian juga bagian terdepan dari Balai Sidang Paripurnanya [General Assembly Building]. Ada tiga bangunan utama dalam kompleks Markas Besar PBB ini yang masing-masing berhubungan antara satu dengan yang lainnya, yakni Balai Sidang Paripurna, yang berlantai marmer putih, Gedung Kaca bertingkat 39 yang juga berlantai marmer, dan Gedung Pustaka "Dag Hammarskjold" yang cukup besar.

Dekorasi interior gedung ini diramaikan dengan benda-benda seni persembahan dari mancanegara, seperti ukiran seni pahat, lukisan-lukisan dinding, sofa-sofa dengan permadani yang indah, karpet, perabot-perabot yang terbuat dari kayu, serta koridor-koridor yang artistik. Pada salah satu sudut terdapat sebuah patung ukiran kayu pemberian Indonesia. Patung ukiran kayu ini berwujud seorang perempuan dengan sebuah tempayan di atas kepala, dan dikomentari sebagai perlambang kesejahteraan [prosperity]. Patung ini terbuat dari kayu pentawa yang mahal.

Di samping markas besar yang terdapat di New York, PBB juga memiliki bangunan yang terdapat di beberapa negara sesuai dengan pengembangan badan-badan atau lembaga-lembaga yang berada di bawah PBB. Misalnya Organisasi Pangan dan Pertanian [FAO] berpusat di Roma, Italia. Demikian juga markas IFAD, sebuah badan PBB yang tidak asing di sini, ada di Roma. Kantor GATT [Gen"eral Agreement on Tariff and Trade] yang sering kita dengar di surat kabar itu, ada di Geneva, Swiss. Di Geneva ini juga terdapat kantor perwakilan PBB untuk Eropa. Kantor ini sebenarnyalah adalah kantor lama PBB, ketika PBB masih bernama Liga Bangsa-Bangsa sebelum Perang Dunia II. Ada beberapa Badan PBB lainnya yang bermarkas di Swiss, yaitu Uni Telekomunikasi Intemasional [ITU], Organisasi Kesehatan Dunia [WHO], Organisasi Hak Cipta Dunia atau WIPO [World Intelectual Property Organisation], Organisasi Metereologi Sedunia [WMO], dan Uni Pos Sedunia [Universal Postal Union].

Tidak jauh dari Swiss, yaitu di Wina, Austria, berdiri pula markas Badan Tenaga Atom Intemasional. Markas ini dibangun oleh Pemerintah Austria dengan dana tidak kurang dari 700 juta dolar AS. Sementara itu markas Badan Pengadilan Internasional di Belanda. Di London, Inggeris, berdiri kantor Organisasi Konsultasi Maritim Antarpemerintah atau IMCO [Inter Govermenta/Maritime Consultative Organisation]. Nun jauh di Afrika, yakni di Nairobi, Kenya, berdiri pula Kantor Pusat Pemukiman PBB. Sebuah bangunan megah dengan rancang bangun yang unik berdiri pula di Santiago, Cili, Amerika Latin. Bangunan ini adalah markas Komisi Ekonomi PBB untuk Amerika Latin, sekaligus juga sebagai kantor pusat Institut Amerika Latin untuk Perencanaan Ekonomi dan Sosial.

Tidak jauh dari negara kita, yakni di Bangkok, Thai-land, berdiri pula Kantor Pusat untuk Komisi Ekonomi dan Sosial Asia Pasifik. Sementara itu di negerinya Saddam Hussein, yakni di Baghdad, terdapat pula Kantor Pusat Komisi Ekonomi PBB untuk wilayah Asia Barat.

Di Washington DC, sekitar 3,5 jam naik kereta api ke arah selatan New York, terdapat pula Kantor Dana Moneter Intemasional [IMF], Kantor Koperasi Keuangan Intemasional [IFC], dan Kantor Bank Rekonstruksi dan Pembangunan Internasional [IBRD], lembaga yang sudah tidak asing dan memiliki banyak proyek bantuan di Indo"nesia. Sementara itu Organisasi Penerbangan Sipil Intemasional berpusat pula di Kanada.

Kantor-kantor lembaga yang bernaung dibawah PBB memang tersebar di berbagai pelosok dunia. Itu belum termasuk lembaga-lembaga regional maupun organisasi-organisasi non pemerintah [NGO] yang mempunyai hubungan langsung maupun tidak langsung dengan PBB, seperti Liga Persatuan Arab, Organisasi Persatuan Afrika, Masyarakat Ekonomi Eropa, ASEAN, dan sebagainya. NGO, misalnya ada 390 buah yang selalu memelihara kontak dengan PBB. Termasuk dalam organisasi ini adalah anggota Palang Merah Internasional, Amnesti Internasional, Dewan Perdamaian Dunia, dan sebagainya. Organisasi-organisasi tersebut selalu diikut sertakan oleh PBB dalam memecahkan masalah-masalah internasional, terutama yang menyangkut kemanusiaan dan kesejahteraan dunia. Mereka juga senantiasa diundang untuk menghadiri sidang-sidang yang diselenggarakan PBB.

Jaringan sedemikian besar sudah barang tentu memerlukan tenaga staf dan tenaga-tenaga penunjang yang tidak kecil jumlahnya, dan meliputi berbagai jenis keahlian, serta berasal dari berbagai suku dan bangsa. Secara keseluruhan, sebagai suatu sistim organisasi, mulai dari markas besar di New York sampai ke stasiun yang tersebar ke berbagai benua berupa kantor-kantor lembaga yang berada langsung di bawah PBB [tidak termasuk organisasi-organisasi regional dan NGO], jumlah karyawannya meliputi 52.000 orang. Dari jumlah tersebut 19.000 orang adalah tenaga-tenaga profesional yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi dan mcmiliki pengalaman yang sangat luas dalam bidang keahliannya. Khusus untuk tenaga profesional ini di persyaratan mini"mal menguasai dua bahasa resmi PBB dengan baik.

Markas PBB di New York sendiri menyerap 4.800 orang staf yang berasal dari 160 negara. Mereka-mereka ini tersebut sebagai anggota dari "dinas umum internasional". Jumlah yang besar tersebut belum termasuk anggota delegasi yang merupakan wakil tetap dari setiap negara anggota, yang walaupun sehari-hari mereka bergelut dengan kegiatan-kegiatan PBB, tapi mereka bekerja untuk pemerintah masing-masing. Namun mereka-mereka ini tetap menikmati pelayanan khusus secara resmi [Privilege] dan kekebalan diplomatik di bawah hukum internasional. Anehnya, tidak semua karyawan PBB memiliki status diplomatik. Status diplomatik hanya diberikan kepada sekjen PBB, pimpinan-pimpinan organisasi dalam sistem PBB, dan staf yang sudah sangat senior, keseluruhan mereka tidak lebih dari 100 orang.

***

Sekjen PBB tentulah harus seorang figur dengan kemampuan yang besar dan tidak boleh cepat "bludrek", karena di samping harus akomodatif terhadap konsep apapun, dia harus mampu mengelola sumberdaya manusia canggih yang jumlahnya puluhan ribu itu dan lebih dari itu dia harus menjaga keseimbangan geografis [geographical balance] di antara staf PBB, terutama untuk formasi tenaga-tenaga profesional dan para pengambil keputusan. Sejarah PBB telah mencatat bahwa ketidakseimbangan dalam rekruitmen staf, sebagaimana terjadi pada awal berdirinya PBB, ternyata sangat menggangu dan melukai perasaan negara-negara anggota yang berasal dari dunia ketiga. Bagaimana mangkin PBB, yang katanya ingin memperjuangakn perbaikan kesejahteraan dunia ketiga, tidak mempekerjakan dalam jumlah yang memadai wakil dari dunia ketiga itu sendiri pada tingkat-tingkat tenaga-tenaga profesional dan pengambilan keputusan. Oleh karena itu dewasa ini PBB senantiasa merekrut staf dari berbagai penjuru dunia, dalam quota yang fleksibel untuk mengisi 2600 formasi tenaga profesional yang menjadi inti Sekretariat PBB di New York. Formasi ini diperuntukkan bagi ekonom, administrator, ahli hukum, sosiolog, ahli penerangan [penyuluh], dan sejenisnya. Pengecualian terhadap rekruitmen tenaga-tenaga PBB ini hanya berlaku untuk formasi-formasi sekretaris, juru tulis, interprenter, translator, petugas keamanan, pekerja-pekerja kasar, pembantu-pembantu, dan sejenisnya, yang boleh berasal dari negara setempat. Prinsip keseimbangan ini sama dengan kita disini. Contohnya, perusahaan-perusahaan industri berskala besar, seperti RAPP dan Indah Kiat, mereka berusaha memanfaatkan tenaga setempat untuk formasi jabatan menengah ke bawah, kalau pelaksanaannya belum, itu urusan lain.

Tenaga staf dan penunjang staf tersebut diangkat dan diberhentikan oleh Sekjen PBB. Pengangkatan dan promosi dilakukan melalui ujian yang tampaknya sederhana, hanya menyangkut tiga materi, yakni memiliki kemampuan dan kecakapan yang tinggi pada bidangnya mampu bekerja dengan standar efisiensi yang tinggi dan memiliki integritas. Barangkali Anda orang yang tepat untuk itu, silakan coba.

***

Pendanaan adalah suatu yang tidak luput dari perhatian kami. Sebab sebuah Organisasi yang memiliki jaringan yang besar dengan personalia puluhan ribu serta kesibukan yang luar biasa, tentulah memerlukan dana yang tidak sedikit.

Dalam beberapa tahun yang terakhir ini, untuk keseluruhan organisasi PBB, termasuk beberapa stasiun di mancanegara, dan beberapa program khusus, PBB memerlukan anggaran 7,5 milyar dolar AS pertahun atau sekitar 15 triliun rupiah. Dua pertiga dari dana tersebut berasal dari donatur, sedangkan sisanya menjadi beban anggota. Sejumlah 13 negara tercatat sebagai penyumbang terbesar terhadap anggaran PBB, yaitu, Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Rusia, Prancis, Inggris, Italia, Kanada, Spanyol, Ukraina, Brazil, Australia, dan Belanda. luran masing-masing negara anggota tidak sama besarnya, tergantung kemampuan masing-masing. Tetapi persentasenya diatur oleh Majelis Umum PBB. luran terendah sebesar 0.01 persen dari anggaran PBB. Mereka adalah negar-negara miskin atau negara-negara yang sangat kecil seperti Afganistan, Bangladesh, Bolivia, Kamboja, Kenya, Ethiopia, Sanmarino dan sebagainya. luran terbesar adalah 25 persen dari anggaran dan ini hanya Amerika Serikat. Sedangkan Jepang menyusul di urutan kedua yaitu sebesar 12.45 persen. Indonesia dengan iuran 0.16 persen berada di urutan ke 50 bersama Aljazair, masih berada di atas negara-negara Asean lainnya, juga masih di atas Mesir, negaranya Boutros Boutros Ghali Sekjen PBB sekarang. Markas PBB di New York sendiri menghabiskan dana tidak kurang dari 830 juta dolar per tahunnya atau hampir 2 triliun rupiah. Dengan belanja yang cukup besar ini keberadaan markas besar PBB di New York City mampu menggairahkan perekonomian kota mega metropolitan tersebut apalagi bila dipertimbangkan multiplier efeknya.

***

Sebuah pertanyaan tentu mengusik, untuk apa semua itu sementara nada skeptis masih sering muncul bahwa PBB tidak lebih dari legitimasi terhadap sepak terjang Amerika Serikat Apapun kata penganut paham skeptis, PBB pada kenyataannya telah berbuat banyak untuk perdamaian dunia dan telah banyak berbuat untuk peningkatan kesejahteraan umat manusia melalui proyek-proyeknya di manca negara. Dunia kita ini agaknya memang ditakdirkan tidak pernah sepi dari ketegangan, konflik dan bahkan peperangan yang kadang-kadang tidak kita mengerti maksudnya. Konflik tidak hanya sering melibatkan dua negara, tapi lebih banyak melibatkan banyak pihak yang mengorbankan manusia-manusia yang tidak berdosa. Untuk semua ini kita memerlukan wadah seperti PBB, tempat mendiskusikan semua permasalahan, bahkan kadang-kadang PBB dipedukan kehadirannya di tengah medan pertempuran untuk memelihara gencatan senjata dan seterusnya. Banyak masalah dunia yang cepat selesai, tetapi lebih banyak lagi yang seakan-akan "never ending" dan itu memerlukan tenaga, fikiran, dan dana yang tidak sedikit. Tapi, kedamaian memang selalu mahal.


Tulisan ini sudah di baca 111 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Suara dari Gedung Lancang Kuning

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Suara-dari-Gedung-Lancang-Kuning/40-%22Tapi,-Kedamaian-Memang-Selalu-Mahal%22.html