drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Suara dari Gedung Lancang Kuning | Bagian : 5

Tak Punya Pilihan, New York Tumbuh ke Atas


Oleh : drh.chaidir, MM

Dari segi luas wilayah, New York City tidaklah terlalu luas bila dibandingkan dengan Pekanbaru. Kota megapolitan itu hanya memiliki luas 780 km2, sedikit lebih luas dari Pekanbaru [630 km2]. Tapi, dalam banyak aspek lain, anatominya tentu jauh berbeda.

Dalam segi usia, misalnya, Pekanbaru relatif jauh lebih muda. Cobalah bandingkan dengan New York yang sudah mulai berkembang pada abad ke 17. Dari segi pembangunan pengembangan kota pekanbaru melebar ke samping secara fisik, relatif baru sebagian kecil di pusat kota saja yang sudah terbangun, ke samping masih banyak lahan yang kosong.

Pendudukpun baru sekitar setengah juta. Sementara New York City berpenduduk lebih dari tujuh juta, sehingga tidak ada lagi lahan yang tersisa di kota pulau itu, semua sudah terbangun habis [fully developed].

Namun demikian tuntutan kebutuhan tidak bisa dielakkan untuk mempertahankan perannya yang sangat dominan dalam percaturan internasional, baik dalam urusan pemerintahan maupun dalam urusan komersial. New York City memerlukan ruang [space] yang lebih luas, dan untuk itu nampaknya kota New York tidak mempunyai pilihan lain kecuali tumbuh ke atas. Ke bawah, ke arah perut bumi tentu akan lebih kompleks masalahnya. Pemanfaatan ruang di bawah tanah lebih banyak diperuntukkan bagi jaringan transportasi kereta api angkutan umum.

Oleh sebab itu tidak heran bila kota New York dewasa ini dipenuhi dengan gedung pencakar langit [Skyscrapers}. Proses pembangunan gedung-gedung pencakar langit ini telah mereka mulai semenjak tahun 1929.

Pada tahun ini, kota New York telah berdiri sebuah gedung pencakar langit yang bernama Chrysler Building yang terdiri atas 77 lantai. Tiga tahun kemudian New York membangun sebuah proyek yang spektakuler, gedung pencakar langit lainnya, yaitu Empire State Building. Gedung tertinggi di dunia ini selesai secara komplit tahun 1971. Empire State Building terdiri dari 102 lantai dengan tinggi 381 meter. Setahun kemudian rekor ini dipecahkan oleh dua Gedung Kembar [Twin Tower] yang terdapat di World Trade Center. Gedung kembar ini masing-masing terdiri atas 110 lantai dengan tinggi 411 meter. Dari arah laut atau dari arah Patung Liberty, gedung kembar ini terlihat seakan-akan menjadi gapura bagi pintu masuk ke New York dari arah Samudera Atlantik.

Sampai saat ini Gedung Kembar masih memegang rekor pencakar langit tertinggi di New York. Tetapi sejak tahun 1973 rekor pencakar langit tertinggi di dunia telah diambil alih oleh Sears Tower di Chicago [salah satu dari tiga kota terbesar di Amerika Serikat selain New York City dan Los Angeles]. Sears Tower sebenarnya memiliki jumlah lantai yang sama dengan Twin Tower. Pencakar langit yang lain di New York adalah Chase Manhattan Building [71 lantai], Sixty Wall Tower [66 lantai], Woolworth Building [60 lantai], Lever House, Seagram Building, Panam Building, dan beberapa gedung yang terdapat di kompleks World Trade Center seperti Cus"tom Building, Plaza Building, Glass Tower, dan sebagainya. Hotel-hotel juga banyak yang menjulang tinggi ke angkasa. Tidak akan kita temui, misalnya, hotel dengan taman yang luas seperti Hotel Indonesia, Borobudur, Hilton, atau bahkan seperti Mutiara Merdeka di Pekanbaru yang memiliki halaman yang luas. Ruang parkir mereka tentu ada, yaitu di bawah tanah.

Hampir setiap pagi, puncak gedung-gedung pencakar langit itu tertutup kabut, dan ini merupakan pemandangan yang mengesankan. Di beberapa puncak gedung terdapat penunjuk suhu udara digital yang kalau tidak tertutup kabut dapat kita lihat dengan jelas dari bawah. Biasanya terdapat perbedaan sekitar dua derajat celcius antara penunjuk yang ada di bawah. Yang di atas lebih rendah, berarti lebih dingin.

Ketika kami berada di New York, suhu rata-rata bergerak antara 8-12 deraiat celcius, cukup dingin untuk ukuran kita. Padahal masih musim gugur. Bayangkan kalau musim dingin tiba akhir Desember sampai akhir Maret nanti, di puncak gedung tentu bisa menjadi minus. Oleh sebab itu setiap ruangan selalu dilengkapi dengan sistem pemanas udara.

New York dengan New York City berbeda. New York adalah salah satu negara bagian Amerika Serikat. Dengan jumlah penduduk lebih dari 8 juta jiwa, negara bagian ini sering disebut-sebut "kiblat" para wisatawan, para seniman dan para industriawan dari seluruh dunia.

Negara bagian New York menempati urutan kedua terpadat penduduknya setelah negara bagian California [dari 50 buah negara bagian]. Ibukota New York sendiri bukanlah New York City tapi Albany, yang juga sebuah metropolitan di Utara New York City, tetapi bahwa New York City terdapat di dalam negara bagian New York, itu jelas dan New York City memang menjadi kebanggaan tidak hanya oleh New Yorker [orang-orang New York] tapi juga seluruh warga Amerika.

New York City sendiri terbagi lima sektor [borough], yaitu Bronx, Brooklyn, Manhattan, Queens, dan States Is"lands. Jantung New York City tentulah Manhattan, sebuah pulau kecil dengan luas 57,4 km2 [panjang 21,6 km, lebar 3,7 km] terkecil di antara sektor yang ada.

Manhattan merupakan tempat kedudukan pemerintahan kota New York City, pusat keuangan dan kebudayaan Amerika Serikat, dan merupakan pelabuhan paling ramai dan tersibuk di dunia. Lebih dari lima puluh perusahaan terbesar di dunia menjadikan Manhattan sebagai kantor pusatnya [headquarter]. Dengan demikian maka Manhattan juga menjadi pusat perdagangan dunia, pengendalian pasar dunia dan pusat kegiatan-kegiatan serta berhubungan dengan sektor komersial.

New York City dengan Manhattannya juga terkenal sebagai pusat seni dunia. Tidak kurang dari 200 museum seni dan budaya ada di kota ini, teater-teater di Broadway yang sudah terkenal berpuluh-puluh tahun lalu, demikian juga pusat opera di Lincoln Center, dan sebagainya. Lebih dari itu semua, di Manhattan inilah terdapat markas besar PBB, simbol [Iandmark] New York City, di samping Em"pire State Building dan Patung Liberty.

New York City boleh lebih terbangun, tapi ternyata di antara belantara beton-beton bertulang pencakar langitnya, pemerintahan kota masih teguh mempettahankan perlunya kehadiran taman umum [public park] di dalam kota yang ditumbuhi oleh pohon yang rindang. Sebagian besar di antara pohon-pohon ini daunnya telah berubah warna menjadi merah untuk kemudian gugur karena tidak tahan diterpa udara dingin, tapi nanti akan kembali berdaun segar di musim semi. Di antara taman yang terkenal dan terdapat di tengah kota adalah Central Park. Luasnya sekitar 340 hektar. Anda ingat film Home Alone II Sebagian besar film tersebut syuting di taman ini. Taman-taman lainnya seperti Battery Park, East River Park, Washington Square Park, Union Square, Madison Square, City Hall Park, Bryant Park, dan sebagainya.

Keteguhan pemerintahan kota mempertahankan taman-taman kota ini tentu sangat mengagumkan karena pastilah tidak kecil godaannya. Bukankah dari segi ekonomis akan jauh menguntungkan apabila di lahan pertamanan tersebut dibangun gedung pencakar langit? Komitmen terhadap open space memang memerlukan penghargaan yang tinggi terhadap konsep pembangunan Jperwawasan lingkungan, seperti yang kita anut.

Obyek lain yang sangat menarik adalah Patung Li"berty. Patung ini adalah simbol [landmark] bagi New York City. Ingat New York ingat Patung Liberty, atau sebaliknya. Monumen Patung Liberty ini terdapat di pulau kecil, Pulau Liberty, di depan pantai bagian selatan Manhattan, persis di World Trade Center.

Kita dapat mencapai patung ini melalui ferry sekitar 10 menit. Namun jauh sebelumnya kita sudah harus beli tiket dan antri untuk masuk ke ferry. Maka antrian panjang dengan beberapa saf selalu terjadi di pelabuhan penyeberangan ke Liberty.

Tetapi anda tidak usah khawatir bosan menunggu. Ada aja "sukarelawan" negro yang mengatur barisan kita. Dengan berteriak-teriak dia mengatur barisan. Tadinya kami kira orang mabuk, tapi kemudian sadarlah kami bahwa mereka adalah orang-orang yang memanfaatkan peluang, kendati barangkali dengan terpaksa. "Kami ingin menghibur anda semua," katanya, dan dua orang pemuda negro itu memulai pertunjukan akrobatnya dengan gembira dan ceria. Kadang-kadang dengan gerakan-gerakan yang membahayakan dirinya karena mereka melakukan itu di atas beton pelabuhan tanpa pengaman sama sekali. Kadang-kadang mereka membadut dan mengundang tawa. Tapi jelas mereka cekatan dan terlatih. Lima belas menit "pertunjukan" selesai diiringi tepuk tangan penonton tak diundang itu. Setelah selesai, pemuda negro itu mulai menadahkan topinya minta sumbangan sukarela. Kami taksir tidak kurang dari 50 dolar dia peroleh pada kesempatan itu.

Ferry pun sudah menunggu dan kemudian membawa kami ke patung Liberty, sebuah simbol suluh penerang bagi kebebasan dan kesamaan hak di New York. Patung dengan tinggi lebih dari 40 meter itu memang menggambarkan seseorang yang membawa suluh menghadap ke Samudera Atlantik. Di patung itu terdapat potongan puisi penyair Emma Lazarus (1980) yang merasa tergetar batinnya melihat pengungsi imigran yang miskin, menderita, dan berjubel di pantai, setelah berbulan-bulan berlayar di Eropa.

Give me your tired, your poor, your huddled masses yearning to breathe free [Beri aku keletihanmu, kemiskinanmu, beri aku massamu yang berjubel yang mendambakan kebebasan]. Amerika Serikat dari dulu tampaknya memang selalu membuka pintu bagi siapa saja. Tapi kalau sampai di sana, Anda kemudian mati karena tidak mampu bersaing, itu salah Anda sendiri. Pemahaman kita tentang martabat kemanusiaan agaknya memang berbeda.


Tulisan ini sudah di baca 222 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Suara dari Gedung Lancang Kuning

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Suara-dari-Gedung-Lancang-Kuning/39-Tak-Punya-Pilihan,-New-York-Tumbuh-ke-Atas.html