drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Suara dari Gedung Lancang Kuning | Bagian : 5

Catatan Perjalanan ke New York Meninjau "Bengkel" Perdamaian


Oleh : drh.chaidir, MM

KETIKA kami pamitan [sekaligus minta "sangu"] kepada Sekwilda Tingkat I Riau, Drs. Rustam S. Abrus, dengan gayanya yang khas Pak Rustam bercanda, "Kalau Kalian ke New York, jangan mampir ke jalan 42, atau tidak akan saya beri sangu." Namun, ternyata hal itu tidak terhindarkan. Kata orang, Anda belum sampai ke New York bila belum ke Manhattan, dan Anda belum ke Mahattan bila tidak mampir ke jalan 42. Nah! Rupanya sederhana, di Jalan 42 itu berlaku moto, "semua ada apapun bisa". Lebih dari itu, Jalan 42 ini, adalah jalan yang memotong Mahattan dari Barat ke Timur, mulai dari Sungai Hudson [Huaso River] sampai ke Sungai Timur [East River], dan ujung paling timur Jalan 42 ini, persis di pinggir Sungai Timur, berdiri dengan megahnya komplek bangunan Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa [PBB] atau The United Nation Head Quarter.

New York boleh memililki Empire State Building, gedung tertinggi di dunia, atau Patung Liberty yang terkenal itu, tapi andaikan markas besar PBB itu bukan di New York, tapi di Pekanbaru misalnya, maka ceritanya akan lain. Opini bahwa New York itu adalah kota PBB, sudah terbentuk sejak berpuluh tahun lalu. Guru saya waktu di SD bahkan pernah bilang, bahwa kalau Washington DC adalah ibukota Amerika Serikat, maka New York adalah ibukota dunia. Maaak! New York nampaknya kota milik semua, boleh jadi mirip Pekanbaru yang memiliki motto "Kotaku, kotamu, kota kita". Hanya saja, apakah New York itu Bertuah seperri Pekanbaru, Wallahualam. Yang pasti, New York belum pernah memenangkan Adipura.

Markas besar PBB memang cukup atraktif, oleh karena itu jadi objek wisata dan menjadi suatu landmark di New York, di samping Empire State Building dan Patung Liberty. Setiap hari, ribuan pengunjung dari macanegara datang ke sini untuk sekedar melihat-lihat, membeli sou"venir, membeli buku-buku, jurnal PBB, melihat pameran, atau hanya sekedar "mejeng", sekaligus membuat foto-foto kenangan. Oleh karenanya, kendati petugas-petugas keamanan gedung PBB ini besar-besar dan serem-serem, dan setiap kali memeriksa dengan teliti seluruh pengunjung yang masuk gedung, toh pengunjung tidak ambil pusing. Gedung PBB tidak hanya diramaikan oleh manusia dengan berbagai macam warna kulit, tapi juga meriah dengan bendera dari 184 negara anggota yang berwarna-warni dan berkibar mcrdeka dcngan gagah perkasa.

Balai sidang tempat Sidang Umum [General Assem"bly} cukup besar dan megah. Konstruksinya berbentuk kubah [doome] dan mampu menampung sekitar 3.000 or"ang. Di ruang sidang ini, pagi itu, 27 Oktober 1994 pukul 10.00 waktu setempat [berbeda 12 jam dengan waktu Indonesia Barat], Wakil Tetap Indonesia untuk PBB, Bapak Nugroho Wisnumurti, menyampaikan pidatonya. Pak Nugroho Wisnuri pagi itu berpidato sekaligus mewakili Ketua Gerakan Nonblok. Utusan resmi masing-masing negara di PBB bukan disebut Duta Besar [Ambassador], tapi disebut Wakil Tetap [Permanent Representative]. Perutusan kita untuk PBB dengan demikian disebut Permanent Mission of The Republic Indonesia to The United Nation, jadi bukan Kedutaan Besar Republik Indonesia [KBRI]. Kita memiliki KBRI untuk Amerika Serikat dan ini berkedudukan di Washington DC, dengan Duta Besarnya Bapak Dr. Arifin Siregar [mantan Menteri Perdagangan Republik Indonesia, kebetulan juga Mantan Calon Anggota DPR RI dari Riau].

Pagi itu, dalam cuaca yang cukup dingin untuk ukuran kita, yaitu 10 derajat celcius, kami berada di antara 17 orang delegasi KNPI, jalan kaki saja dari PTRI ke Markas Besar PBB. Jarak PTRI ke Balai Sidang PBB hanya tiga blok, atau hanya sekitar tujuh menit. Setelah melalui pemeriksaan yang sangat teliti di pintu masuk, kami pun duduk di ruang sidang yang megah itu untuk mengikuti secara langsung jalannya Sidang Umum PBB, yang sebelum ini hanya pernah didengar melalui berita. Bagi seorang yang kosmopolit, peristiwa ini barangkali merupakan suatu kejadian yang biasa, tapi tidak bagi kami berdua, yang kebetulan berasal dari pelosok Riau, yang bahkan untuk peta Riau sendiri tidak tercantum nama kampungnya, karena terlalu kecil [bukan karena kampung tersebut telah hanyut sebagaimana gurauan sementara kawan]. Dalam skala apa pun, ini sebuah sejarah.

Atas nama Pemerintah Republik Indonesia dan atas nama Ketua Gerakan Nonblok, Pak Nugroho Wisnumurri menyampaikan pidatonya dalam bahasa Inggris lebih kurang 30 menit. Dari tempat duduk kami yang jauh di belakang, maklum hanya sebagai peninjau, kami bisa menangkap dengan jelas pidato Pak Nugroho melalui sound system yang tertata dengan baik. Namun, bila ingin lebih jelas, kita bisa menggunakan perangkat earphones yang ada di setiap kursi, dan dapat distel dalam enam bahasa resmi PBB, yaitu bahasa Arab, bahasa Cina, Inggris, Perancis, Rusia, dan Sponyol. Tinggal pilih bahasa mana yang kita kuasai dengan baik, karena pidato yang disampaikan oleh seseorang di podium langsung diterjemahkan ke dalam enam bahasa tersebut. Kita tentu tidak perlu berkecil hati kenapa bahasa Indonesia yang dipergunakan oleh hampir 200 juta manusia belum menjadi resmi PBB. Mungkin untuk beberapa dekade mendatang akan menjadi bahasa resmi mengingat semakin meluasnya penyebaran bahasa Indonesia seperti di Australia, Filipina, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura. Dari catatan yang ada, dewasa ini tercatat sekitar 150 macam bahasa utama di antara 184 negara anggota PBB. Namun, bahasa resmi PBB itu memang menonjol.

Pak Nugroho, tampil ke podium setelah Wakil Tetap malta dan Iran meyampaikan pidato yang merupakan pandangan umum terhadap tugas-tugas organisasi (PBB) yang telah disampaikan beberapa hari sebelumnya. Indo"nesia dan GNB, menurut Pak Nugroho, mendukung sikap Sekjen yang telah secara benar memfokuskan perhatian pada permasalahan-permasalahan ekonomi dan sosial. Konflik yang timbul di banyak tempat di planet bumi ini lebih banyak berawal dari masalah -masalah ekonomi dan perdamaian.
Untuk menyelesaikan semua konflik adalah dengan persuasi dan konsultasi, serta memperbanyak dialog, bukan justru dengan konfrontasi yang pada gilirannya akan menyebabkan destruksi. Percaturan internasional yang selama ini lebih banyak diwarnai dengan nuansa politis hams diubah dan hams lebih banyak diisi dengan nuansa kerjasama ekonomi dan pembangunan.

Agaknya, memang dengan cara-cara seperti itu, PBB yang disebut sebagai Bengkel Perdamaian Dunia [Work"shop for Peace] bisa memainkan perannya secara optimal dalam menyelami akar permasalahan setiap konflik di masa mendatang, karena berbedanya anatomi konflik itu sendiri. Perang fisik telah mulai berganti dengan perang ekonomi, perang dagang, perang kebudayaan. Imperialisme berubah bentuk menjadi konglomerasi, kolonialisme mendapat legitimasi dengan globalisasi teknologi dan investasi, dan sebagainya.

Bagaimanapun, riwayat panjang tentang perdamaian dunia, memang ridak bisa dipungkiri, berawal dari markas besar PBB, yang terletak di ujung jalan 42 ini. Banyak contoh yang pantas dicatat bagaimana PBB telah memainkan peranannya yang sangat besar dan mengakhiri perang atau krisis yang sangat berbahaya bagi umat manusia. Sebudah contoh bagaimana PBB mengakhiri perang di Kongo tahun 1964, mengakhiri perang di Iran dan Irak tahun 1988, menarik keluar pasukan Soviet dari Afghani"stan [1989], mengakhiri konflik di El savador [1992], atau bagaimana PBB mengakhiri krisis di Berlin [1948-1949], suasana yang sangat gawat terhadap ancaman peluru kendali Kuba [1962], krisis Timur Tengah [1973], dan sebagainya.

Mekanisme yang telah sangat baik dalam menciptakan perdamaian dunia itu dirasakan semakin baik dengan semakin kondusifhya kerjasama dan keamanan politik di antara sesama anggota PBB setelah berakhknya perang dingin. Semangat baru itu telah mengilhami pula disetujuinya kerangka perdamaian di Kamboja oleh Lima Anggota Tetap Dewan Keamanan PBB [Cina, Perancis, Soviet, Inggris, dan Amerika Serikat] pada tahun 1990 sesuatu yang sangat sulit sebelumnya karena selalu saja salah satu anggota menggunakan hak vetonya. Tahun 1992, PBB juga secara bulat menyetujui larangan terhadap penggunaan senjata kimia dan perlunya konferensi internasional untuk menciptakan perdamaian di Somalia. Riwayat panjang tentang perdamaian inilah yang menyebabkan orang menyebut Markas Besar PBB di New York itu sebagai "Bengkel Perdamaian Dunia".


Catalan: Tulisan ini dan dua tulisan berikutnya merupakan catatan perjalanan Drh. Chaidir, sewaktu diundang sebagai peninjau pada Sidang Umum PBB, mewakili KNPI, bersaama lr. H. Nasrun Effendi, pada 24 Oktober hingga 2 November 1994.


Tulisan ini sudah di baca 141 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Suara dari Gedung Lancang Kuning

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Suara-dari-Gedung-Lancang-Kuning/38-Catatan-Perjalanan-ke-New-York-Meninjau-%22Bengkel%22-Perdamaian.html