drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Suara dari Gedung Lancang Kuning | Bagian : 5

Menyongsong Pilihan Raya Malaysia Fenomena Mahathir


Oleh : drh.chaidir, MM

Malaysia kembali menggelar Pilihan Raya (Pemilu), dan ini yang kesembilan kalinya diadakan sejak Malaysia merdeka tahun 1957. Para pengamat menilai, Pilihan Raya kali ini kurang menggema, bahkan dirasakan kalah seru dibandingkan dengan pertandingan antara Ghafar Baba dan Anwar Ibrahim dalam memperebutkan Wakil Ketua UMNO tahun 1993 lalu, yang dimenangkan oleh tokoh Anwar Ibrahim. Penilaian ini barangkali karena masa kampanye Pilihan Raya ini hanya satu minggu, atau boleh jadi karena hasil akhir Pilihan Raya ini sudah bisa diterka.

Menurut pengamat, Pilihan Raya kali ini memang merupakan Pillihan Raya yang relatif enteng bagi Barisan Nasional [BN] dan UMNO, walaupun sempat terjadi kejutan ketika Presiden UMNO yang juga Perdana Menteri Malaysia, Dr. Mahathir memecat 34 anggota UMNO yang dianggap tidak loyal kepada partai. Kejutan kedua adalah memanasnya suhu politik di Penang, yang berawal dari kampanye proaktif Sekjen Partai Aksi Demokratik [DAP], Lim Kit Siang. Dr. Mahathir dan Lim kemudian terlibat saling tuding dan saling ancam, yang satu akan menyeret yang lain ke pengadilan. Itu dinamika. Namun kerikil-kerikil itu diramal tidak akan mampu membendung BN untuk kembali menang dengan mayoritas.

Banyak faktor yang menyebabkan kokohnya BN. Utamanya adalah kemajuan pesat yang terakhir diperoleh Malaysia dalam dekade terakhir ini. Dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata 8 persen per tahun, Malaysia disebut oleh pengamat politik sebagai anak macan ekonomi Asia yang tumbuh besar dengan cepat, sehingga telah bersiap-siap menjadi macan Asia sebagaimana layaknya Korea Selatan, Taiwan, Hongkong dan Singapura.

Kiprah Mahathir sebagai pemimpin UMNO dan Pimpinan Koalisasi BN dan sekaligus pimpinan pemerintahan yang berhasil mengangkat harkat dan martabat puak Melayu Malaysia untuk berdiri sama tinggj duduk sama rendah dengan etnik Cina dan India dan bahkan mampu mengangkat gengsi Malaysia di mata internasional, menyebabkan beberapa isu politik yang biasanya sering diangkat oleh partai oposisi, tidak lagi aktual. Sebudah misalnya keterbelakangan etnik Melayu, ketidak-mampuan etnik Melayu bersaing dengan masyarakat berbilang kaum, isu pertambahan kaum, isu kepemimpinan UMNO di bawah Mahathir yang dinilai sekuler, dan sebagainya, semuanya sekarang menjadi kuno. Dengan kondisi yang demikian, maka The Ruling Party [Partai Pemerintah] diramalkan kembali menang mayoritas dengan mudah.

"Pertempuran" kecil barangkali akan terjadi di Negeri Bagian Kelantan, di mana dalam Pilihan Raya sebelumnya "kalah keruk". Kekalahan UMNO waktu itu agaknya situasional. Dalarn pemilihan Presiden UMNO di Kelantan beberapa waktu sebelumnya, Tengku Razaleigh Hamzah yang mencoba menantang Dr. Mahathir, kalah dalam pertarungan. Kekalahan tersebut mengecewakan Tengku Razaleigh dan orang-orang sekampungnya di Kelantan. PAS menangkap peluang ini dan dengan mengekspioitasi isu agama yang sempit, meraih kemenangan mencolok di kampung halaman Tengku Razaleigh itu. Tapi akibatnya, dalam lima tahun terakhir, Negeri Kelantan relatif tertinggal pembangunannya. Baru-baru ini Dr Mahatir telah datang ke Kelantan, menjanjikan pembangunan bagi negeri ini bila mereka memilih UMNO. Bahkan dalam masa kampanye ini, BN [bersama UMNO] mengeluarkan manifesto untuk mengalokasikan dana sejumlah satu miliar ringgit atau sekitar Rp. 800 miliar bagi pembangunan proyek di Kelantan bila BN menang. Gaya rayuan Mahathir memang khas, sederhana tapi lugas. Bagaimana hasilnya? Besok sore barangkali kita sudah mendengar.

Pilihan Raya dan Mahathir adalah ibarat aquarium dengan ikannya. Mahathir adalah ikannya yang lincah, yang tidak pernah membiarkan ikan lain tertidur sehingga membuaat aquarium penuh pesona. Dalam sejarah Pilihan Raya selama Malaysia merdeka, Dr. Mahathir selalu menjadi ujung tombak UMNO. Dr. Mahathir sering muncul dengan gagasan-gagasan yang onsinil. Karena sikapnya ini, Dr. Mahathir sering disebut tokoh kontroversial. Lee Kwan Yew, bahkan pernah menuduh Dr. Mahathk sebagai ultra Melayu karena komitmen keMelayuannya yang sangat kental, namun kemudian Lee Kwan Yew menyadari bahwa Dr. Mahathir sebenarnya adalah orang nasionalis tulen dan mereka memiliki banyak kesamaan dalam visi, terutama pendekatan social engineering dan pembangunan ekonomi di negeri masing-masing. Gagasan Mahatir untuk membuat Melayu tcrpandang, bukan berarti mengorbankan etnik lain. Ini yang kadang-kadang salah diartikan oleh pihak lain.

Agaknya, latarbelakang pendidikan Dr. Mahathir ikut mempengaruhi corak kepemimpinannya. Berbeda dengan tiga orang Perdana Menteri sebelumnya, yang kesemuanya adalah lulusan Inggris, maka Dr. Mahatir adalah lulusan Fakultas Kedokteran di Penang, dia sangat populer sebagai dokter yang budiman, ringan langkah dan suka memberikan pertolongan.

Dr. Mahathir tidak sungkan-sungkan menunjukkan sikap keberpihakannya kepada kaum Melayu. "Suku India bisa pulang ke kampungnya, suku Cina juga bisa pulang ke kampungnya, tapi suku Melayu mau pulang ke mana?" katanya dalam beberapa kesempatan. Dr mahathir memang selalu menyampaikan pemikiran-pemikirannya dalam bahasa yang sederhana kendati isunya rumit. Oleh karena itu kalau kita dengar pidatonya dalam bahasa melayu, bahasanya selalu bahasa rakyat biasa jarang sekali dengan bahasa tinggi yang penuh metafora. Zainudin Maidin, pengarang buku The Other Side of Mahathir, menyebut Mahathir adalah perdana menteri terbaik dari empat or"ang perdana menteri Malaysia. Wartawan senior dan kawan dekat Dr. Mahathir itu tentu sah-sah saja memberikan penilaian demikian.

Barangkah, karena merasa sukses dan mendapatkan dukungan yang besar, Dr.. Mahathir masih ingin bertahan saampai tahun 2000 dan belum akan memberikan jalan bagi wakilnya Anwar Ibrahim. Apakah Anwar Ibrahim cukup sabar. Perhimpunan Agung UMNO tahun depan yang akan menentukannya.

Ada beberapa masalah potensial yang senantiasa harus dihadapi oleh Dr. Mahathir dan UMNO. Yang pertama persaingan di elit partai yang setiap saat bisa muncul ke permukaan dan yang kedua adalah sikap Barat. Secara teoritis, kemenangan moyoritas UMNO dalam Pilihan Raya 1995 ini belum merupakan jaminan bagi kelanggengan posisinya sebagai Perdana Menteri. Tradisi demokrasi parlementer yang berkembang di Malaysia, menuntut dia harus mendapatkan mandat baru dari partainya, UMNO, dalam Perhimpunan Agung UMNO [semacam musyawarah UMNO] tahun depan. Sementara di sudut lain, ada beberapa tokoh yang mengincar Presiden Partai itu, karena dengan menjadi presiden partai otomatis akan menjadi Perdana Menteri Malaysia. Di Malaysia sah-sah saja bila seorang naib presiden partai menantang presiden partai, yang penting adalah dukungan. Tengku Razaleigh berduet dengan Musa Hitam pernah menantang duet Dr. Mahathir dan Ghafar Baba. Yang disebut pertama kalah, mereka terlempar dari UMNO.

Dewasa ini, ada beberapa tokoh yang memiliki peluang bertanding dengan Dr. Mahathir untuk memperebutkanPresiden UMNO, yang paling besar peluangnya adalah Anwar Ibrahim, Wakil Presiden UMNO dan Wakil Perdana Menteri sekarang. Dukungan bagi Anwar Ibrahim, tokoh muda mantan Presiden Angkatan Belia Islam Malaysia [ABIM], tidak boleh diabatktm. Anwar telah membuktikan ketika ia menggulingkan Ghafar Baba sebagai Wakil Presiden UMNO tahun 1993 lalu. Waktu itu Dr. Mahathir sempat was-was akan peluang Ibrahim, karena Ghafar Baba adalah tokoh senior partai yang memiliki dukungan cukup solid. Konsekuensi yang dihadapi Anwar memang berat. Apabila dia kalah, maka dia harus hengkang dan melepaskan jabatannya di UMNO. Dr. Mahathir sekali lagi memperlihatkan keanehannya. Selaku Presiden UMNO, dia sebenarnya memiliki hak proregatif untuk menentukan siapa wakilnya. Ini tradisi UMNO sebagai bentuk manifestasi dukungan yang penuh terhadap Presiden Partai. Tapi Dr. Mahathir tidak menggunakan haknya. Dia membiarkan Ghafar Baba dan Anwar Ibrahim bertanding, kendati hatinya berpihak pada Anwar Ibrahim.

Bagaimanapun Anwar Ibrahim tetaplah seorang pemuda yang tidak mau disuruh bersabar menunggu diberi "laluan" oleh seniornya. Peluang harus direbut sebagaimana yang diperlihatkannya terhadap Ghafar Baba. Dan tahun 2000, agaknya terlalu lama bagi Anwar Ibrahim dan dia barangkali tidak akan cukup bersabar.

Ada beberapa tokoh lain yaang memiliki potensi dan mengintip posisi Presiden UMNO, sebut saja Tengku Razeigh, Musa Hitam , Ghafar Baba sendiri, dan jangan lupa konglomerat Melayu Daim Zainuddin dan tokoh tua Abdullah Badawi.

Barat memang merasa kurang nyaman dengan kepemimpinan Dr. Mahathir. Penyebabnya jelas, karena Mahathir selalu menggugat sikap Barat yang tidak fair terhadap dunia Selatan. Barat dianggap ingin selalu menang sendiri dan selalu benar sendiri. Secara kebetulan pula, Barat beberapa kali "berurusan" dengan Dr. Mahathir, yang menonjol misalnya adalah kastis Bcndungan PagaŤ, yang pembangunannya mendapatkan bantuan dari Inggris. Koran Inggris menuduh Dr. Mahathir menerima suap sebanyak 50.000 USD. Kasus ini segera meledak menjadi krisis. Tapi yang tertimpa bukannya Dr. Mahathir, yang kena getahnya adalah Inggeris sendiri. Propaganda media massa Inggris yang ingin menyingkirkan Dr. Mahathir, justru menjadi senjata makan tuan, khususnya ketika Dr. Mahathir membatalkan semua kontrak dengan Inggeris sehingga menyebabkan perusahaan Inggeris mengalami kerugian jutaan poundsterling dan 25.000 rakyat Inggris kehilangan pekerjaan. Masyarakat Inggris akhirnya minta maaf terhadap ulah media massanya. Perusahaan raksasa Inggris membuat iklan satu halaman penuh di seluruh koran Inggris pada tanggal 27 Februari 1994.

"We are praud to work in Malaysia" [kami bangga bekerja di Malaysia], kata mereka. Komentar Dr. Mahathir ringan saja. "Mengapa perusahaan-perusahaan Inggeris itu memperoleh uang dari Malaysia, jika akibatnya kami yang menanggung. Jika kami mau dicaci maki, sekurang-kurangnya kami tidak perlu mambayar untuk itu". lya, memang.

Kasus digantungnya Kazin Barlow dan Brian Chambers, warga negara Australia pengedar dadah [candu] menyebabkan koor Barat secara beramai-ramai menjelek-jelekkan Malaysia, demikian juga ketika diusirnya dua wartawan Asean Wall Street Journal. Kampanye Asean Wall Street Journal di Amerika agar investor Amerika tidak masuk ke Malaysia, juga menjadi senjata makan tuan, ketika Amerika akhirnya menyadari bahwa mereka sudah ketinggalan dari jepang dalam investasi di Malaysia.

Biarlah anjing menggonggong, begitulah kira-kira. Dr. Mahathir maju terus dengan wawasan 2020 nya membawa Malaysia ke depan menuju negeri yang maju dan modern. Pilihan Raya sebagai alat dan tidak boleh membuat sendi-sendi persatuan bangsa terpecah belah. Ini agaknya hal yang perlu diwaspadai oleh dr Mahathir dan UMNO. Sebab tradisi yang kurang nyaman rasanya apabila pihak yang kalah cenderung mendinkan partai baru. Demokrasi, kata Dr. Mahathir, memang harus berada di tangan orang yang tepat


Tulisan ini sudah di baca 187 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Suara dari Gedung Lancang Kuning

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Suara-dari-Gedung-Lancang-Kuning/35-Menyongsong-Pilihan-Raya-Malaysia-Fenomena-Mahathir.html