drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Suara dari Gedung Lancang Kuning | Bagian : 4

Mencari Format Partisipasi gerakan Mahasiswa


Oleh : drh.chaidir, MM

Pada suatu kesempatan, tahun 1938, di Institut Tekhnologi California, Albert Einstein, berujar kepada mahasiswanya: "Rekan-rekan yang muda belia, saya merasa sangat bahagia melihat Anda semua di hadapan saya, sekumpulan orang muda yang sedang mekar yang telah memilih bidang keilmuan sebagai profesi". Einstein menutup pidato singkatnya dengan sebuah gugatan, "Mengapa ilmu yang sangat indah ini, yang menghemat kerja dan membikin hidup lebih mudah, hanya membawa kebahagiaan yang sedikit kepada kita, jawaban yang sederhana adalah karena kita belum lagi belajar bagaimana menggunakannya secara wajar".

Gugatan Einstein tersebut rasanya masih sangat relevan kita kedepankan sekarang. Apakah benar kita telah belajar dengan sungguh-sungguh menggunakan ilmu pengetahuan itu secara wajar. Adalah kenyataan, sebagaimana dikemukakan oleh banyak orang, negeri ini adalah negeri yang kaya akan sumber daya alam; minyak, hutan, lahan perkebunan, ikan, gas alam cair, batu bara dan terakhir gambut. Tetapi sumber daya alam itu belum mampu diolah dengan penuh kearifan oleh anak-anak daerah.

Betul, ada teori trickle down effect, bahwa kehadiran proyek-proyek dan pabrik-pabrik raksasa yang mengandalkan ilmu pengetahuan dan tehnologi itu, secara tidak langsung akan menggerakkan perekonomian rakyat setempat dan menyebabkan tumbuhnya sektor informal. Contoh sudah cukup; Kerinci, Perawang, Ujung Batu, Tanjung Batu, Duri, Batam, Tanjung Balai Karimun dan sebagainya. Mau contoh yang terkena "post mining syn"drome" juga ada, yakni Dabo Singkep pasca 100 tahun tambang timah.

Namun, siapa pun yang arif akan cukup memaklumi bahwa masyarakat tempatan sebenarnya hanya memperoleh sebagian spill over. Dan di banyak tempat bahkan terjadi proses marginalisasi ketika rakyat desa kehilangan lahannya [landless] karena tergoda bujuk rayu. Program-program kemitraan yang secara normatif sebenarnya cukup bagus, seperti pola Perkebunan Inti Rakyat, Tambak Inti Rakyat, bapak angkat, dan sebagainya, tapi program itu seringkali menjadi tidak jelas dalam implementasinya, bahkan adakalanya semu atau fiktif. Konsep yang bagus tidak diterjemahkan secara wajar.

Untuk membebaskan rakyat dari belenggu kemiskinan, muncul paradigma bam, yakni pemberdayaan [empowering] masyarakat. Konsepnya, masyarakat itu perlu dibantu agar memiliki kemampuan untuk menolong dirinya sendiri. Paradigma ini berdiri pada satu pemikiran bahwa pembangunan afcan berjalan dengan sendirinya apabila masyarakat diberi hak untuk mengelola sumber daya alam yang mereka miliki dan menggunakannya untuk pembangunan masyarakatnya. Sekali lagi, ini konsep bagus, yang menjadi masalah adalah pendekatan struktural yang digunakan dalam menggerakkan potensi lokal seringkali formal dan project oriented, bukan program oriented, sehingga kehilangan substansi. Di belahan bumi lain, Lembaga Swadaya Masyarakat [LSM] merupakan alternatif, tetapi disini agaknya berbeda.

Saya melihat, justru ketika institusi-institusi formal kurang mampu memberikan respon, kurang berani melakukan improvisasi dan selalu menempatkan rakyat sebagai obyek, gerakan mahasiswa memiliki cukup peluang untuk berpartisipasi sebagai motivator dan inovator di tengah masyarakat. Tulisan ini memiliki tiga tujuan, pertama, merupakan tinjauan tentang gerakan mahasiswa, kedua, tinjauan mengenai masa transisi dimana mahasiswa itu berada, dan ketiga, mencari format yang akomodadf bagi peran gerakan mahasiswa sebagai kelas intelektual.

Gerakan Mahasiswa
Secara umum, gerakan mahasiswa dianggap identik dengan gerakan politik. Anggapan ini tentu bukan tidak beralasan. Sejarah telah mencatat, gerakan mahasiswa In"donesia memang menonjol dengan gerakan politik. Bahkan gerakan politik mahasiswa Indonesia pada tahun 1966 telah berhasil membuat sejarah dan para aktivis mahasiswa yang terlibat dalam gerakan tersebtit mciiiperoleh scbutan Angkatan 66.

Tahun 1974 dalam dimensi yang lain mahasiswa kembali turun ke jalan yang terkenal dengan gerakan Malari. Dan tahun 1978 kampus-kampus perguruan tinggi, umumnya di Pulau Jawa, kembali mengelar unjuk rasa. Sesuatu yang di pandang sebagai akar dari gerakan politik mahasiswa, adalah sejumlah faktor yang erat kaitannya dengan situasi sosial ekonomi yang memprihatinkan, ketidakadilan sosial-politik, kebijaksanan pemerintahan yang dianggap tidak adil, ketidakpuasan terhadap penguasa, kehidupan yang dianggap kurang demokratis, terakhir hak Asasi manusia dan keterbukaan [fairness]. Pada umumnya gerakan politik mahasiswa pecah, apabila ketidakpuasan mahasiswa terjalin dalam suatu sinkronisasi dengan keresahan masyarakat.

Gerakan politik mahasiwa ini sifatnya universal, tidak hanya terjadi di Indonesia. Dalam berbagai tulisan tentang gerakan politik mahasiswa di negara maju, dapat disimak bahwa gerakan mahasiwa di berbagai penjuru dunk seperti Amerika Serikat, Kanada, Francis, Italia, Jerman,Yunani dan bahkan jepang dalam dekade 1960-an sangat menonjol sebagai gerakan politik. Pengaruh dari gerakan mahasiswa ini amat terasa di negara tersebut. Skala, intensitas dan kekerasan begitu mengesankan, sehingga penguasa dan pemerintah terpengaruh sehingga memperhatikan tuntunan mereka.

Hakikat dari gerakan politik mahasiswa kepada umumnya adalah untuk perubahan. la tumbuh karena adanya dorongan untuk mengubah kondisi kehidupan yang ada untuk di gantikan dengan situasi yang di anggap lebih memenuhi nilai-nilai harapan. Dorongan yang kuat itu muncul sebagai tanggung jawab moral mahasiswa [moral force] sebagai salah satu kelompok strategis yang memiliki kedudukan dan hak yang sama dengan kelompok-kelompok strategis yang lainnya dalam masyarakat.

Namun demikian, sejarah gerakan mahasiswa kita mencatat munculnya konsepsi yang memandang mahasiswa sebagai kelompok masyarakat yang berada dalam masa transisi. Mahasiswa sebagai kelompok masyarakat yang sedang mempersiapkan diri untuk memasuki kehidupan masyarakat secara penuh. Dengan demikian, tugas pokok yang menjadi kewajiban mereka adalah belajar, sedangkan hak mahasiwa disesuaikan dengan tugas tersebut. Sebagai golongan yang memiliki hak dan kewajiban seperti itu, mahasiswa dianggap tidak mempunyai hak untuk mengembangkan diri menjadi kekuatan politik, apalagi mau mendirikan partai politik. Kalau mau berpolitik juga, maka hams berada di luar kampus dan secara individual.

Konsepsi seperti itu telah menjadi landasan kebijaksanan kemahasiswaan sejak tahun 1978, dan mulai akhir dekade 80-an dinilai kembali karena dikhawatkkan dampaknya kurang menguntungkan terhadap kehidupan kampus secara keseluruhan dan terhadap kehidupan mahasiswa sebagai calon pemimpin di masa depan.

Masa Transisi
Dewasa ini dunia sedang berada dalam masa transisi, keadaan berubah dengan cepat. Para pakar menggambarkannya dalam revolusi 3-T [Telekomonikasi. Transportasi dan Turisme]. Revolusi "3-T" ini ditandai dengan agenda perang ekonomi global. Politik tidak lagi menjadi pemeran utama. Ekonomilah kini yang menjadi tuan. Kalaupun masih mau disebut berpolitik, maka kuasailah politik ekonomi. Di zaman perang dingin Timur-Barat dulu, tidak ada yang menyangka negara komonis Rusia akan menerapkan ekonomi pasar bebas, demikian juga Cina dan Vietnam. Tetapi sekarang semua itu menjadi kenyataan. "An open market policy" sudah tidak dihindarkan oleh negara manapun di atas dunia ini. Akibatnya, karena semua negara menganut kebijaksanaan ekonomi terbuka, maka persaingan itu mengandung resiko kalah, maka muncullah gagasan untuk berkelompok-kelompok. Kalau menang, nikmati bersama, kalau kalah tidak sendirian. Maka lahirlah blok-blok perdagangan PEC, AFTA, NAFTA, European Commu"nity dan sebagainya.

Hazel Henderson [1997] dalam bukunya Building Win-Win World, antara lain memberikan beberapa resep bagaimana mengakselerasi masa transisi dunia yang sedang terjadi dewasa ini. Dunia sedang menghadapi masalah perang global, persaingan yang sangat tajam, perusakan lingkungan hidup, polusi, kebudayaan yang membingungkan, pemerintah yang tidak menentu, media informasi yang kacau, elit ilmuan yang arogan, ekonomi yang tidak stabil, industrialisasi, dan anarki. Menghadapi kondisi ini Henderson menawarkan serangkaian kiat, man membangun "Win-Win World", mengembangkan SDM, membuat perjanjian-perjanjian kerjasama, merumuskan kembali kriteria sukses, membuat indikator-indikator baru, merumuskan kembali tujuan bersama, demokrasi, teknologi yang menyelamatkan lingkungan, dan civil society.

Tidak seluruh resep Henderson mutlak bagus bagi kita, tetapi untuk dapat memainkan peran secara optimal, kita harus mampu mencermati perubahan yang terjadi di lingkungan di mana sekarang kita berada. Masalahnyaa kita semua merupakan bagian dari masyarakat dunia yang sedang mengalami masa transisi itu.

Format Peran Mahasiswa
Sebagai calon pemimpin bangsa di masa depan dan sebagai kelas intelektud yang sudah memiliki standar keilmuan, benarkah kita tdah merespon masalah yang terjadi di sekitar kita secara wajar, sebagaimana gugatan Einsten?. Apakah unjuk rasa sudah dapat dianggap bahwa mahasiswa sudah merespon permasalahn yang menjadi kerisauan masyarakat?

Agaknya, era ketika kita memandang gerakan mahasiswa sebagai gerakan politik, sudah saatnya direnungi ulang. Semakin bernuansa politik, semakin jauh sasaran dari jangkauan. Bukankah hakikat gerakan mahasiswa pada umumnya adaiah untuk menuntut keadaan yang lebih baik, bukan perubahan untuk perubahan. Paling tidak, harus ada kaji ulang terhadap tujuan peran, sebab menerobos dinding-dinding bkokrasi tidak bisa dengan pendekatan win-lose tetapi harus win-win. Gerakan mahasiswa dengan menggunakan pendekatan kemitraan melalui lobi dan argumentasi, akan lebih banyak mencapai sasaran.

Dengan pendekatan lobi dan argumentasi, pemerintah, saya kira, akan sangat tertolong, terutama apabila kampus bersedia memerankan dirinya sebagai motivator dan inovator di tengah masyarakat.

Pekanbaru, 18 Desember 1997


Tulisan ini sudah di baca 150 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Suara dari Gedung Lancang Kuning

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Suara-dari-Gedung-Lancang-Kuning/34-Mencari-Format-Partisipasi-gerakan-Mahasiswa.html